BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Tampilkan postingan dengan label Tradisi - Kultur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi - Kultur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

ASAL USUL MINUMAN TEH

Bangsa China telah minum teh selama 5.000 tahun. Asal mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung (diucapkan: 'Shay-Nung'). Penemuan teh olehnya belum ditempatkan secara tepat dalam sejarah, yaitu pada tahun 2737 Sebelum Masehi.

Selama ribuan tahun, bangsa China meminum teh untuk kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap dari Camellia sinensis , tetapi legenda populer dapat memberi pengetahuan kepada kita.

Pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan mengambil air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan jatuh di panci berisi air mendidih tersebut. Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman tersebut. Kaisar menemukan air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.

Legenda dari India menghubungkan penemuan teh dengan biarawan Bodhidharma. Sang biarawan sangat kelelahan setelah mengakhiri pertapaannya selama 7 tahun. Dalam keputusasaan dia mengunyah beberapa daun yang tumbuh didekatnya, yang dengan serta-merta menyegarkannya kembali.

India saat ini merupakan penghasil teh terbesar di dunia, tetapi tidak ada catatan sejarah mengenai minum teh di India sebelum abad kesembilan belas. Eksperimen dari Bodhidharma mengunyah teh tidak pernah disebarkan kepada masyarakat umum pada saat itu.

Mitologi lain dari Jepang mengenai biarawan yang bertapa, Bodhidharma, menjelaskan bagaimana ia membuang kelopak matanya yang berat ke tanah karena merasa frustasi tidak mampu untuk tetap terjaga. Pohon teh tumbuh di mana ia membuang kelopak matanya. Dedaunan dari pohon yang baru tumbuh ini secara ajaib menyembuhkan kepenatannya.

Teh bukan asli dari Jepang, maka mitologi ini tidak memberikan penjelasan untuk keberadaanya secara mendadak di Jepang. Realitanya kurang beragam: di awal abad kesembilan, seorang biarawan dari Jepang yang pulang dari pengembaraan, bernama Dengyo Daishi membawa biji tanaman teh dari Tiongkok.

Metode pembuatan teh dengan panci terbuka yang diperkenalkan oleh Kaisar Shen Nung terbukti setelah sekian lama waktu berjalan. Hal tersebut membutuhkan waktu 4.000 tahun sebelum metode pembuatan teh yang kita kenal sekarang dikembangkan.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), bangsa Tiongkok mulai membuat teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat penuang anggur tradisional dari Tiongkok yang menggunakan penutup menjadi teko teh yang sempurna.

Pengertian "Teh"
'Teh' dengan segala variasinya di dunia dalam pengejaan dan pengucapan berasal dari sumber tunggal. "Te", berarti "the" dalam dialek China Amoy. Bahasa China nasional dari kata teh, "cha", juga menghasilkan beberapa turunan kata lain di dunia.

Teh masuk ke Eropa pada awal abad ketujuhbelas. Dibandingkan kelebihan teh dalam hal pengobatan, bangsa Eropa lebih memilih aroma kopi. Hanya diantara beberapa golongan kecil dari kaum bangsawan, yang mempopulerkan teh.

Masuknya Teh Ke Eropa
Pada awal abad ketujuh belas, pedagang dari bangsa Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropa. Pedagang Portugis mengirimkan dengan kapal dari pelabuhan China, Macau, sedangkan pedagang Belanda membawanya dari Indonesia ke Eropa.

Minuman baru yang datang bersamaan dengan muatan sutera dan rempah-rempah ini tidak mengalami sukses dalam sekejap. Bangsa Eropa mencicipi teh, tetapi mereka lebih memilih aroma kopi. Sedangkan pedagang Inggris menunggu hingga tahun 1652 sebelum akhirnya mulai memperdagangkan teh.

Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh. Teh yang mereka konsumsi datang melalui jalur darat dari Cina menggunakan kereta yang ditarik oleh unta. Ketika penggemar teh di Rusia meningkat, barisan unta yang membawa teh semakin memanjang.

Pada akhir abad kedelapan belas, beberapa ribu kereta yang ditarik unta, kira-kira 200-300 kereta pada satu saat menyeberangi perbatasan China. Jalur kereta api lintas Siberia menggantikan kereta yang ditarik unta, tetapi perjalanan romantik tersebut menyisakan ingatan yang popular atas campuran lembut teh hitam China yang terkenal sebagai Karavan Rusia.

Kemajuan Teh Melalui Kerajaan
Pada abad ketujuhbelas di Eropa, tak satupun yang menolong penjualan teh selain pelanggan dari keluarga kerajaan.

Acara minum teh menjadi istimewa pada tahun 1662, ketika Raja Charles II dari Inggris menikah dengan Catherine dari Braganza, seorang putri berkebangsaan Portugis dan seorang penggemar teh. Catherine mengawali tradisi minum teh dalam istana, dengan menggunakan mangkuk dan teko teh transparan buatan China – dan segera para anggota istana lain mengikuti caranya.

Pada saat itu harga teh dinilai mahal, namun sekarang sudah menjadi umum. Seketika teh menjadi mode dan eksklusif. Menurut sudut pandang kaum bangsawan, hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik.

Pada abad ke-17, di Eropa, teh merupakan produk praktis yang memiliki kegunaan besar. Kebanyakan air tidak layak diminum. Bagi yang ingin menghindari penyakit, pilihan yang ada tidak membangkitkan semangat: secangkir air mendidih, atau bir yang cukup kuat untuk membunuh bakteri.

Di Inggris dan beberapa negara, dimana bir adalah minuman yang umum untuk sarapan, teh menjadi altenatif lain yang disambut baik. Pada akhirnya teh menjadi pemuas dahaga yang hangat dan menyegarkan, penuh rasa, dan aman untuk diminum.

Pada abad ke-18, di keluarga kaya, minum teh merupakan acara dalam perayaan besar. Daun teh yang bernilai tinggi seringkali disimpan dalam kotak penyimpanan yang berkunci, dimana hanya ada satu kunci.

Sekali atau dua kali dalam seminggu, nyonya rumah akan membuka kuncinya dan menghidangkan teh untuk suguhan dalam keluarga, atau untuk memberi kesan pada tamu istimewa.

Teh disajikan dengan porselin yang memiliki mutu baik, yang menandakan tingkat kekayaan, selain untuk menambah arti dari perayaan. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi para wanita untuk memamerkan kulit mereka yang pucat dan struktur tulang yang lembut dibandingkan porselin China. Dua atribut ini merupakan tolok ukur kemurnian seorang wanita pada saat itu.

Kehidupan sosial pada awal pertengahan abad ke-18 beralih dari kebiasaan seperti kedai kopi digantikan dengan kebun teh. Kebun teh menjadi seperti surga: pohon-pohon di tepian jalan, lentera yang menerangi jalan setapak, musik, tarian, kembang api, dan makanan enak ditemani dengan secangkir teh yang nikmat.

Kebun teh tidak hanya tempat yang menyenangkan, tetapi juga merupakan tempat untuk pertemuan sosial. Di tempat eksotis ini, keluarga kerajaan dan rakyat biasa dapat berjalan bersama.

Konsumsi teh meningkat secara dramatis selama awal abad ke-19. Mode dan penurunan harga membangun pasar yang sulit dipenuhi oleh para pemasok barang. Untuk menerobos monopoli dari China, perdagangan teh beralih ke India untuk mengisi kesenjangan.

Masuknya "Teh" Ke India
Ketika konsumsi teh meningkat pada awal abad ke-19, Perusahaan India Timur mencari sumber persediaan baru. Sejak bangsa China memonopoli penamanan teh, solusinya adalah dengan menanam teh dimana-mana.

Percobaan pertama dengan bibit teh dari China dikelola di Assam, timur laut India. Tetapi eksperimen ini tidak berhasil, meskipun bibit yang sama tumbuh dengan baik di Darjeeling, India bagian utara.

Kemudian pada tahun 1820, para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan tumbuhan lokal yang belum teridentifikasi. Mereka mengirim contoh daun ke London untuk dianalisis. Contoh daun tersebut dengan segera dikenali sebagai teh – tanaman yang pada mulanya tidak dikenal di India – kemudian lahirlah industri teh India. [Yenny Jie, Palangkaraya, Tionghoanews]
Selanjutnya ->

Senin, 13 Juni 2011

IKAN 'CENG CUAN' MASAKAN KHAS CHINA BENTENG

Di masa lalu, Kota Tangerang disebut Benteng, mengacu pada hadirnya sebuah benteng besar yang dibangun Belanda di tepi Sungai Cisadane. Benteng itu berfungsi sebagai pos pengintai dan pengamatan untuk mengamankan Batavia dari serangan balatentara Sultan Banten.

China Benteng juga istilah yang mengacu pada kaum keturunan Tionghoa penghuni Benteng dan sekitarnya. Padahal, menurut kitab sejarah Tina Layang Parahyang, kehadiran kaum Tionghoa di daerah itu sudah ada sejak awal abad ke-15. Para perantau Hokkian itu bermukim di muara Sungai Cisadane, daerah yang hingga kini masih dikenal dengan sebutan Teluk Naga.

Kehadiran kaum keturunan Tionghoa yang sudah lebih dari enam abad di sana dengan sendirinya juga telah meninggalkan jejak kuliner yang nyata. Salah satu masakan Peranakan Tionghoa yang hingga kini masih eksis di Tangerang adalah ikan ceng cuan. Kaum keturunan Tionghoa di Tangerang pun tidak ada yang tahu apa arti ceng cuan ini. Tetapi, umumnya mereka yakin bahwa ikan masak ceng cuan ini adalah hidangan sehari-hari - bukan jenis masakan yang hanya tampil pada perayaan atau pesta-pesta.

Kaum keturunan Tionghoa umumnya memasak ceng cuan dari ikan samge (ikan alu-alu = ikan kacang-kacang = barakuda). Pada hari-hari perayaan, mereka menggunakan ikan bandeng yang dalam budaya Betawi selalu dianggap sebagai ikan yang mewah. Tetapi, umumnya, ikan tenggiri juga sering digunakan untuk memasak ceng cuan.

Bumbu utama ikan ceng cuan adalah tauco dan kecap manis. Harap diingat, Tangerang dari dulu memang dikenal sebagai penghasil kecap manis dan tauco yang terkenal. Hingga kini, istilah Kecap Benteng masih tetap dipakai untuk menyebut kecap manis buatan Tangerang. Beberapa merk lama juga masih eksis hingga sekarang, dan masih pula dengan teknik serta proses pembuatan cara dulu.

Ikannya digoreng dulu, dan kemudian dimasak dalam kuah tauco dan kecap manis itu. Nada-nada cabe, jahe, bawang merah, dan bawang putih tampil bareng menciptakan citarasa yang sungguh gurih dan segar. Biasanya, bila saya disuguhi ikan ceng cuan dengan nasi putih, saya tidak rela citarasa khas ini "diganggu" dengan masakan lain. Artinya, ikan ceng cuan dimakan sebagai lauk tunggal. Mak nyuss!

Di kalangan keturunan Tionghoa di Tangerang, ikan ceng cuan hingga kini masih cukup dikenal dan disukai. Maklum, selain membuatnya cukup mudah, masakan ini memang cocok di lidah, dan disukai segala usia.

Satu lapak makanan di Pasar Lama Tangerang merupakan salah satu tempat favorit saya untuk menemukan masakan khas Peranakan ini. [Antony Ong, Tangerang - tionghoanews.com]
Selanjutnya ->

Minggu, 12 Juni 2011

TRADISI TIONGHOA KETIKA BERKABUNG

Dalam adat tradisional Tionghoa mengenai kematian, sering kita lihat keluarga yang ditinggalkan mendiang akan mengenakan pangkat di lengan atau di topi. Apa perbedaan masing-masing pangkat? Apa maknanya?

Dalam tradisi kematian orang Tionghoa memang banyak pernak-pernik simbolisasi. Pangkat di lengan anggota keluarga yang ditinggalkan bermacam-macam, namun pada dasarnya adalah kain goni, kain polos warna biru tua, biru muda, kuning maupun merah muda. Sebenarnya pangkat di lengan ini adalah penyederhanaan dari pernak-pernik ritual asalnya. Ini erat kaitannya karena di Indonesia beriklim tropis sehingga tidak cocok mengenakan baju berlapis-lapis.

2500 tahun lalu pada zaman Zhou, anggota keluarga yang ditinggalkan harus mengenakan pakaian dari kain goni dan pakaian warna lainnya selama bertahun-tahun sesuai tingkat hubungan dengan mendiang. Anak kandung harus mengenakan baju berkabung selama 3 tahun berturut-turut, anak perempuan yang telah menikah boleh menanggalkan baju berkabung setelah 1 tahun, cucu-cucu dan keponakan/kemenakan boleh menanggalkan baju berkabung setelah 3 bulan. Seluruhnya ada 5 tingkat dengan jangka waktu dan tingkatan perkabungan yang berbeda-beda. Di masa berikutnya, ritual ini mengalami penyederhanaan.

Sekarang ini, yang sering ditemukan di Indonesia adalah anggota keluarga yang berkabung memakai pakaian putih-putih dari kain blacu lalu mengenakan pangkat di lengan. Ada keluarga yang mengenakan dengan aturan "laki-laki di kiri, perempuan di kanan", namun ada pula yang mengenakan secara seragam di kiri atau di kanan saja. Ini adalah penyederhanaan dari ritual ribuan tahun lalu, yang diharuskan mengenakan baju dari kain goni sebagai tanda berkabung.

Perbedaan dan tingkat generasi dari masing-masing pangkat?

Pada dasarnya ada 6 jenis pangkat di lengan atau di topi bagi anggota keluarga dekat dari mendiang:
  • Potongan goni kasar, untuk anak laki-laki dan menantu perempuan.
  • Potongan goni halus, untuk anak perempuan yang telah menikah keluar.
  • Potongan kain biru tua, untuk cucu dalam (anak dari anak laki-laki).
  • Potongan kain biru muda, untuk cucu luar (anak dari anak perempuan).
  • Baju kaos berwarna kuning, untuk cicit dalam (cucu dari anak laki-laki).
  • Baju kaos berwarna merah muda, untuk cicit luar (cucu dari anak perempuan).
Tambahan, dalam keluarga tertentu, bila mendiang mempunyai cicit biasanya pada prosesi pemakamannya dilengkapi dengan sebuah kereta tandu dari kertas dengan 4 orang cicit sebagai penandu. 2 orang cicit dalam di depan dan 2 orang cicit luar di belakang, penandu harus merupakan cicit laki-laki. Saya sendiri punya pengalaman menjadi penandu di depan bersama adik laki-laki saya sepeninggal kakek dan nenek buyut. Namun tentunya karena jarak antara rumah duka dan pemakaman relatif dekat, bila jauh sekali tetap saja tandu harus diikat di mobil jenis pick-up untuk diantar sampai ke pemakaman.

* Ada pula pangkat lain untuk anggota keluarga yang lebih jauh.

- Potongan goni halus tambah kain biru tua, untuk keponakan (yang semarga dengan mendiang).
- Potongan goni halus tambah kain biru muda, untuk keponakan (yang tidak semarga dengan mendiang).
- Baju kaos berwarna biru, untuk anak dari keponakan.
- Baju kaos berwarna kuning, untuk cucu dari keponakan.

Lebih kurang seperti di atas, namun pada suku-suku tertentu atau keluarga tertentu ada perbedaan sedikit di dalam realisasinya.

* Bila telah memeluk agama lain, apakah tradisi ini harus ditinggalkan?

Ini adalah sebuah peninggalan budaya, ritual budaya, jadi tidak ada hubungannya dengan ritual keagamaan sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan warisan tradisi ini. Tradisi khas ini menunjukkan bakti dari anggota keluarga yang ditinggalkan kepada mendiang.

Presiden ROC (Taiwan), Chiang Kai-shek dan Chiang Ching-kuo adalah\npemeluk agama Kristen yang taat, pada masa perkabungan mereka, seluruh instansi pemerintah dan rakyat yang ikut berkabung mengenakan kain pangkat sebagai tanda berkabung sepeninggal mereka. Demikian pula sepeninggal Mao Zedong atau Zhou Enlai, banyak rakyat yang mengenakan pangkat seperti ini sebagai ungkapan tanda belasungkawa. Jadi tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Analoginya adalah pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di Indonesia. Saya melihat terkadang ada orang Tionghoa yang telah menganut agama lain lalu merasa segala tradisi kuno leluhur harus ditinggalkan karena tidak bersesuaian dengan agama yang dianutnya. Menurut saya, ini adalah sedikit pemikiran kebablasan dikarenakan ketidak mengertian akan makna dari tradisi Tionghoa. [Rinto Jiang, Jakarta - tionghoanews.com]
Selanjutnya ->

DAU BANJIANG, MASAKAN BUMBU PASTA CABAI DI SICHUAN CHINA

Doubanjiang adalah pasta cabai untuk masakan Cina, dan merupakan bumbu dapur yang utama dalam masakan Sichuan. Rasanya asin dan pedas. Bahan utamanya berupa kacang babi yang dihaluskan dan difermentasi.

Selain kacang babi, doubanjiang dibuat dari campuran kedelai, beras, minyak kedelai, minyak wijen, garam dapur, dan rempah-rempah.

Pusat produksi doubanjiang berada di Provinsi Sichuan, salah satu di antaranya adalah Prefektur Pi Xian. Produknya disebut pixian doubanjiang.

Bumbu masak ini semakin pedas bila digoreng dalam minyak goreng. Setelah digoreng, doubanjiang sering dijadikan lauk untuk makan nasi atau penyedap sewaktu makan mi.

Masakan populer dari Sichuan yang memakai doubanjiang, misalnya: mapo doufu dan dandan mian.

Doubanjiang produksi Cina tidak selalu pedas. Walaupun dibuat hanya dari kedelai dan garam (tanpa bubuk cabai merah), produsen tetap menyebutnya sebagai doubanjiang. (Meilinda Chen, Jakarta - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

TRADISI TELUR MERAH DAN JAHE

Budaya orang Tionghoa, bayi yang berumur satu bulan patut dirayakan. Orang tua yang berbahagia akan memperkenalkan kehadiran momongan baru mereka kepada teman dan sanak saudara, sambil merayakan sebuah pesta telur merah dan jahe. Secara tradisi, nama bayi tersebut juga akan diberitahukan pada saat itu juga.

"Tamu tamu yang menghadiri pesta telur merah dan jahe itu akan membawakan berbagai kado.  Angpao selalu diberikan kepada bayi laki-laki, sementara bayi perempuan akan mendapatkan berbagai perhiasan mahal. Para tamu undangan tidak meninggalkan pesta dengan tangan yang kosong. Orang tua sang bayi akan memberikan telur merah kepada mereka menandakan kebahagiaan dan sebuah permulaan hidup yang baru dengan hadirnya sang bayi," kata Agus Tan, tokoh masyarakat Tionghoa yang tinggal di Pelantar IV Tanjungpinang, kemarin.

Menurut dia, Pesta telur merah dan jahe berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke-20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuat pesta untuk merayakan hal itu.

Secara tradisi, lanjut Agus, masa nifas (umur bayi satu bulan/ibu istirahat satu bulan setelah melahirkan tanpa keluar rumah)  ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan kembali sang ibu kepada masyarakat luar. Orang Tionghoa percaya bahwa ibu-ibu berada dalam kondisi tubuh paling lemah sepanjang masa hidupnya sehabis melahirkan.

Sama seperti adat orang Inggris yang meminta ibu-ibu istirahat untuk beberapa waktu sehabis persalinan. Ibu ibu orang Tionghoa secara tradisional juga melakukan hal serupa. Selama sebulan setelah melahirkan para ibu dilarang ke luar rumah.

"Ini untuk memastikan agar mereka tidak jatuh dalam kondisi yang terlalu lelah, atau tidak terjangkiti oleh berbagai kuman penyakit. Selain beristirahat, mereka minum sup daging hasil rebusan dari kaki babi, telur, cuka dan jahe. Kebanyakan ibu ibu muda masih mengikuti cara ini sampai sekarang," ungkap Agus.

Pada zaman dulu, kata dia, pesta telur merah dan jahe kadang-kadang hanya dirayakan untuk menyambut kelahiran bayi laki-laki saja. Tapi sekarang, pesta tersebut juga dirayakan untuk kelahiran bayi perempuan. [Ing Ing, Tanjung Pinang - tionghoanews.com]
Selanjutnya ->

Sabtu, 11 Juni 2011

ASAL MUASAL TANDU PENGANTIN CINA

Tandu merupakan salah satu kendaraan yang sering digunakan pada jaman dahulu oleh orang-orang Tionghoa yang kaya, sedangkan yang kurang mampu biasanya naik keledai atau berjalan kaki.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri jika naik tandu dibandingkan keledai yang seringkali ribut. Pada perayaan-perayaan tertentu, seperti pesta pernikahan, tandu digunakan untuk menghantar pengantin wanita ke rumah pengantin pria, baik oleh orang kaya maupun orang miskin.

Ada asal usul mengapa tandu digunakan pada pesta pernikahan.

Terdapat seorang kaisar bijaksana yang sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Suatu saat sang kaisar dan para anak buahnya sedang berlalu di sebuah perbukitan, tiba-tiba pemandu memberi tahu bahwa iring-iringan akan terhalang oleh iring-iringan lain.

Maka sang kaisar keluar dari tandu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebuah iring-iringan pernikahan penuh kegembiraan sedang berjalan dengan pengantin wanita mengendarai keledai. Melihat kejadian menggembirakan itu, sang kaisar turut bergembira.

Pada saat kedua rombongan bertemu, rombongan pengantin wanita yang tidak mengetahui bahwa rombongan didepan adalah rombongan kaisar, tidak bersedia mengalah, demikian pula rombongan sang kaisar.

Akhirnya sang kaisar menemukan sebuah ide, ia berkata kepada pengantin wanita, "Tidak hanya aku akan memberikan jalan kepadamu, aku juga akan meminjamkan tanduku jika kamu bisa membuat puisi saat ini juga."

Pengantin wanita lalu berpuisi, "Melihat rombonganmu, melihat rombonganku. Bukan masalah siapakah pemilik jalan ini. Melihat tandumu, melihat keledaiku. Tidak peduli manakah yang terbaik untuk pesta pernikahanku. Anda haruslah bermurah hati dengan meminjamkan tandu anda. Siapa dapat berkata bahwa saya adalah orang sederhana dan anda orang terhormat. Tidak ada perbedaan disini, hanya sekelompok orang yang ada."

Sang kaisar sangat terkesan dengan puisi itu, sehingga ia meminjamkan tandunya. Adanya hal itu membuat pesta pernikahan yang ada menjadi semakin menarik perhatian orang ramai.

Sejak itu, setiap pesta pernikahan selalu menggunakan tandu, meskipun terkadang hanya sebuah tandu sederhana.

Meskipun saat ini sudah sangat jarang pesta pernikahan yang menggunakan tandu, namun tandu tetap digunakan pada perayaan-perayaan tradisional. (Li Hua, Sambas - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

Selasa, 07 Juni 2011

TRADISI CUKUR RAMBUT BOTAK KALANGAN TIONGHOA

Tradisi mencukur rambut bagi bayi ternyata dikenal di beberapa agama dan kepercayaan. Di agama Hindu misalnya, tradisi ini diberi nama upacara mundan yang dianggap sebagai upacara penyucian. Sedangkan di masyarakat Tionghoa, tradisi mencukur rambut bayi disebut Mun Yuet, yang dilakukan saat bayi berusia satu bulan.

"Upacara itu (mencukur rambut) diharapkan kelak karma buruk dari reinkarnasi masa lampau tidak ikut terbawa di kehidupan bayi yang sekarang. Si jabang bayi diharapkan pula terlahir sebagai orang baik untuk saat ini dan nanti," ujar tokoh spiritual Tionghoa Solo, Romo Djoenaidi, pekan kemarin.

Ditambahkan Romo Djoenaidi, tradisi ini juga dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang maha kuasa, agar pula kesejahteraan dan keselamatan selalu menaungi sang bayi di kehidupannya.

Untuk saat ini memang tidak banyak dari umat Tionghoa yang masih melaksanakan tradisi Mun Yuet. Kebanyakan dari mereka yang masih menjalankan tradisi ini adalah para penganut kepercayaan adat istiadat keagamaan. "Yang tidak melaksanakan mungkin mereka kurang mengerti dengan makna dari upacara Mun Yuet sendiri," kata Romo Djoenaidi.

Setelah tradisi Mun Yuet digelar, kemudian dilanjutkan dengan tradisi hantaran makanan (membagi-bagi makanan) yang diberikan kepada tetangga dan sanak saudara. Di tradisi ini makanan yang diberikan beraneka ragam sebagai simbol dan memiliki makna. Hal ini sedikit berbeda dengan tradisi Jawa yang membagi-bagikan makanan berupa urap-urapan atau sayur-sayuran hijau.

Makanan di tradisi hantaran setelah upacara Mun Yuet di antaranya, pertama, pisang dua buah yang masih tergandeng. Ini sebagai simbol keutuhan keluarga yang memiliki hajatan. "Kedua pisang dalam tradisi tidak boleh putus dan harus tetap tergandeng," kata Romo Djoenaidi.

Kedua, yaitu satu butir telur yang diberi warna merah. Merah sendiri bagi masyarakat Tionghoa merupakan perlambang kebahagiaan, seperti halnya warna merah menyala saat perayaan Imlek. "Harapannya dengan membagikan telur warna merah, kebahagiaan selalu menyertai kehidupan keluarga yang bersangkutan," jelas Romo Djoenaidi.

Makanan ketiga yaitu kue ku atau kue kura-kura yang memiliki simbol panjang umur. Selain itu pasangan keluarga diharapkan selalu sukses dan banyak rezeki di kehidupannya. Kue jenis ini berbentuk bulat-bulat dan disusun rapi saat dibagikan. "Harapannya, ya seluruh keluarga panjang umur dan banyak rezeki," kata Romo Djoenaidi. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
Selanjutnya ->

RIBUAN WARGA PONTIANAK MANDI USHI

Ribuan warga Tionghoa di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melakukan tradisi mandi tengah hari atau mandi U-Shi, bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 Imlek di Sungai Kapuas karena diyakini dapat membawa keberuntungan dan membuang sial.

"Setiap tahun saya dan keluarga selalu mandi di Sungai Kapuas untuk membuang sial pada diri sendiri dan keluarga," kata Ji Song (40) warga Gang Selat Sumba, Siantan di Pontianak, Senin.

Ia menjelaskan, tradisi mandi U-Shi sudah dilakukan turun-temurun sejak nenek moyangnya sehingga dia dan keluarga juga turut serta melestarikan budaya leluhurnya itu.

"Selain mandi, saya juga menyimpan air mandi ini (air Sungai Kapuas) agar sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mandi kembang dan mengusir roh jahat," kata Ji Song.

Hal senada juga diakui oleh Amin (45) warga Darma Bhakti Siantan Tengah. Dia dan keluarganya sebelum melakukan mandi U-Shi diawali dengan sembahyang di kelenteng memohon agar diberikan keberuntungan dan dihindarkan dari segala macam penyakit hingga satu tahun ke depan. "Biasanya kalau sudah mandi U-Shi kalau kita yakin pasti apa yang kita harapkan dikabulkan," ujarnya.

Pengurus Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak Tjeng Tiau Sui (60) mengatakan, tradisi mandi sebelumnya melakukan makan besar yakni makan kue bakcang.

"Tujuannya agar di masa mendatang bisa mendapatkan keberuntungannya. Tradisi mandi Bakcang dimulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB kalau lebih dari itu sudah tidak boleh lagi karena dipercaya air yang digunakan untuk mandi sudah kemasukan roh jahat," katanya.

Menurut Lie Sau Fat atau XF Asali, seorang tokoh Tionghoa di Pontianak, kalangan tabib Tionghoa juga menggunakan air sungai yang mengalir antara pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB itu untuk campuran ramuan obat.

Dia mengatakan, tradisi mandi di sungai pada tanggal 5 bulan 5 itu sudah diwarisi warga tiongoa secara turun-temurun. Namun selama ini tradisi itu tidak terlalu diketahui banyak orang. Hanya kalangan keluarga yang sudah mengamalkan dan mengetahui dari orang-ornag tua saja yang melakukannya.

Sementara ada yang menyebut tradisi itu sebagai Festival bakcang, yang salah satu kegiatannya dengan mandi tengah hari.

Tradisi mandi itu untuk mengenang Qu Yuan seorang pujangga terhormat yang mengakhiri hidupnya dengan cara sangat memilukan yakni terjun ke Sungai Mu luo.

Pujangga (Qu Yuan) yang setia dan berjiwa patriot itu terjun ke Sungai Mu Luo karena merasa kecewa dengan pemerintahan Raja Xiang. Ia diusir dari kerajaan atas hasutan dari sang durjana, Zi Lan. Lalu mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Mu luo.

Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar sungai itu khawatir ikan atau udang akan mematuk jenazah Qu Yuan, lalu segera membungkus nasi dengan daun seperti Bakcang dan membuang ke sungai agar jadi makanan ikan dan udang, sehingga jenazah Qu Yuan tetap utuh.

Dari lapangan ribuan warga Tionghoa Kota Pontianak baik tua dan muda mulai pukul 12.00 WIB berlomba-lomba mandi di Sungai Kapuas untuk membersihkan diri dan berharap mendapat berkah. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
Selanjutnya ->

Senin, 06 Juni 2011

TAUCANG, GAYA KUNCIR RAMBUT DINASTI QING

Kuncir (taucang) pria Tionghoa di zaman dulu hanya ada di zaman Qing (1644 – 1911). Kuncir ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari mode rambut orang Manchuria. Batok kepala dibagi 2, depan dan belakang. 1/2 bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di 1/2 bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir (diikat)

Asal mula kuncir menjadi tradisi mode orang Manchuria menurut catatan sebuah buku mengenai orang Manchu yang pernah saya baca adalah dikarenakan kebiasaan dan budaya orang Manchu. Orang Manchu berasal dari Tiongkok Timur Laut dekat perbatasan Korea. Asalnya dari suku Nujen, suku ini salah satu suku dalam Dinasti Ming. Suku Nujen asalnya dari Kerajaan Kim. Kerajaan Kim ini adalah kerajaan yang disinggung dalam Pendekar Pemanah Rajawali-nya Jin Yong yang mengambil latar belakang sejarah Dinasti Song.

Orang Manchuria bersama orang Mongol adalah sama2 suku bangsa yang mahir berkuda. Untuk memudahkan, maka rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat, bila tidak, rambut akan tertiup angin kencang ke sana kemari. Orang Mongol juga punya kebiasaan menguncir rambut karena kebiasaan berkuda ini.

Orang Han tidak seberapa mahir berkuda dibandingkan Mongol dan Manchuria. Orang Han yang berkuda biasanya cuma memakai serban (sarung ikat kepala) untuk mengikat rambut mereka. Lama kelamaan, tradisi menguncir rambut ini menjadi kebiasaan dan budaya orang Manchuria.

Kaisar ketiga Dinasti Qing, Sunzi atas bantuan Wu San-gui berhasil menerobos Tembok Besar dan menguasai Beijing tahun 1644. Untuk memperkuat legitimasi penaklukan atas orang Han, Sunzi memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambutnya sesuai tradisi kuncir orang Manchuria. Banyak yang melawan perintah ini dan harus dipenggal. Semboyan waktu itu adalah "ingin rambut, penggal kepala; ingin kepala, pangkas rambut". Banyak juga yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan.

Ini sebabnya mengapa ada orang Tionghoa yang ber-toucang, ada yang tidak di Indonesia. Yang ber-taucang adalah yang datang antara abad 18 sampai awal abad 20. Yang datang sebelumnya tidak mengenal cara ber-taucang dan yang sesudahnya sudah meninggalkan tradisi ber-taucang.

Penghujung abad 19 dan awal abad 20. Korupsi di dalam birokrasi dan penjajahan setengah oleh bangsa Barat menjadikan Tiongkok menjadi bangsa yang lemah. Tahun 1911, Sun Yat-sen melancarkan revolusi Xinhai dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing. Sun Yat-sen adalah salah satu yang menolak berkuncir sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah Republik China berdiri, otomatis tradisi kuncir ini juga hilang dengan sendirinya pada orang Manchuria sekalipun. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Susanti Tan, Surabaya
Selanjutnya ->

CHAN ZU, MENJADI TRADISI WANITA TIONGKOK DULU

Tradisi mengikat kaki (Chan Zu) adalah tradisi yang dipraktikkan kepada wanita sebelum awal abad-20. Asal-usul praktik ini tak diketahui secara jelas, namun diperkirakan tradisi ini telah mulai ada sejak zaman Dinasti Xia. Catatan sejarah mengenai tradisi ini mulai ditemukan sejak zaman Dinasti Song.

Tradisi ini dibangun atas dasar pandangan masyarakat bahwa berkaki kecil adalah lambang kecantikan seorang wanita. Di zaman Dinasti Song, tradisi ini hanya dipraktikkan oleh wanita dari kelas menengah dan atas. Sampai pada zaman Dinasti Ming baru dipraktikkan secara luas oleh wanita dari suku Han. Tentunya ada beberapa pengecualian di beberapa etnis tertentu semisal etnis Hakka di mana kaum wanitanya harus turun membantu di ladang.

Di zaman Dinasti Qing, kekaisaran mengeluarkan beberapa kali larangan untuk mengikat kaki, namun karena pengaruh tradisi ini sangat dalam sehingga larangan ini tidak begitu diindahkan di kalangan suku Han. Sedangkan tradisi ini tidak begitu populer di kalangan suku Manchu.

Pengikatan kaki biasanya telah mulai diterapkan pada anak perempuan yang telah mencapai umur 5-8 tahun. Pengikatan kaki ini dilakukan ibu sang anak atau para dayang-dayang yang berpengalaman.

Kecuali jari jempol, keempat jari lainnya diikat ke bawah telapak kaki dengan kain panjang. Kain panjang tadi kemudian dijahit untuk mencegah pertumbuhan keempat jari tadi yang selanjutnya memengaruhi pertumbuhan telapak kaki.

Tradisi mengikat kaki berdasar kepada beberapa latar belakang budaya di zaman kuno di Cina. Ini yang menyebabkan walaupun praktik ini sangat tidak manusiawi terhadap wanita, namun tetap dapat bertahan selama ribuan tahun dalam sejarah kebudayaan Cina.

Beberapa unsur budaya yang melatar-belakangi tradisi ini adalah: "Kecantikan, Moral, Etnis dan Seksualitas".

Dinasti Qing merupakan dinasti pertama yang mengeluarkan peraturan larangan terhadap tradisi ini. Namun karena kuatnya akar tradisi ini di kalangan suku Han, maka larangan ini tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Wanita dari beberapa kalangan seperti etnis Hakka yang diharuskan turun ke ladang untuk bercocok tanam tidak melaksanakan tradisi ini. Wanita dari suku Manchu juga tidak menerapkan tradisi ini secara luas.

Sebelumnya, di zaman Dinasti Song dan Ming, ada beberapa sastrawan dan cendekiawan menyatakan keberatan mereka atas tradisi ini dalam beberapa tulisan sastra.

Pemberontakan Taiping juga melarang dengan tegas tradisi mengikat kaki ini dikarenakan pemberontakan ini berazaskan ajaran Kristiani yang menolak banyak tradisi Cina yang dianggap kuno. Di samping itu, pemberontakan Taiping juga didominasi oleh etnis Hakka.

Di penghujung Dinasti Qing, banyak cendekiawan dan negarawan yang menganggap bahwa tradisi ini merupakan penghambat bagi kemajuan bangsa Cina karena melemahkan kedudukan dan kontribusi wanita dalam masyarakat.

Setelah jatuhnya Dinasti Qing dan berdirinya Republik Cina pada tahun 1911, tradisi ini mulai ditinggalkan oleh wanita di kota besar di pesisir. Ini kemudian pelan-pelan menjalar ke pedalaman. Sampai pada tahun 1950-an, hanya tinggal beberapa dusun di Yunnan di mana kaum wanitanya masih menerapkan tradisi ini.

Di Taiwan sendiri, sewaktu zaman pendudukan Jepang, tradisi ini bersama dengan tradisi toucang dan mengisap candu dianggap sebagai 3 tradisi tidak sehat yang dilarang secara ketat. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
Selanjutnya ->

Minggu, 05 Juni 2011

TRADISI BAKAR-BAKARAN DALAM KEBUDAYAAN TIONGHOA

Leluhur orang Tionghoa sebelum mengenal agama dan filsafat telah terlebih dahulu mengenal penghormatan pada leluhur. Penghormatan leluhur ini kemudian menjadi titik tolak dan dasar daripada kepercayaan tradisional Tionghoa yang muncul lebih dulu daripada semua agama yang ada di Tiongkok. Kepercayaan tradisional pada mulanya hanya mempercayai bahwa ada 2 alam di alam semesta ini, alam langit dan alam manusia. Alam langit merupakan tempat domisili para dewa-dewi yang dimuliakan, mempunyai kontribusi dan jasa yang besar bagi masyarakat pada zamannya. Setelah masuknya Buddhisme, alam baka ditambahkan ke dalam konsep ini, sehingga menjadi 3 alam.

Evolusi kepercayaan tradisional Tionghoa ini kemudian mempercayai bahwa manusia setelah meninggal akan menuju ke alam baka, namun bagi manusia yang dianggap mempunyai kontribusi dan jasa besar bagi masyarakat dapat pengecualian untuk berdomisili di alam langit. Alam langit, alam baka juga dipercaya mempunyai pemerintahan, kehidupan interaksi masyarakat yang mirip dengan alam manusia. Atas dasar kepercayaan inilah, uang emas dan uang perak diciptakan. Uang emas (kim cua) adalah diperuntukkan kepada dewa-dewi di alam langit. Uang perak (gin cua) diperuntukkan kepada roh manusia di alam baka. Uang perak juga diperuntukkan bagi roh manusia yang gentanyangan di alam manusia (hantu).

Mengapa dibakar? Ini dikarenakan kepercayaan bahwa dewa api adalah penghubung antara ketiga alam tadi. Ini lazim di zaman dulu di banyak kebudayaan lainnya di dunia.

Sejak kapan? Tradisi ini tercatat pertama kali dalam literatur sejarah adalah di zaman Dinasti Jin (265 - 420). Di saat itu telah ada pembakaran uang kertas untuk menghormati leluhur. Tradisi ini menjadi tradisi umum di Tiongkok di zaman Dinasti Tang dan Dinasti Song.

Makna dari tradisi bakar-bakaran tetap saja adalah semacam simbolisasi saja. Simbolisasi atas penghormatan leluhur dan dewa-dewi. Dewa-dewi di dalam kebudayaan Tionghoa adalah makhluk adikodrat yang dimanusiakan, dianggap hidup dan bertindak seperti manusia. Itu makanya tidak heran kalau ada dewa yang mempunyai keluarga misalnya Yu Huang Da Di. Itu semuanya hanya untuk mendekatkan dewa-dewi dengan manusia.

Sekarang, tradisi bakar-bakaran tetap saja ada dilaksanakan di sebagian kalangan Tionghoa. Namun pergeseran nilai juga mulai menggeser tradisi ini. Tanpa mengurangi rasa hormat bagi yang percaya, pemerintah Taiwan, HK atau Singapura mulai mendorong kebijakan mengurangi jumlah pembakaran uang kertas ini. Di Taiwan, selain memasyarakatkan semboyan "kurang jumlah, tidak kurang bakti", pemerintah juga bekerjasama dengan kelenteng2 untuk memusatkan pembakaran uang kertas di tempat pembakaran yang ditentukan pemerintah. Banyak kelenteng yang sudah meniadakan kompor2 tempat pembakaran uang kertas. Semua ini tujuannya hanya satu, prevervasi lingkungan.

Orang tua saya masih melaksanakan tradisi ini, demi menghormati mereka, saya cuma menyarankan agar jumlah uang kertas yang dibakar dibatasi dalam jumlah tertentu karena jumlah tidak mewakili besar ketulusan hati. Bagi yang beranggapan membakar uang kertas dalam jumlah besar dapat menyenangkan leluhur atau menunjukkan bakti, lebih baik tunjukkan rasa sayang anda itu semasa leluhur anda masih di dunia.

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email by: Rinto Jiang
Selanjutnya ->

ASAL USUL ADANYA SAM SENG DAN PERSEMBAHAN PADA DEWA

Pada jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Tao Se - Tao Se (Guru-guru Tao) untuk meminta bantuan atau pertolongan. Ada yang menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan penyakit-penyakit serta meminta obat-obatan.
 
Tetapi pada bulan-bulan tertentu Tao Se - Tao Se itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lain-lainnya. Dalam pencarian obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.
 
Untuk itu para Tao Se membuat Sam Seng supaya masyarakat atau orang-orang yang datang dari jauh tidak kecewa karena Tao Se nya tidak berada di tempat.
 
Masyarakat yang tertolong kemudian membawa oleh-oleh untuk Tao Se - Tao Se tersebut sebagai tanda terima kasih. Karena Tao Se - Tao Se tidak berada di tempat, maka diletakkan di atas meja sembahyang. Ada juga yang datang membawa persembahan kepada Dewa.
 
Dari sinilah timbulnya kebiasaan mempersembahkan sesuatu kepada Dewa. Pemberian persembahan kepada Dewa ini kemudian menimbulkan persaingan di antara masyarakat itu sendiri, sehingga timbullah persembahan Sam Seng.
 
Di mana menurut pandangan masyarakat waktu itu Sam Seng mewakili 3 jenis hewan di dunia, yaitu babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk hewan udara. Demikianlah persembahan ini berlangsung secara turun-menurun sampai sekarangpun masih ada.
 
Menurut anda, dapat dibenarkankah persembahan Sam Seng ini?
 
Dalam Tao, Sam Seng tidak digunakan sebagai persembahan kepada Dewa.
 
Apa alasannya?
 
Mari kita pikirkan masing-masing!
 
Jadi cukup dengan buah-buahan saja, antara lain: apel, pear, jeruk, anggur, dll. Yang penting adalah buah-buahan yang segar dan tidak berduri serta serasi dipandang mata.
 
Demikianlah cerita asal usul adanya Sam Seng dan persembahan pada Dewa. (Chen Mei Ing, Jakarta - Tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

BINATANG KEBERUNTUNGAN DALAM KEPERCAYAAN TIONGHOA

Walaupun jaman telah modern tetapi masih banyak masyarakat yang mempercayai hewan-hewan yang membawa keberuntungan bagi kehidupan. Inilah beberapa hewan yang menurut masyarakat membawa keberuntungan.

1. Ikan Arwana

Ikan asli Indonesia ini masih dipilih masyarakat sebagai hewan peliharaan, karena selain membawa keberuntungan juga menunjukan tingkat sosial seseorang. Katanya nilai ikan yang satu ini mencapai puluhan juta karena memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi.

2. Ikan Koi

Ikan ini adalah jenis ikan karper Cyprinus carpio yang dipelihara untuk menghias rumah, berasal dari Tiongkok dan banyak tersebar di Jepang. Mereka berkerabat dekat dengan ikan mas, dan karena itu banyak orang menyebutnya ikan mas koi yang sebenarnya adalah misnomer. Koi dianggap membawa keberuntungan.

3. Kucing

Yang dimaksud kucing di sini mungkin lebih dikhususkan pada sebuah benda/patung berbentuk kucing yang di Jepang disebut “Maneki Neko”. Wujud barang ini rasanya sudah tak asing lagi di toko, restoran, wartel dan sebagainya. Sosok seekor kucing yang duduk tegak dengan satu kaki depannya terangkat bak mengajak orang mendekat.

Hampir semua Maneki Neko mengenakan kalung berwarna merah dengan bel kecil menggantung di bagian depannya. Sebenarnya aksesoris ini cukup umum dikenakan pada kucing-kucing peliharaan keluarga bangsawan di zaman Edo. Selain itu, kalung merah dengan bel kecil ini juga sering menghiasi Jizo, patung-patung batu yang umumnya ditempatkan di sekitar kuil dan pemakaman, dan merupakan pelindung anak-anak sakit.

4. Katak

Mungkin tak semua orang suka pada kodok. Bahkan sebagian orang jijik berdekatan dengan makhluk amfibi ini. Namun pemikiran ini berbeda jika kita bicara soal tradisi masyarakat Jepang. Bagi orang Jepang, justru kodok memiliki arti yang khusus, atau bahkan istimewa.

5. Naga

Naga merupakan hewan yang fiktif atau belum dapat diuji keberadaanya. Namun masyarakat tionghoa mempercayai bahwa hewan yang satu ini membawa berkah dan keberuntungan. Ornamen khas tionghoa banyak yang mengandung unsur naga.

6. Tokek

Hewan ini kebanyakan aktif di saat senja dan malam hari, meski suara panggilannya kadang-kadang terdengar di siang hari. Tokek tinggal di lubang pepohonan di hutan atau di rekahan batuan atau gua, namun sebagian jenisnya juga beradaptasi dengan lingkungan manusia dan bersifat komensal. Tokek memburu aneka serangga dan invertebrata lain sebagai makanannya, walaupun juga tidak segan memangsa vertebrata lain yang lebih kecil ukurannya. Tokek betina biasanya mengeluarkan sepasang telur yang disimpan berlekatan di sudut lubang atau dinding. Tempat menyimpan telur ini biasa digunakan berulang kali oleh tokek yang sama.

7. Louhan

Ikan yang memiliki ornamen tulisan Han di perutnya ini merupakan hewan yang memliki nilai jual tinggi karena dianggap membawa keberuntungan.

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Antony Ong, Tangerang
Selanjutnya ->

Jumat, 03 Juni 2011

FENG SHUI, TRADISI MENENTUKAN POSISI RUMAH

Sejak lama warga etnis Tionghoa di Jambi memiliki tradisi unik dalam mencari posisi rumah atau tempat ibadah yang ideal. Dipimpin seorang suhu, tradisi memanggil Dewa Sam Tai Kong atau Dewa Feng Shui itu belum lama ini dimulai dengan melantunkan doa-doa dalam bahasa Hokkian, diiringi bebunyian yang terus bersahutan.

Setelah patung dewa dipasang di singgasananya, ritual dilanjutkan dengan doa dan wewangian dupa. Biasanya berselang lima menit, singgasana itu akan bergerak. Dipegang dua orang, singgasana akan bergerak. Konon, digerakkan oleh dewa.

Jika Dewa Sam Tai Kong datang dan merestui acara itu, singgasana kemudian akan diam pada satu titik. Dalam pencarian Feng Shui untuk menentukan altar klenteng baru Leng Chun Keng di Jambi, baru-baru ini, ternyata sang dewa tidak muncul.

Urungnya kedatangan Dewa Sam Tai Kong bisa disebabkan berbagai faktor. Misalnya, sesaji kurang, tempat belum layak dihuni karena kotor atau masalah lainnya.

Saat ini tradisi tersebut sangat jarang dilakukan warga Tionghoa di Jambi. Padahal sejak dulu warga Tionghoa meyakini Feng Shui akan memberikan kebajikan. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Lina Wang, Jambi
Selanjutnya ->

TERAPI LEBAH SEMAKIN POPULER DARI TIONGKOK

Terapi lebah dimulai di daratan Tiongkok dan Timur Tengah, khususnya Mesir. Pengobatan tradisional di Tiongkok memiliki umur ribuan tahun sebelum pengobatan modern mulai bangkit di Eropa. Salah satu bentuk modifikasi akupunktur yang populer di dunia saat ini adalah dengan menggunakan jarum sengatan lebah madu yang disebut bee acupuncture (tusuk sengat lebah).

Apiterapi di Indonesia sudah mulai dilakukan sejak tahun 1980-an. Berbagai penelitian dan pelatihan apiterapi diinformasikan ke tengah masyarakat melalui berbagai cara, seperti seminar, lokakarya, kursus, publikasi media massa, dan praktik terapi lebah berupa sengat lebah (Bee Acupunture).

Penerapan terapi Lebah di Indonesia sangat beragam dari yang tradisional sampai dengan yang modern, ada yang menerapkan utuh dan ada yang sebagian saja, seperti hanya menggunakan madu saja namun sengat lebahnya tidak digunakan atau menggunakan sengat lebah untuk penyakit tertentu saja.

Pada Konferensi Terapi Akupunktur Sengatan Lebah Sedunia ke-II di Nanjing, RRC, pada pertengahan September 1993, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui bahwa Apitherapy bisa digunakan sebagaii alternatif pengobatan, selanjutnya disebutkan bahwa, "Lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, terutama dari jenis Apis Mellyfera. Kini, terapi sengatan lebah (bee venom therapy - BVT) diterapkan di berbagai negara, antara lain China, Korea, Rumania, Bulgaria, Rusia, dan Indonesia. Di Indonesia ada beberapa lokasi seperti di Semarang, Malang, Bogor, Depok, Sukabumi, Jakarta (Ph. 021- 860-5606), Manado, Papua dll.

Bahkan di dalam Alqur'an disebutkan dalam surat An-Nahl : 68-69 "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang diibuat manusia". kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berfikir" Apitherapy mengkombinasikan berbagai macam produk lebah dan yang menyertainya yaitu, racun lebah (bee venom), madu (honey), susu lebah (royal jelly), Propolis (perekat sarang lebah) dan sari bunga (pollen). Berikut uraian kandungan kimia dan manfaat dari komponen apitheray bagi kesehatan manusia: Racun Sengat Lebah (bee venom). Secara keseluruhan racun sengat lebah terdiri dari sekitar 120 komponenen kimia aktif, namun baru 40-an komponen yang sudah terdeteksi, diantaranya 11 peptida, 5 enzim, 3 amine, karbohidrat, lemak, dan asam amino. Peptida yang paling berperan adalah melittin, apamin, Mast Cell Degranulating Peptida, dan adolapin. Komponenen zat tersebut akan berfungsi sebagai anti radang, anti jamur, anti bakteri, anti pyretic, serta merangsang hormon ACTH. Hormon ACTH dapat merangsang cortex adrenal untuk memproduksi hormon kortison lebih banyak Enzim utama dalam racun lebah adalah hyaluronidase dan fosfolipase A. Hyaluronidase memecah cairan antar sel sehingga racun lebih cepat menyebar di antara sel, sedangkan fosfolipase A merusak fosfolipid yang menyebabkan kematian sel.

Madu (honey). Madu merupakan bahan makanan alami yang tidak ada tandingannya dalam nilai gizinya. Madu tersusun dari berbagai komponen kimia : Asam Organik. Terdiri dari asam oksalat, asam sitrat, asam malat, asam tartatarat, asam laktat, yang punya kemampuan membantu proses metabolime tubuh. Sedangkan asam laktat sendiri bermanfaat mencegah dan penetral senyawa penyebeb tumor atau kanker yaitu besifat karsinogenik, ini karena mengandung laktobasilin yang diketahui menghambat proses pembentukan kanker dan zat berbahaya yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi Enzim. Setidaknya terdiri dari 10 macam, diantaranya lipase, peroksidase, amilase, diastinase, invertase,laktase, protease, oksidase dll. Kesemuanya membantu dalam proses metabolisme dalam tubuh dengan mengurai makanan yang masuk dalam tubuh menjadi lebih sederhana. Vitamin. Terdiri dari vitamin B kompleks, C, K, H atau terdiri dari Riboflavin, niastin, thiamin, piridoksin, asam askorbat, asam pantotenat. Vitamin tersebut sangat berguna sebagai bagian dari enzim dan ko-ensim yang mengatur proses metabolisme, mempertahankan fungsi jaringan tubuh, pembentukan sel baru, membantu pembentukan zat dalam tubuh. Mineral. Berbagai mineral yang terkandung dalam madu diantaranya : Belerang (S), Besi (Fe), Kalium (K), Natrium (Na), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mu), Klor (Cl), Fospor (P). Kandungan mineral ini sangat bermanfaat dalam tubuh sebagai bahan pembentuk jaringan tubuh seperti tulang dan gigi, rambut, kulit, sel darah merah, juga sebagai pertukaran nilai pH cairan tubuh, membantu proses pembekuan darah, juga untuk kepekaan syaraf dan pengerutan otot. Senyawa lain. Senyawa lain yang belum banyak diketahui secara detail namun mampu sebagai perangsang biogenik, inhibitor, anti bakteri dan anti jamur dan sebagai desinfektan Susu Lebah (Royal Jelly) Cairan seperti susu, yang dihasilkan dari kelenjar saliva (ludah) lebah pekerja. Terdiri dari 20 macam asam amino dengan komposisi cyctine yang terbanyak, disusul lysine dan arginine . Kandungan lain B Kompleks, dengan mutu yang terbaik yang berperan mempercepat penyembuhan luka, luka membusuk (ganggren), herpes, infeksi akibat radang, borok, dermatitis bahkan masuk angin. Juga dalam royal jelly terkandung Vit A dan C.

Kandungan acethylchlorine dalam royal Jelly dalam jumlah relatif banyak, sangat berperan dalam berbagai fungsi faal tubuh, seperti merangsang sekresi adrenalin dan berperan sebagai mediator kimia menghantar impuls syaraf. Dengan kemampuan ini royal jelly mampu menstimulasi sekresi kelenjar dan penting sebagai tonikum untuk system syaraf. Dalam penggunaannya untuk terapi, dosis yang dianjurkan relatif kecil yaitu 25 – 50 mg,. Royal jelly juga bermanfaat untuk menghindarkan kelelahan, mengurangi kadar kolesterol dalam darah juga bahan kosmetik pengencang kulit.

Perekat Sarang (Propolis) Adalah bagian dari koloni lebah yang berfungsi untuk ketahanan sarang dan koloninya dari serangan bakteri, jamur, virus dan mikroba lain. Berasal dari bahasa yunani pro = ketahanan, polis = kota. Kemampuan propolis dalam "pertahanan" dari serangan kuman dari luar adalah pada kadungan Bioflovonoid-nya. Diketahui Bioflovonoid dapat menyembuhkan system kapiler yang tersumbat, memperbaiki kerapuhan dan kebocoran saluran darah yang dianggap penting untuk melawan penyakit.

Benang Sari Bunga Jantan (Bee Pollen) Bee Pollen adalah sari bunga yang berfungsi untuk penyerbukan. Bee Pollen ukuranya sangat kecil dan terlihat sebagai debu yang berterbangan disekitar tanaman yang berbunga. Dari analisa kimia pollen mengandung berbagai zat yang berguna untuk kesehatan dan penyembuhan penyakit. Kandungan tersebut adalah protein (7,1 gr per oz), asam amino (cystine lysine, histidine, arginine, asparatic, threonine, serine, glutamic, alanine, valine, methionine, isoleusine, leucine, tyrosine, phenilalanine dan tryptophan), mineral (kalsium, besi, potassium, fosfor, sodium, yodium, magnesium, seng, tembaga, boron, barium, chromium, mangan dan strontium), vitamin (A, B1, B2, B3, B6, B12, C, D, E), enzim (amilase, protease, lipase), lain-lain (karbohidrat, serat, gula, abu, dll).

Bee Pollen diketahui dapat memulihkan kurang nafsu makan apada anak-anak dan anemia, juga dapat menstimuli pebentukan darah merah, penyembuh bagi hati yang terinfeksi / rusak, mengembalikahn vitalitas. Dari beberapa penelitian di buktikan pollen sebagai antibiotik alami untuk bakteri E. Coli dan Proteus. Asam amino yang dikandungnya lebih lengkap dibanding daging, susu dan telur. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->

KLEMBAK, BAHAN OBAT TRADISIONAL TIONGHOA

Klembak atau kelembak (Rheum officinale L., suku Polygonaceae) adalah tumbuhan penghasil bahan obat dan wangi-wangian. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya. Akar klembak menjadi komponen dalam rokok "klembak menyan" yang populer di kalangan masyarakat menengah ke bawah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Klembak juga dijadikan campuran dalam pembuatan jamu. Khasiat obatnya adalah sebagai laksatif (penenang). Dalam pengobatan Tionghoa, ia dinamakan yào yòng dà huáng. Akar dan batangnya dipakai untuk mengobati sembelit (konstipasi), dan membantu mengatasi penggumpalan darah dan nanah. Orang Indian Amerika Utara juga memakainya sebagai bagian pengobatan herbal yang dinamakan essiac tea. Klembak diketahui sekarang juga mengandung bahan yang aktif dalam pengobatan Hepatitis B.

Tanaman klembak menyukai daerah berhawa dingin. Pusat penanamannya adalah di Dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Klembak (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "Chinese rhubarb") berkerabat dengan rhubarb, yang juga merupakan tumbuhan obat dari Eropa. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->

Kamis, 02 Juni 2011

ASAL MULA BAKSO

Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga baso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran. Berbagai jenis bakso sekarang banyak di tawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan dan mall-mall. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai.

Bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia hal ini ditunjukkan dari istilah Bakso berasal dari kata Bak-So, dalam Bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti 'daging babi giling'. Karena kebanyakan penduduk Indonesia adalah muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal seperti daging sapi, ikan, atau ayam. Seiring berkembangnya waktu, istilah bakso menjadi lebih dikenal dengan 'daging giling' saja. Kini, kebanyakan penjual bakso adalah orang Jawa dari Wonogiri dan Malang. Tempat yang terkenal sebagai pusat Bakso adalah Solo dan Malang yang disebut Bakso Malang.

Variasi Bakso zaman ini:
  • Bakso urat: bakso yang diisi irisan urat atau tendon dan daging tetelan kasar
  • Bakso bola tenis atau bakso telur: bakso berukuran bola tenis berisi telur ayam rebus
  • Bakso gepeng: bakso berbentuk pipih
  • Bakso ikan: bakso berbahan daging ikan
  • Bakso udang: bakso berbahan dari udang
  • Bakso Malang: hidangan bakso dari kota Malang , Jawa Timur; lengkap dengan mi kuning, tahu, siomay, dan pangsit goreng
  • Bakso keju: bakso resep baru berisi keju
Dalam proses pembuatanya, ada bakso yang dicampur dengan boraks atau bleng untuk membuat tepung menjadi lebih kenyal mirip daging serta lebih awet. Hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh BPOM. BPOM mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan berkadar boraks tinggi selama kurun 5–10 tahun dapat meningkatkan risiko kanker hati. Maka bakso yang dijual di berbagai pasar tradisional dan pasar swalayan diwajibkan bebas boraks. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Andy Ng, Pekanbaru
Selanjutnya ->

Rabu, 01 Juni 2011

ASAL MUASAL BAKPAO

Bakpao merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.

Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, dibiarkan sampai mengembang lalu dikukus dan matang. Pao itu berati "bungkusan", Bakpao berarti "Bungkusan-bak" , bak itu artinya daging.

Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Mina Lim, Balikpapan
Selanjutnya ->

Selasa, 31 Mei 2011

TATA CARA DUDUK YANG BAIK SESUAI TRADISI TIONGKOK

Orang Cina kuno sangat menekankan bagaimana cara duduk dengan baik, karena merupakan bagian yang penting dari sikap yang baik. Ada tiga postur utama sebelum kursi yang umum digunakan. Posisi Fu sedang duduk bersila sama dengan posisi lotus dalam Buddhisme, juga disebut Jiafu. Dalam posisi kedua kakinya memperpanjang Qiju lurus ke depan di depan tubuh seperti sebuah pengki. Postur Ji membutuhkan duduk di lutut seseorang dengan bokong beristirahat di kaki seseorang yang lebih rendah dari kaki.

Ketika tidak ada tamu hadir, orang bisa duduk santai di posisi Fu dan Qiju, tetapi jika sedang berbicara dengan orang yang dihormati lebih tua, berbicara dengan teman, berbicara tentang isu-isu penting, makan di pesta makan malam atau jamuan makan atau mengobati tamu, maka harus menggunakan postur Ji..
Banyak catatan dalam ajaran Cina kuno yang menyebutkan posisi duduk.

Dalam Dinasti Xihan (207 SM sampai 25 M), kedua bangsawan Song Jia Yi Zhong mendengarkan seorang pendeta yang sedang menjelaskan ceramahnya. Dia seorang yang berpandangan sangat luas yang berbicara tentang hal-hal yang sangat rasional dan meyakinkan sehingga membuat kedua bangsawan langsung merasakan rasa hormat. Mereka langsung meluruskan pakaian mereka dan duduk dengan tegak untuk menghormati pendeta itu.

Dalam sejarah Cina, kaisar dan pembantunya semua sangat berhati-hati untuk memperhatikan kebajikan dan sopan santun. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka harus disiplin kata-kata sendiri dan tindakan mereka. Mr Tao Kan, seorang punggawa yang terkenal selama Dinasti Dongjin (317-420), mengikuti prinsip "Bahkan ketika waktu senggang, masih duduk lurus." Mr Sima Guang (1019-1086) selama Dinasti Song (960-1279) selalu duduk tegak dengan ketinggian serius dalam rutinitas sehari-hari. Begitu juga dengan Kaisar Kangxi besar (1654-1722) di masa Dinasti Qing (1636-1912) selalu bersikap duduk lurus saat mengelola negara mau pun saat bertempur di medan perang. Dia sangat besar dan ia selalu duduk di atas takhta naga sangat lurus untuk menatap makhluk hidup. Dia telah dibudidayakan gaya ketat untuk waktu yang lama. Dia teringat masa kecilnya dengan mengatakan, "Makan, bergerak, dan berbicara semua diatur. Meskipun saya selalu tinggal sendirian, aku masih berani untuk tidak berlebihan."

Setelah ia menjadi Kaisar, ia selalu duduk tegak dalam diskusi dengan istana, ketika belajar di studi istana, dan bahkan saat mengobrol dan tertawa dengan keluarganya. Sikapnya sudah diajarkan sejak usia dini dan ia pun menjalani disiplin diri yang ketat dalam kehidupan sehari-harinya. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->

ASAL USUL MASAKAN BAKMI !!!

Bakmi adalah salah satu jenis mi yang dibawa oleh pedagang-pedagang Tionghoa ke Indonesia. Bakmi juga sering disebut yamien atau yahun. Bakmi juga merupakan makanan yang terkenal terutama di daerah-daerah pecinan di Indonesia. Biasanya bakmi telah diadaptasi dengan menggunakan bumbu-bumbu Indonesia. Tebalnya bakmi adalah antara Mian Tiongkok dan Udon Jepang, selain itu ada berbagai variasi bakmi di Indonesia.

Bakmi yang paling umum adalah yang terbuat dari tepung terigu atau bakmi kuning. Jenis kedua yang juga terkenal adalah kwetiaw, yang dibuat dari beras dan bentuknya lebih lebar serta lebih tipis dari bakmi. Kedua variasi ini biasa digoreng atau direbus sebelum disajikan.

Apabila bakmi hendak digunakan dalam kuah, biasanya bakmi direbus secara terpisah. Mi yang digunakan umumnya telah dicampur dengan minyak. Kemudian mi ini disajikan dengan lauk seperti ayam, bok choy atau juga bakso. Kuah akan dihidangkan dalam mangkuk tersendiri dan baru akan dicampur dengan mie sesuai selera sendiri-sendiri.

Bakmi dapat juga digoreng. Umumnya bakmi direbus terlebih dahulu sebelum digoreng dengan sayuran, kecap manis dan daging. Perkecualian adalah untuk Ifu Mie, di mana bakmi yang telah digoreng disajikan dengan sayuran, daging dan saus.

Kata Mie dan Bami dalam bahasa Belanda dan bahasa Jerman berasal dari Bakmi dan diperkenalkan selama masa kolonial Belanda di Indonesia. Masakan Indonesia sangatlah populer di Belanda dan Bakmi adalah salah satu makanan yang sangat terkenal. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA