BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

SAN ZI JING, TIGA HURUF KLASIK

Tiga Huruf Klasik (San Zi Jing) pada awalnya digunakan untuk pendidikan privat/nonformalnpada masa dinasti Song. Tidak ada yang tahu persis siapa yang mulai menyusun buku yang berisi bait tiga huruf ini. Ada yang mengatakan penyusunnya adalah Wang Yinglin dari Dinasti Song. Sebagian lainnya menganggap penulisnya adalah Ou Shizi, yang hidup selama tahun-tahun terakhir dari Dinasti Song.

San Zi Jing

Dalam bahasa China "jing" berarti "ayat suci yang selalu benar". Pada zaman kuno sebuah buku yang disebut sebagai jing menggambarkan sebuah karya yang bernilai tinggi. Tiga Huruf Klasik yang kaya isi adalah buku yang sarat inspirasi dan merupakan karya yang paling sederhana dan mudah dipahami dari semua karya klasik yang ada. Ruang lingkupnya sangat luas meliputi sastra, sejarah, filsafat, astronomi, etika hubungan manusia, dan unsur-unsur moralitas. Bait-baitnya pendek dan sederhana, semua dalam bentuk tiga karakter serangkai, dan sangat cocok untuk dibaca dengan suara keras. Ketika siswa mendeklamasikan Tiga Huruf Klasik, secara serempak, ia akan belajar sastra dan bahasa China, nilai kesopanan sosial, dan peristiwa sejarah. Nilai dan kualitas ini membuat Tiga Huruf Klasik menjadi pilihan pertama untuk anak ketika memulai pendidikan formal.

Isi karya ini dibagi menjadi 44 unit dengan 4 bait per unit. Setiap unit berisi bagian seperti Teks, Kosakata, Uraian Teks, Pertanyaan Diskusi, Cerita, serta Menulis dan Pemahaman. Setiap istilah pada bagian Teks disertai dengan ejaan dalam sistem alfabet fonetik China, yang dikenal sebagai pinyin, untuk membantu dalam pengucapan. Istilah juga dijelaskan di bagian Kosakata.

Pada bagian Penjelasan Teks, bait-bait tersebut dijelaskan dalam bahasa Inggris agar pembaca mudah untuk memahami maknanya. Kemudian, Pertanyaan Diskusi memandu siswa untuk berpikir lebih dalam tentang bacaan dan memperkuat pemahaman mereka terhadap tema dari unit tersebut. Satu atau dua cerita yang relevan disajikan pada bagian Cerita untuk memperkenalkan latar belakang tokoh atau peristiwa sejarah tertentu, mendorong pikiran kritis, dan/atau memfasilitasi pendidikan moral. Bagian Menulis Pemahaman memberi pertanyaan yang membimbing para pelajar untuk mengungkapkan pemikiran mereka atau opini secara tertulis.

Tiga Karakter Klasik mudah untuk dihafal. Sifat multidimensi dan isi pendidikannya digunakan secara luas sejak zaman dinasti Song. Sebelum Komunis menguasai China, buku teks ini digunakan untuk pendidikan sekolah formal ataupun privat/nonformal. Siswa wajib menghafal teks dengan hati. Sebagai upaya untuk belajar esensi budaya China, di Taiwan beberapa sekolah masih menggunakan karya ini sebagai buku teks pokok untuk sekolah. Ini tidak hanya menanam pemahaman terhadap budaya tradisional China, tetapi juga memberi siswa sebuah pedoman untuk bergaul dengan orang lain, dan bagaimana menangani situasi yang mungkin akan mereka hadapi di kemudian hari. Kami berharap, setelah mempelajarinya, pembaca bisa memperoleh manfaat dari Tiga Huruf Klasik dan menghargai warisan budaya yang berharga ini.

Unit 1

Teks

人(rén)   之(zhī) 初(chū) ,性(xìng) 本(běn) 善(shàn),

性(xìng) 相(xiāng) 近(jìn),習(xí) 相(xiāng) 遠(yuǎn)。

茍(gǒu)  不(bú) 教(jiào),性(xìng) 乃(nǎi) 遷(qiān),

教(jiào)  之(zhī) 道(dào),貴(guì) 以(yǐ) 專(zhuān)。


Sifat bawaan manusia adalah penuh belas kasih.Sifat bawaan alami yang baik ini membuat anak kecil dekat satu sama lain pada awalnya. Namun, semakin beranjak dewasa, pengalaman dan interaksi mereka dengan lingkungan, membuat mereka tumbuh berlainan dan menjadi renggang satu sama lain. Jika mereka tidak menerima arahan dan bimbingan yang tepat, mereka mungkin menyimpang dari asal, yaitu karakter alami mereka yang baik. Ketika seorang guru mengajar murid, sangat penting bagi seorang siswa, belajar bagaimana untuk fokus, jika tidak upaya dari guru tidak akan berbuah manis.


Cerita

Zhou Chu Membunuh Tiga Monster

Pada zaman dahulu kala, di China pada masa dinasti Jin, hidup seorang pemuda bernama  Zhou Chu di sebuah desa Yi Xing. Orangtuanya meninggal ketika ia masih kecil. Dia tumbuh kuat dan perkasa, tetapi karena ia tidak dididik dan dirawat dengan baik, ia sering berkelahi dengan orang lain dan menyebabkan banyak masalah di desa. Hari, minggu, bulan dan tahun-tahun pun cepat berlalu, Zhou Chu yang merepotkan tumbuh menjadi kian buruk. Karena berperilaku seperti seorang raksasa, semua penduduk desa menjauhinya.

Suatu hari ketika berjalan-jalan, ia melihat kerumunan orang berbicara serius tentang sesuatu. Karena penasaran, ia datang mendekat, tapi orang-orang kemudian pergi menyebar begitu ia mendekat. Merasa sedikit kesal, ia meraih seorang kakek dan bertanya, " apa yang kalian bicarakan?" Orang tua ini menjawab dengan ketakutan, "desa sedang terancam oleh tiga monster. Salah satunya adalah seekor harimau di Gunung Selatan. Yang lain adalah seekor naga di Sungai Jembatan Panjang. Mereka telah membunuh banyak orang ... "Tanpa menunggu Kakek Tua menyelesaikan kata-katanya, Zhou Chu berteriak keras, "baik itu harimau ataupun naga, kita tidak perlu takut. Aku akan mencabut nyawa monster ini. " Segera setelah mengucapkan sumpahnya, Zhou Chu berangkat untuk mewujudkannya.

Ketika tiba di Gunung Selatan, Zhou Chu menjelajahi seluruh daerah untuk mencari harimau yang dimaksud. Akhirnya ia menemukan jejak binatang buas. Baru saja muncul rasa gembiranya, Si Harimau telah melompat dari bayang-bayang dan menerjang kepala Zhou Chu  sambil memperlihatkan gigi yang tajam. Tapi sebelum harimau mendarat di tanah, dalam sekejap mata, Zhou Chu telah berputar dan melompat ke punggung harimau. Dengan semua kekuatannya, Zhou Chu memegangi kepala harimau dan memukulkannya ke batu yang tajam hingga meninggal.

Tanpa mengambil banyak waktu untuk beristirahat, Zhou Chu segera berangkat ke Sungai Jembatan Panjang. Dia menemukan naga sedang tidur di sebuah pulau di tengah sungai. Zhou Chu diam-diam berenang ke pulau, merayap di belakang binatang itu dan mengunci lehernya.Tapi naga ini lebih kuat dari harimau, Naga membenturkan Zhou Chu ke pohon. Zhou Chu tidak melepaskannya dan berteriak, "Aku tidak akan melepaskan lehermu sampai kamu berhenti bernapas." Meski sudah meronta sekuat tenaga, naga tidak bisa  melepaskan diri dari pegangan Zhou Chu. Setelah tiga hari dan tiga malam, rakasa ini akhirnya mati. Karena lelah, Zhou Chu tertidur selama dua hari dan dua malam.

Berita dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Terdengar kabar bahwa Zhou Chu telah membunuh binatang-binatang buas itu dan meninggal karena kelelahan. Mereka merayakan selama tiga hari dan tiga malam, dan di akhir perayaan semua bernyanyi gembira, " Tiga binatang buas telah mati, tiga binatang buas telah mati, hore..hore.. hore.. !" Ketika penduduk desa asyik bernyanyi, Zhou Chu pulang ke desa. Saat itu Ia baru sadar bahwa penduduk desa telah menganggapnya sebagai raksasa ketiga.

Zhou Chu merasa malu dan bersumpah untuk membuka lembaran baru. Dia ingin  berubah menjadi orang yang baik dan terhormat. Dia meminta guru besar Lu Yun untuk mendidiknya, dan Zhou Chu mengabdikan sisa hidupnya untuk belajar. Akhirnya, Zhou Chumenjadi pejabat tinggi dan melayani orang-orang dengan setia. [Yolanda Li, Banjarmasin, Tionghoanews]
Selanjutnya ->

Rabu, 22 Juni 2011

PERANG LINTASAN HU LAO, DIAWAL DINASTI TANG

Akhir Dinasti Sui (581-618), Kaisar Yang hidup berfoya-foya dan mengumbar nafsu bejadnya sehingga menyengsarakan rakyat. Keluhan rakyat terdengar di empat penjuru, maka terjadi pemberontakan dimana-mana untuk melawan politik kezaliman tersebut.

Pada tahun 618, Li Yuan mengangkat dirinya sebagai kaisar di Kota Chang An (kini Xi An), mengganti sebutan negara dengan Tang (baca: dang, 618-907) dan mengubah nama tahun menjadi Wu De (moralitas keperkasaan).

Meski Li Yuan mendirikan Dinasti Tang dengan Ibukota Chang An, namun di banyak tempat masih saja tenggelam dalam kekacauan perang dan terjadi kekalutan situasi akibat perpecahan antara faksi-faksi kekuatan militer. Diantaranya Dou Jiande, si Raja Xia, pemimpin tentara pemberontak petani dari Provinsi Hebei, bersama Wang Shichong yang menduduki Kota Luo Yang, merupakan kekuatan faksi utama.

Setelah Li Yuan menobatkan dirinya sebagai kaisar, ia tidak lagi memimpin perang ekspedisi. Agar kelak meratakan jalan untuk mendudukkan Li Jiancheng, si anak sulung, sebagai kaisar, ia menempatkannya di Chang An. Tetapi untuk menundukkan kekuatan para pihak yang menduduki berbagai tempat dan mempersatukan kembali seluruh negeri, maka tugas tersebut berada di pundak putra keduanya yakni Li Shimin.

Li Shimin yang kala itu baru berusia 20-an tahun dengan berani memikul tanggung jawab besar tersebut, dan membutuhkan waktu 10 tahun lebih baru menunaikan tugas perang pemersatuan yang maha sulit itu, diantaranya termasuk mengalahkan Wang Shichong dan Dou Jiande.

* Serang Wang Shichong, Li Shimin Kirim Pasukan ke Luo Yang

Bulan ke-5 tahun 618, setelah berita Kaisar Yang (Dinasti Sui) terbunuh tersiar ke Luo Yang, para jenderal mendukung Yang Dong si Raja Yue menjadi kaisar. Pada bulan ke-4 tahun 619, Wang Shichong merebut kekuasaan dan mengganti nama negara menjadi Zheng (鄭).

Pada bulan ke-7 tahun 620, Li Shimin mengirim pasukan menyerang Wang Shichong di Luo Yang, bulan ke-8 ia berhasil mengepung Kota Luo Yang. Di saat krusial dan Wang yang terkepung hampir saja kalah, Dou Jiande mengirim 100.000 tentara secara besar-besaran dari Hebei demi menyelamatkan Wang Shichong.

Waktu itu Dou Jiande menduduki Provinsi Hebei dan Shandong. Pada awalnya ia juga tidak rela saling menolong, bagaimanapun duduk diam sambil menyaksikan naga bertempur melawan macan masih lebih menguntungkan. Kemudian karena ia melihat Wang Shichong sudah hampir kalah, maka ia menuruti usulan Liu Bin salah seorang stafnya untuk mengirim tentara penyelamatan agar tidak terjadi situasi "bila bibir copot gigi akan kedinginan" maka akan sulit lari dari nasib dimusnahkan oleh Tang juga.

Pada musim semi tahun 621, pasukan induk Dou Jiande merembes ke selatan dan memasuki daerah timur Hu Lao.

* Dou Jiande Bantu Wang, Pasukan Tang Melaju ke Lintasan Hu Lao
Pada awalnya Dou Jiande menulis surat bernada perdamaian dan persahabatan kepada Li Shimin, namun ditolak mentah-mentah. Ia malah mulai mengatur strategi menghadapi Dou. Lantaran situasi waktu itu Kota Luo Yang meski terkepung lama tapi tak kunjung jatuh, ditambah berita kedatangan pasukan penyelamat dari Dou Jiande, jenderal pasukan Tang yang pesimis mengusulkan mundur agar terhindar dari bentrokan frontal. Misalkan Qu Tutong beranggapan bila mengirim pasukan menyongsong musuh di sekitar lintasan Hu Lao maka akan terbentuk situasi punggung terancam musuh, seharusnya lebih baik mundur dulu dan bertahan di Xin An sambil mencari peluang untuk bertempur.

Namun taktik perang ini ditentang oleh golongan progresif di bawah Jenderal Xie Shou, mereka beranggapan, logistik Wang Shichong sudah hampir terpakai habis, situasi terancam dari luar dan dalam, seharusnya tinggal menunggu memetik hasil.

Mengenai pasukan Dou Jiande, para jenderal mereka dinilai takabur dan sewenang-wenang, para prajurit pun malas, seharusnya berperang saja melawan mereka agar dapat bertahan di lintasan strategis Hu Lao. Jika tidak mengambil strategi perang kilat pada saat ini, dan membiarkan Dou menguasai dahulu Hu Lao, maka sejumlah kota yang baru saja direbut sulit untuk dipertahankan, peluang bagus yang telah ada di gengaman bakal hilang.

Li Shimin akhirnya menyetujui pendapat Xie Shou. Ia memerintahkan Qu Tutong dan Li Yuanji (putera ketiga kaisar) si Raja Qi tetap mengepung Luo Yang, sementara dirinya sendiri memimpin pasukan kavaleri elit sebanyak 3.500 orang  dengan gerak kilat menuju lintasan Hu Lao, maka dimulailah Perang Hu Lao yang terkenal di sejarah Tiongkok.

* Dou Jiande Mendesak Perang, Li Shimin Adu Siasat

Pada bulan ketiga tahun 620, Li Shimin dengan pasukannya tiba di lintasan Hu Lao, ia seorang diri bergerak ke arah timur sejauh 10 km untuk menyelidiki situasi musuh. Dou Jiande dan pasukannya tak dapat lagi maju, maka mereka mendirikan benteng dan bercokol di sana. Pada bulan keempat, pasukan Dou mengalami kegagalan beberapa kali dalam bertempur, rasa rindu kampung halaman para tentaranya semakin menjadi-jadi, ditambah lagi jalur pasokan bahan pangan lagi-lagi mengalami serangan mendadak dari pasukan Tang hingga seorang jenderal mereka tertawan.

Saat itu, bawahan Dou Jiande mengusulkan untuk menyeberangi sungai menggempur Huai Zhou, kemudian menuju barat menembus Pegunungan Taihang, mumpung kosong bisa menduduki Shang Dang, lalu mengarah ke selatan dan menduduki wilayah luas di He Dong, selain bisa memperluas wilayah dan menambah tenaga pasukan baru juga dapat mengancam Guan Zhong, sehingga akan memaksa Li Shimin menarik pasukannya untuk menyelamatkan diri sendiri, dengan demikian pengepungan Luo Yang tak usah digempur sudah jebol dengan sendirinya.

Akan tetapi Dou Jiande terobsesi hanya ingin mencari Li Shimin untuk perang final, sama sekali tak mau mendengar masukan dari pihak lain, malah mengatakan teori tersebut hanyalah pendapat kaum cendekiawan saja. Rencana Dou Jiande, menyerang lintasan Hu Lao, selagi pasukan Tang kehabisan makanan kuda dan selagi menggembala kuda-kuda mereka di pesisir utara.

Li Shimin dapat membaca arah strategi Dou Jiande, maka ia memutuskan untuk menyerang balik siasat tersebut. Tanggal 1 bulan kelima, Li Shimin menyeberangi sungai dan menggembala kuda-kuda mereka serta meninggalkan ribuan ekor kuda tempur, dengan tujuan agar Lou Jiande menganggap pasokan rumput pasukan Tang telah habis, ia sendiri pada malam harinya kembali ke lintasan Hu Lao.

Dou Jiande ternyata terperangkap, pada pagi hari keesokan harinya, ia mengerahkan semua tentaranya dan berbaris sepanjang 10 km berderap maju diiringi genderang serta hendak menggunakan kewibawaan mereka untuk menggertak pasukan Tang.

* Kepung Kota Memecah Bantuan, Sekali Serang 2 Musuh Terkalahkan

Sebelumnya Li Shimin mengatakan kepada anak buahnya: "Dou Jiande melewati lintasan maut dengan genderang dan suara bising sama sekali tidak berdisiplin; mendekati kota, baru memasang formasi ini menandakan mereka memandang enteng pasukan kita. Jika kita tidak tergerak, keberanian mereka niscaya surut secara perlahan, penggelaran formasi dalam waktu lama bisa berakibat lapar dan letih, tak usah diserang sudah berantakan sendiri, pada saat itu kita mengejar sesuai dengan keadaan, pasti akan menang terus."

Ternyata dugaannya tidak meleset, hingga siang hari, pasukan Dou Jiande lantaran perang belum juga digelar, para prajurit pun haus dan lapar, mereka mulai berebut minum air, banyak yang lesehan di atas tanah, tidak lagi berformasi seperti sedia kala, betul-betul terlihat seperti pecundang.

Begitu pasukan Yuwen Huaji muncul, spirit pasukan Dou mulai goyah, Li Shimin melihat peluang telah terbuka maka begitu diperintahkan serang, ia sendiri memimpin pasukan berkuda keluar lebih dahulu dan ditambah dengan pasukan infantri utama, maka seluruh prajurit dengan hiruk pikuk menerjang ke pihak musuh. Pasukan Dou Jiande melihat gelagatnya berkembang seperti itu, maka ia bergegas memimpin pasukannya untuk mundur, saat itu juga dua jenderal besar Qin Qiong dan Cheng Yaojin menghantam dari belakang, Dou Jiande kalah telak, di bawah kekacauan, ia terluka oleh tombak dan dalam perjalanan mundur ia tertawan oleh pasukan Tang.

Kekalahan Dou Jiande, membuat Wang Shichong yang menduduki Luo Yang ketakutan, maka ia membuka pintu kota dan menyerah.

Perang Hu Lao, Li Shimin dengan sekali hantam dapat mengalahkan 2 kekuatan besar dari Wang Shichong dan Dou Jiande, ia telah membuat landasan kokoh bagi pemersatuan imperium Tang dan menciptakan model siasat perang "mengepung kota menghantam bantuan". [Huang Rong, Surabaya, Tionghoanews]
Selanjutnya ->

Rabu, 15 Juni 2011

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TRIAD CHINA

TRIAD atau dalam bahasa kerennya "MAFIA CHINA" sudah berkembang sejak zaman Manchuria dulu.

Semula bernama Tian Di Hui (Langit, Bumi, dan Manusia). Didirikan pada 1760-an, dengan tujuan menumbangkan kekaisaran Manchu Dinasti Qing dan merestorasi peraturan Han di Cina. Dinasti Qing tumbang pada 1911. Komunitas yang awal-nya bersifat patriotis ini kemudian berubah tak terarah. Juga, tak terlibat dan tak ikut menikmati kemajuan Cina. Mereka marah dan depresi, namun tak mampu mengubah jalan hidup pemberontak yang mendarah daging selama dua abad lebih. Akhirnya , mereka berkembang menjadi organisasi kriminal underground. Inilah awal mulanya TRIAD yang kita kenal.

Sampai dengan berkuasanya Dr. Sun Yat Sen yg membentuk Republik Rakyat China (RRC) Triad banyak mendapat fasilitas karena menurut sumber yg bisa dipercaya Dr Sun Yat Sen sudah ikut menjadi anggota triad sejak beliau masih muda beliau terbang dari amerika ke RRC untuk menjadi presiden. sampai dengan berkuasanya Ciang Kai Sek, triad juga masih mendapat fasilitas.

Pada 1949, Partai Komunis mengambil alih pemerintah Cina dan menerapkan pengawasan ketat. Hal ini mengakibatkan para anggota TRIAD menyingkir ke daerah selatan, Hongkong, guna melanjutkan kegiatan. Sekitar 1960 s/d 70-an tersiar kabar bahwa mereka sering bekerja sama dengan kepolisian dalam mengontrol wilayah kekuasaan TRIAD. Hal ini menimbulkan korupsi di tubuh kepolisian. Sebab, kepolisian harus mendanai aktivitas TRIAD sebagai imbalan. Pada 1974, Komisi Independen Pemberantas Korupsi (ICAC) mengatasi masalah ini yang mengakibatkan TRIAD kehilangan sumber dana utamanya, hingga akhirnya mereka beralih ke perdagangan underground.

Terdapat sekita 57 komunitas di Hongkong. Kekuatannya terus meningkat, namun tetap 'merendah'. Mereka kejam dalam urusan kriminal. Skala keanggotaannya sangat rumit. Kekuatannya lebih kuat dari yang diperkirakan. Mereka beroperasi dalam skala yang sangat kecil dan membatasi kekerasan antar anggota geng untuk menghindari sorotan publik. Tak ada figur pemimpin, namun secara umum mereka tergabung dari beberapa kelompok independen yang sederajat, sehingga tidak dapat sling perintah dan perbedaan level. Kekuatan sesungguhnya berada di level bawah dari hirarki-nya. Biasanya seorang petarung membawahi sekitar 15 anggota aktif yang menguasai jalanan, gedung, pasar, lapangan, atau taman. Mereka juga memiliki kode numerik sendiri untuk membedakan posisi dalam geng, seperti 426 yang berarti 'petarung', 489 'ketua', 438 'deputi ketua', 25 'mata-mata' atau 'pengkhianat', dan lain-lain.

Untuk menjadi anggota TRIAD, harus menjalankan upacara dengan mengucapkan 36 butir sumpah, 3 butir di antaranya:

1. 'Setelah memasuki gerbang Hung I, saya harus memperlakukan orangtua dan kerabat dari saudara sesumpah saya sebagai keluarga saya sendiri. Jika saya melanggar saya bersedia mati disambar lima petir.'

2. 'Saya tidak akan berkonspirasi dengan orang lain untuk mencurangi saudara sesumpah saya dalam berjudi. Jika terjadi saya akan mati oleh pedang anggota-anggota saya sendiri.'

3. 'Jika saya mengetahui bahwa Pemerintah mencari saudara sesumpah saya, maka saya akan segera memberitahu saudara sesumpah saya tersebut agar ia dapat melarikan diri dengan segera. Jika melanggar saya akan mati disambar lima petir.

Aktivitas TRIAD di luar negeri aktif di kota-kota berpopulasi orang Cina yang cukup besar, seperti San Fransisco, New York, Seattle, Chicago, Sacramento, Boston, Los Angeles, Las Vegas, Auckland, New Orleans, Van Couver, Toronto, dan Sao Paulo. Dan, diperkirakan London, Manchester, dan Amsterdam merupakan pusat baru aktivitas TRIAD. Mereka sering terlibat dalam penyelundupan imigran ilegal dari Asia Timur yang menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris.

Saat ini posisi TRIAD lebih mirip seperti organisasi bisnis. Interaksi antar kekuatan geng TRIAD di Cina daratan, Taiwan, Macau, dan Hongkong tidak menghindar dari perhatian pihak berwenang setempat, namun justru mendapat banyak keuntungan. Pasar terbesar saat ini berada di Cina daratan, dan mereka sangat berorientasi pada bisnis. Mereka mengejar uang dalam jumlah besar lewat jalan apapun.

Organisasi kriminal Tionghoa adalah gengster beretnis Tionghoa yg terlibat dlm kegiatan ilegal. Geng-geng ini yg diselidiki MID (Departemen Intel Militer) RRC dapat dikategorikan sebagaig dua kelompok:

organisasi kriminal tradisional (contoh: Triad Wo Hop To, Triad 14K) dan organisasi kriminal yang non-tradisional (contoh: geng Fuqing dan Taihuancai alias "Big Circle Boys"). Kelompok triad Tionghoa ini berbasis dan Hong Kong, Macau, Taiwan dan negara lain dimana terdapat komunitas etnis Tionghoa yg besar spt Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang dan Asia Tenggara.

Kelompok triad ini memiliki kesamaan berikut: asal usul sejarah yg berusia beberapa ratus tahun, struktur organisasi hirarkis yg kukuh dan upacara yg mengikat tiap-tiap anggota satu sama lain. Misalnya, San Yee On dari etnis Tiociu secara khusus didirikan orang Tiociu yang merupakan minoritas di Hong Kong yang mayoritas orang Konghu, mereka memiliki struktur organisasi hirarkis yang kukuh seperti misalnya upacara pelantikan anggota baru dan upacara naik pangkat bagi anggota yang mencapai pangkat orang dalam.

Pemimpin kelompok triad tidak langsung mengelola kegiatan anggotanya di negara lain, tetapi pengaruh mereka meluas secara internasional disebabkan kekuatan finansial dan hubungan bisnis global dan hubungan pribadi yang mereka miliki. Sebagian besar anggota senior dari kelompok triad yang telah berdiri lama adalah pengusaha yg kurang terlibat dalam kegiatan usaha yg sah. [John Lee, Surabaya, Tionghoanews]
Selanjutnya ->

Minggu, 12 Juni 2011

DAU BANJIANG, MASAKAN BUMBU PASTA CABAI DI SICHUAN CHINA

Doubanjiang adalah pasta cabai untuk masakan Cina, dan merupakan bumbu dapur yang utama dalam masakan Sichuan. Rasanya asin dan pedas. Bahan utamanya berupa kacang babi yang dihaluskan dan difermentasi.

Selain kacang babi, doubanjiang dibuat dari campuran kedelai, beras, minyak kedelai, minyak wijen, garam dapur, dan rempah-rempah.

Pusat produksi doubanjiang berada di Provinsi Sichuan, salah satu di antaranya adalah Prefektur Pi Xian. Produknya disebut pixian doubanjiang.

Bumbu masak ini semakin pedas bila digoreng dalam minyak goreng. Setelah digoreng, doubanjiang sering dijadikan lauk untuk makan nasi atau penyedap sewaktu makan mi.

Masakan populer dari Sichuan yang memakai doubanjiang, misalnya: mapo doufu dan dandan mian.

Doubanjiang produksi Cina tidak selalu pedas. Walaupun dibuat hanya dari kedelai dan garam (tanpa bubuk cabai merah), produsen tetap menyebutnya sebagai doubanjiang. (Meilinda Chen, Jakarta - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

GUAN SI YIN PHO SAT, LEGENDA DEWI WELAS ASIH

Perayaan besar Dewi Kwan Im. Saya sendiri mengunjungi klenteng Sanggar Agung Kenjeran untuk memberikan penghormatan. Berikut adalah cerita mengenai Dewi Welas Asih Kwan Si Yin Pho Sat yang berhasil saya himpun.

Kwan Im Pho Sat / Guan Yin Phu Sa / Kwan Si Im Pho Sat / Guan Shi Yin Phu Sa (Tiongkok) / Avalokitesvara Bodhisatva (Lokeshvara, Sansekerta) / Spyan ras gizgs (Tibetan) / Kannon Bosatsu (Kanjizai / Kanzeon / Kwannon, Jepang) & Quan Am (Vietnam)

Jauh sebelum masuknya agama Budha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih ("Dewi Welas Asih").

Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Budha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : "Avalokita" (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah. "Bawah" disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). "Isvara" (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon.

Penjelasan Arti
Guan : Melihat atau merenungi.
Shi : Dunia, alamnya orang yang menderita.
Yin : Segala suara dari dunia, jeritan atau ratapan dari mahluk hidup,lahir
maupun batin, yang kesemuanya ini menyentuh lubuk hati sang Dewi Welas
Asih.

Sebab itu Guan Yin adalah Bodhisattva yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam – dalam dihati tiap pemujanya. Mereka percaya bahwa GuanYin dapat mendengarkan keluh – kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda – beda, baik pria maupun wanita.

Guan Yin, Pria atau Wanita:

Pada waktu memasuki Tiongkok sekitar dinasti Han, Agama Buddha memang memperkenalkan Avalokitesvara yang kemudian dikenal sebagai Guan Yin Pu Sa sebagai pria. Mulai dinasti Tang (618 – 907 M) dan lima dinasti (907 – 960 M).Guan Yin ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang sangat berakar dalam sistem sosial masyarakat pada waktu itu. Mereka menganggap tidak layak wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Guan Yin sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar ia dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon uluran tangannya.

Kelihatannya perubahan ini terjadi secara berlahan – lahan. Mula – mula Guan Yin ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa – dewa dari India yang selalu mempunyai pasangan). Kemudian lambat laun, oleh penganutnya di Tiongkok, dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Sampai abad ke – 12 Masehi. Guan Yin telah dipuja sendirian sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu juga Dewata – dewata Buddhist lainnya.

Perlu diketahui bahwa sebelum masuknya Buddhist ke Tiongkok, kaum wanita di sana sudah banyak memuja para dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan "Niang – niang" (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang), sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan dan keturunan. Sebab itu ketika muncul Guan Yin,mereka menyebutnya dengan panggilan Niang – niang pula. Sebutan Guan Yin Pu Sa yang sepenuhnya bersifat Buddhisme dikalangan rakyat akhirnya popular dengan sebutan "Guan Yin Niang – niang". Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, (menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM) mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut "Guan Yin Niang Niang", sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisatva pria. Tidak sampai di situ, kaum Taoist-pun yang akhirnya ikut pula memujanya, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu Tian Hou (Tian Shang Sheng Mu). Nama Taoist untuk Guan Yin adalah Zi Hang Dao Ren (Zu Hang To Jin – Hokkian). Yang berarti pendeta penyelamat pelayaran. Begitulah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi Sakyamuni Buddha, meskipun dalam banyak kelenteng dan vihara, Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.

Legenda Putri Miao San

Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Beliau malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhiksuni di Kelenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan). Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya.

Didalam kelenteng atau vihara itu terdapat kira – kira 500 orang bikkhuni. Kepala bikkhu disitu memerintahkan Miao Shan bekerja berat, dibagaian dapur. Sebetulnya kepala bikkhu ini telah mendapat perintah dari ayah Miao Shan agar membuat putrinya tidak betah untuk hidup di vihara itu.

Melihat keteguhan hati Miao Shan, Dewa Dapur Zao Jun, lalu membuat laporan kepada Yu Huang Da Di. Yu Di menerima laporan ini segera memerintahkan para malaikat dari Lima Pegunungan, dan Delapan Dewa Naga, untuk membantu Miao Shan di vihara Bai Que Si. Kemudian disusulnya peritah kepada Raja Naga dari lautan timur untuk membuat sumur di dapur Vihara itu, dan para binatang liar di pegunungan berdatangan mengantar kayu bakar, serta burung – burung membawa sayur – mayur. Dengan segala bantuan ini Miao Shan tidak banyak mengalami kesengsaraan.

Raja Miao Zhuang akirnya mengirim tentara ke Vihara itu untuk memaksa agar Miao Shan. Pasukan ini dipimpin oleh Raja Muda Zhau dan Raja Muda Ye. Biyara Bai Que Si di bakar, Miao Shan lalu berdo'a memohon perlindungan Yang Maha Kuasa,kemudian ia mencabut tusuk kondenya dan ditusukan ke lidahnya. Darah dari lidah itu di semburkan ke udara,dan tiba-tiba dari angkasa turun hujan yang berwarna merah. Api yang berkobar menelan biara itu segera padam.

Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Sang Buddha yang mengetahui peristiwa ini lalu memerintahkan pada Tu-di, sang Dewi Bumi, untuk menyelamatkan Miao Shan. Beliau bersabda "Tak ada di dunia sebelah barat ini manusia yang sesuci dan sebaik Miao Shan. Besok ketika pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan patahkanlah golok dan tombak para algojo yang dipergunakan untuk membunuh dia. Jagalah agar dia tidak banyak menderita kesakitan.

Pada saat kematiannya, rubahlah dirimu menjadi seekor harimau dan bawalah tubuhnya ke suatu Hutan Pinus. Sembunyikan dan masukkan sebutir pil ke dalam mulutnya agar tubuh itu tidak membusuk. Rohnya akan kembali mencari badan kasarnya sesudah selesai perjalanan ke neraka. Setelah itu ia akan bersemayam di bukit Xiang Shan di pulau Pu Tuo samapi mencapai kesempurnaan".

Pada waktu pelaksanaan hukuman di jalankan, golok dan tombak para algojo patah ketika menyentuh leher Miao Shan. Lalu leher Miao Shan dijerat dengan tali baja, barulah sang putri tewas. Bersamaan dengan itu mendadak seekor macan besar menyerbu masuk dan menggondol tubuh putri yang malang itu, lalu membawanya masuk ke dalam Hutan Pinus.

Roh Miao Shan di neraka, karena kesucian dan ke – welas – asihannya, serta ketulusan do'anya, menyebabkan tempat yang penuh penderitaan itu berubah menjadi seperti sorga. 10.000 roh yang tersiksa memperoleh pengampunan berkat do'anya.

Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Budha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Budha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong.

Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa.

Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan. Budha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan.

Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya. Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Beliau berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis. Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Budha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan "Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

Masih ada beberapa versi, seperti yang dimuat dalam kitab Shou-sen-ji (Catatan tentang kumpulan Para Dewa), agak berbeda dengan apa yang ditulis dalam kitab Xiang-shan. Raja Miao Zhuang, misalnya dalam kitab Xiang-shan dikatakan berperangai halus dan berbudi. Sebaliknya dalam Shou-sen-ji, beliau disebut sebagai berwatak kasar, kejam dan gemar nerperang. Tapi secara garis besar, versi – versi yang dimuat dalam beberapa kitab, tidak memiliki perbedaan besar dalam kisah keseluruhannya.

Miao Shan Guan Yin ditampilkan dengan keadaan duduk, tangannya dalam sikap meditasi dan membawa mutiara yang menyala. Banyak lukisan atau pahatan menampilkan dia sedang duduk di atas batu karang dekat air yang mengalir deras, atau di tengah lautan. Lukisan lain memperlihatkan dia sedang membawa gulungan kitab suci yang melambangkan Sutra Penerangan Hati, atau sebatang dahan pohon Yangliu untuk memercikkan embun suci (Amritha) yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dan mengusir roh – roh jahat.

Masih ada bentuk lukisan lain yang menampilkan Guan Yin membawa tasbih mutiara di tangannya, tapi sering juga tasbih itu dibawa di paruh seekor burung kakak – tua. Bajunya berwarna putih dan tampak melayang di atas awan, di atas bunga teratai atau di atas kelopak teratai yang terapung di lautan.

Lukisannya yang paling terkenal adalah pada waktu di tampilkan bersama dengan pembantunya yaitu Si Anak Merah, Shan Cai, dan Si Gadis Naga Long Nü. Shan Cai dengan posisi menyembah dan Long Nü membawa mutiara yang menyala.

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau "Gadis Kumala" dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau "Jejaka Emas".

Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.

Legenda Long Ni

Tentang Gadis Naga Long Nü dikisahkan sebagai berikut ini. Dengan kekuatan gaibnya Miao Shan melihat bahwa putra ketiga Long Wang, Sang Raja Naga, sedang menjelma menjadi ikan tambera. Dalam perjalanan melaksanakan tugas ayahnya, tak terduga ikan itu terperangkap dalam jala nelayan, dan diangkat ke darat lalu dijual ke pasar.

Miao Shan lalu memerintahkan pelayannya yang setia, Shan Cai untuk membeli ikan itu, yang kemudian dibawa ke Pu Tuo Shan untuk dilepaskan ke laut bebas. Putra ketiga Sang Raja Naga sangat berterima kasih atas pertolongan Guan Yin.

Sang Raja Naga dalam terima kasihnya kepada Miao Shan Guan Yin bermaksud menghadiahkan sebutir mutiara yang dapat bersinar di waktu malam. Long Nü cucu perempuan Long Wang dari pangeran ketiga tersebut mohon ijin untuk menghantarkan hadiah kepada Miao Shan.

Di hadapan Miao Shan, Long Nü minta diijinkan untuk belajar ajaran orang – orang suci di bawah bimbingannya. Setelah mengetahui kesungguhan hatinya, Miao Shan akhirnya menerima Long Nü sebagai murid. Shan Cai memanggilnya kakak. Mereka bersama – sama mendampingi Miao Shan.

Sering juga Long Nü ini ditampilkan dalam bentuk naga yang sedang ditunggangi oleh Guan Yin. Oleh Yu Huang Da Di, Shan Cai diberi gelar Jin Tong (Kim Tong – Hokkian) yang berarti "jaka emas" dan Long Nü bergelar Yu Nü (Giok Li – Hokkian) yang berarti "gadis kumala".

Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda.

Versi pertama

Pada waktu Tu Di Gong mengantar Miao Shan ke pulau Pu Tuo, menjaganya selama 9 tahun, sampai akhirnya sang putri mencapai kesempurnaan. Ditentukan hari pelantikan Miao Shan menjadi Pu Sa adalah tanggal 19 bulan 9 Imlik. Tu Di menyebarkan banyak undangan untuk menghadiri pelantikan tersebut. Yang diundang antara lain adalah San Guan Da Di, Shi Dian Yan Luo (10 Raja Akherat) Ba Xian (8 Dewa), Wu Yue Da Di (dewa dari Lima Pegunungan) dan lain – lain. Pada hari yang telah ditentukan, para undangan telah berkumpul, Miao Shan duduk di atas singgasana bunga teratai, lalu para Dewata itu mengumumkan pelatikan di kalangan ke-Buddha-an dan wilayah kekuasaannya di langit dan bumi.

Kemudian mereka beranggapan bahwa tidak sepantasnyalah Miao Shan sekarang dinamakan Guan Shi Yin berada di Xiang Shan seorang diri tanpa pembantunya. Mereka mengusulkan agar dicarikan dua pembantu, seorang pria perjaka dan gadis yang bertugas melayani semua keprluannya di tempat itu. Tu Di diserahi tugas untuk menemukan calon yang sesuai.

Dalam perjalanan mencari calon pembantu Guan Yin ini, Tu Di bertemu dengan seorang pendeta mudan yang bernama Shan Cai. Setelah kematian kedua orang tuanya, Shan Cai menjadi pertapa di gunung Da Hua Shan, tapi tanpa bimbingan ia merasa sulit untuk mencapai kesempurnaan. Dengan perantara Tu Di akhirnya Shan Cai menghadap Guan Yin. Guan Yin masih meragukan kesungguhan hati pemuda ini dan ingin mengujinya. Disuruhnya pemuda itu menempati sebuah puncak di pulau itu, dan menunggu sampai Guan Yin menemukan cara untuk mengatur kesempurnaannya.

Miao Shan kemudian memanggil Tu Di dan meminta agar para dewa yang hadir di situ mau menyamar menjadi bajak – bajak laut yang mau mengepung gunung itu, membawa obor dan senjata tajam mengancam akan membunuh Guan Yin. "Aku akan lari ke puncak dimana Shan Cai sekarang berada dan menguji kesetiannya", kata sang Dewi.

Tak lama kemudian segerombolan bandit dan bajak laut datang mengepung vihara di Xiang Shan itu. Guan Yin melarikan diri ke puncak, ia terpeleset dan terguling ke dalam jurang. Melihat sang dewi terguling, Shan Cai tanpa ragu – ragu segera terjun untuk menyelamatkannya. "Anda tidak mempunyai sesutau yang berharga untuk dirampok mereka, mengapa takut dan terjun ke jurang, sehingga terancam bencana kematian", tanya Shan Cai. Melihat pemuda itu menangis, Guan Yin berkata "aku harus tunduk pada kehendak langit".

Shan Cai, dengan segala kepedihan hatinya, berdo'a kepada Langit dan Bumi agar Sang Dewi diselamatkan. "Seharusnya kau tak perlu menunjukkan diri untuk menolong aku dengan penuh resiko. Aku belum menjelmakan kau kembali dan mengantarmu kesempurnaan. Tapi kau adalah anak yang berani, aku sekarang tahu hatimu baik, Lihatlah ke bawah sana " kata Guan Yin. Shan Cai lalu menoleh "Aku melihat mayat".
"Ya, itulah badanmu yang lama. Sekarang kau telah dijelmakan kembali, dan kau dapat terbang dan membumbung keangkasa sesuka hatimu!" Guan Yin berkata. Shan Cai membungkukkan badannya tanda terima kasih dan Guan Yin berkata lagi "Selanjutnya kau selalu berada di sampingku dan berdo'a, jangan meninggalkan aku seharipun". Sejak itulah Shan Cai selalu hadir di sebelah Guan Yin.

Versi lain

Dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya. Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai.

Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Perbedaan Sejarah Avalokitesvara dengan Guan Shi Yin Pho Sat

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisatva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisatva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat. Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang ("Penganugerahan Dewa") disebutkan bahwa sebelum Beliau dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, Beliau bernama Chu Hang salah 1 (satu) murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

Dalam perwujudan-Nya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai "Budha Vairocana", dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya.

Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*, salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia. Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Guan Yin Berbaju Putih

Memang perwujudan Guan Yin tidak terbatas, tapi yang paling banyak dipuja secara meluas dari abad ke abad ialah Guan Yin berbaju putih. Sebab itu apabila kita melihat di berbagai kelenteg, sebagian besar adalah Guan Yin yang berbentuk demikian. Bentuk ini paling disukai dan paling popular diantara bentuk – bentuk lain.

Patung Guan Yin baik yang bentuk dalam keadaan duduk atau berdiri, mempunyai makna sendiri – sendiri. Kebanyakan orang akan memilih yang dalam posisi duduk, sebab bentuk ini menimbulkan kesan terang, tentram dan anggun, merupakan gambaran pencerahan yang sempurna.

Bentuk Guan Yin yang berdiri melambangkan geraknya yang penuh rasa penyayang. Ini diartikan oleh para pemujanya bahwa tindakannya yang penuh rasa kasih dan sayang itu mempunyai kekuatan untuk mencapai siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Dan Guan Yin selalu siap menghampiri dan membantu dengan uluran kasih dan perlindungan. Makna lain yang tersirat bentuk berdiri ini adalah melambangkan kesediaan Guan Yin untuk memberikan pencerahan kepada siapa saja yang menginginkan.

Guan Yin berbaju putih seringkali tampil dengan memegang botol yang berisi "Amrita" yaitu " Embun Belas Kasih", yang berkasiat mensucikan kotoran – kotoran dalam badan, ucapan dan batin manusia dan mempunyai kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Diiringi dengan ekspresi wjah yang lembut, tenang dan manis, Guan Yin berbaju putih mencerminkan kebijaksanaan, ketenangan dan rasa kasih yang tak terhingga besarnya. Wajah inilah yang telah banyak memberikan ketenangan batin pada hati para pemujanya.

Bagaimana agar kita dapat menjadi penganutnya yang setia? Beberapa petunjuk dari mereka yang percaya yang telah mengalami sendiri rahmat dari Guan Yin mengatakan bahwa untuk menjadi penganutnya orang tidak boleh begitu saja percaya secara membabi buta dan bersembahyang setiap hari, tapi tetap dengan ingatan yang mementingkan diri sendiri. Harus melalui praktek perbuatan yang mencerminkan watak – wataknya seperti ramah – tamah, sering berbuat amal, sabar teguh hati, suka menolong, suka berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang banyak dan meditasi. Dengan praktek – praktek seperti itu orang akan mendekatkan batinnya kepada Guan Yin dan menjadi pengikutnya.

Dilihat dari sini, kita merasakan bahwa sebetulnya pemujaan Guan Yin mengandung suatu ajaran moral yang tinggi.
Kalau kita perhatikan , semua wajah dari patung Guan Yin tentu memiliki mata yang bisa kita katakan setengah terbuka dan setengah tertutup. Mata yang begini, dalam ilmu kebatinan Budhisme mempunyai arti keselarasan yang sempurna dari kehidupan lahir dan batin, sebab sebagian pandangan untuk melihat dunia luar dan sebagian lain untuk melihat dalam diri sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa GuanYin selalu mengingatkan manusia agar selalu menjaga keseimbangan dunia luar dan batin kita dengan segala kecenderungan.

Guan Yin Tangan Seribu

Seperti kita sebutkan bahwa salah satu bentuk Guan Yin yang terkenal adalah GuanYin bertangan seribu ( bermata seribu) atau Qian-shou qian-yan Guan Yin. Sebetulnya kalau kita hitung dengan teliti,jumlah lengannya hanya 39 dan masing – masing menggenggam benda pusaka keagamaan, yang terbanyak berupa bunga dan senjata penakluk iblis. Pada tiap telapak tangan terdapat sebuah mata.

Dalam legenda dikisahkan pada waktu ia sedang dalam meditasi dan merenungkan tugasnya untuk menyelamatkan dan kebahagiaan semua mahluk yang berdosa, kepalanya tiba – tiba terbelah menjadi seribu kepingan, tepat pada saat ia menyadari betapa berat dan besarnya hal yang dilakukan itu.O-mi-tuo-fo (Amitabha), Bapak pembimbingnya, cepat datang untuk menolong dan menghidupkan kembali Guan Yin serta juga memberikan kesakitan untuk berubah menjadi bentuk kepala seribu itu. Matanya yang seribu, melambangkan watak Guan Yin yang penuh belas kasihan, mampu melihat segala hal, sedangkan tangan seribu melambangkan kemampuannya menolong umat manusia dimana saja dan kapan saja.

Semua bentuk Guan Yin baik itu wanita atau pria berkepala tunggal atau ganda, bertangan sepasang atau banyak , dengan ekspresi wajah bengis atau penyabar, mempunyai arti sendiri – sendiri. Dan yang harus diingat, apapun bentuknya, GuanYin tetap menampilkan wataknya yang pengasih dan penyayang,bahkan walau ditampilkan dalam bentuk bermata dan bertangan seribu, sekalipun, beliau tidak kehilangan watak aslinya yang luhur.

Di kelenteng Pu Ning Si yang terletak di dalam komplek Istana Kekaisaran untuk persinggahan musim panas, di Chengde, Tiongkok Utara,terdapat sebuah patung Guan Yin yang bertangan seribu terbuat dari pahatan kayu, yang merupakan patung kayu terbesar di dunia, patung ini tingginya 22 meter dan dibikin pada tahun 1755.

Kemukjijatan Guan Yin

Diantara para Dewata yang dipuja di klenteng – klenteng, Guan Yin bagi penganutnya dianggap paling sering menurunkan kemujijatan. Seorang yang telah membaca mantra : Namo Da-Bei Guan Shi Yin Pu Sa, dengan penuh ketulusan akan menerima pertolongannya lambat atau cepat, tergantung dari karma orang tersebut pada saat mengucapkan, dan kadar kesungguhan dari mantranya.

Kemujijatan Guan Yin banyak disaksikan dan diceritakan oleh para pemujanya. Kalau kita pernah bertatap muka dengan mereka, tentu ada saja keajaiban yang dituturkan selama memuja Guan Yin. Seperti Perawan Suci, Maria, dalam agama katholik, yang seringkali dilaporkan menampakkan diri atau melakukan mujijat penyembuhan seperti di Lourdes, atau patungnya mencucurkan air mata, begitu juga Guan Yin Pu Sa. Yang kami tulis disini ada beberapa peristiwa baik yang dicatat dalam kitab suci maupun pengalaman atau kesaksian seseorang :

1. Yang termuat dalam kitab penting Agama Buddha, fayuan-zhu-lin, antara lain menceritakan tentang hal ihwal Sun Jing De (Sun Keng Tek – Hokkian). Sun Jing De adalah seorang pegawai negeri bagian urusan social di kota Dingzhou, yang hidup di negeri Wei. Sun Jing De ini sangat tekun bersembahyang kepada Guan Yin dan juga telah membuat sebuah patung Sang Dewi.

Suatu ketika ia dilibatkan dalam suatu peristiwa perampokkan oleh salah seorang pelakunya. Tanpa pemeriksaan dan penelitian lagi, Sun Jing De secara serampangan lalu dijatuhi hukuman mati. Malam menjelang pelaksanaan hukuman mati, ia bermimpi bertemu seorang pendeta yang mengajarinya untuk membaca Do'a yang kemudian terkenal dengan nama Gao Wang Guan Shi Yin Jing, (Ko Ong Kuan Si Im Keng – Hokkian) sebanyak seribu kali agar dapat terbebas dari kematian. Paginya, pada saat digiring ke tempat pelaksanaan hukuman mati, Sun Jing De terus membaca do'a itu.

Tepat pada pelaksanaan hukuman mati akan dilaksanakan, Sun Jing De berhasil mencapai jumlah do'a keseribu, dan pada saat golok lagojo menabas batang lehernya, terjadilah mujijat. Golok itu pecah menjadi dua. Semua orang yang hadir di tempat situ heran. Samapai tiga kali algojo mengganti goloknya, tapi tetap saja Sun Jing De tidak terluka sedikitpun. Ketika diteliti pada leher, patung Guan Yin buatan Sun Jing De di rumahnya, ternyata terdapat tiga garis seperti bekas benda tajam. Menerima laporan ini, perdana menteri negeri itu, Gao Huan, lalu memerintahkan agar Sun Jing De dibebaskan dari semua perkara, dan dianjurkan agar do'a Gao Wang Guan Shi Ying Jing itu ditulis dan disebarkan. Sejak itu dari do'a penolong Guan Yin ini terkenal sampai sekarang.

2. Sun Dao De, seorang yang hidup pada jaman dinasti Jin, sangat gemar berdo'a. pada umur 50 tahun belum dikarunia seorang anak. Seorang bikkhu yang tinggal dalam kelenteng dekat rumahnya menganjurkan agar membaca Guan Yin Jing (Koan Im Keng) sejak itu tak lama lagi isteri hamil dan kemudian melahirkan anak laki – laki.

3. Pada tahun 1923 bulan Maret, seorang perwira angkatan darat yang sering disebut sebagai Zhang Jiang-Jun, berangkat bersama keluarganya dari Shanghai ke Nanjing dengan pesawat terbang. Setelah mengudara beberapa saat, tiba-tiba pesawat itu mengalami gangguan mesin dan mulai tidak dapat dikuasai. Zhang Jiang-jun yang biasanya sering membaca Do'a penolong Guan Yin, lalu mengajak semua orang yang ada di situ untuk berdo'a bersama. Baru saja berdo'a, dari jendela pesawat tampak Dewi Guan Yin muncul dengan tersenyum diantara awan, dan pesawat yang hamper menhunjam ke bumi itu mendadak dapat kembali naik dengan mesin hidup kembali. Sekretaris Zhang Jiang-jun sempat memotret wajah Guan Yin yang muncul diantara awan itu.

4. Pada tahun 1973 seorang perwira angkatan udara Amerika (USAF) yang sedang mengadakan penerbangan patroli di atas selat Taiwan, melihat segerombolan awan hitam yang bentuknya aneh, dia lalu memotretnya. Setelah hasil bidikan kamera itu dicuci, tampaklah gambaran Guan Yin sedang berdiri di atas seekor naga yang sedang terbang. Peristiwa ini sanggat menggemparkan dan sempat dimuat oleh beberapa surat kabar terkemuka.

5. Peristiwa ajaib terjadilah pada tahun 1977 bulan Juni. Patung Guan Yin besar yang ada di Port Stanley, Hongkong telah bergerak secara ajaib. Kejadian didahului dengan memancarnya sinar dari batu permata yang ditempelkan pada dahi patung yang bersangkutan, dan disaksikan oleh banyak umat yang pada waktu itu sedang khitmah berdo'a. berita ini sempat dikutip oleh Pikiran Rakyat, Bandung, terbitan 7 – 6 – 1977, dari salah satu harian di Hongkong.

6. Seorang penulis dari Malaysia, Guan Ming, menceritakan pengalamannya yang dimuat dalam buku yang berjudul "Popular Deities of Chinese Buddhisme" terbitan tahun 1985. pada pemulaan tahun 1979 penulis itu mengalami suatu peristiwa spiritual luar biasa yang telah merubahnya menjadi penganut Buddhist yang taat.

Berminggu- minggu ia berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan adik lelakinya yang mengidap kanker ganas. Rupanya do'a itu didengar oleh Yang Maha Kuasa dan secara tidak terduga Guan Yin Pu Sa muncul dihadapannya. Guan Yin tidak hanya menjanjikan kesembuhan buat adik lelakinya, tetapi juga mengatakan bahwa ia akan dikarunia seorang putra tahun berikutnya. Adiknya yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan hidup beberapa minggu lagi, ternyata sembuh total, dan dikaruniai seorang anak laki – laki pada tahun 1980, tepat seperti yang telah diucapkan oleh Guan Yin. Sejak itu sang penulis lalu mendirikan perkumpulan do'a Guan Yin yang berpusat di Malaysia, untuk menyebarkan agama Buddha dan memuja Guan Yin.

Pemujaan Guan Yin

Di atas telah kita singgung sedikit, bahwa pusat pemujaan Guan Yin terletak di Pu Tuo Shan, sebuah pulau kecil di sebelah timur Kabupaten Dinghai, Propinsi Zhejiang. Tiap tahun, terutama pada musim semi dan panas, para peziarah yang berjumlah puluhan ribu berbondong – bondong datang ke sini untuk bersembahyang.

Mula – mula pulau ini bernama Hai Qin Shan, nama ini tetap digunakan untuk sebuah bukit kecil yang terletak di bagian selatan pulau ini. "Pu Tuo" adalah sebuah istilah Buddha, yang berarti gunung suci Putoloka di India. Sebelah tenggara gunung ini terletak pulau Srilangka. Menurut Johnston dalam buku yang berjudul "Buddhist China", Putoloka adalah puncak bagian barat dari pegunungan Malaya di bagian selatan India. Di Tiongkok ada dua tempat yang dinamakan Pu Tuo Shan. Yang satu adalah yang telah kita bicarakan yaitu sebelah timur propinsi Zhejiang, yang satu lagi terdapat di Tibet.

Jadi Pu Tuo adalah kependekkan dari Putoloka, Pu Tuo berarti bunga putih, sedangkan "loka" berarti gunung. Sebab itu pengarang – pengarang jaman dinasti Yuan menyebut Pu Tuo Shan sebagai Xiao Bai Hua Shan (Gunung Bunga Putih Kecil). Konon memang gunung Pu Tuo Shan banyak ditumbuhi oleh bunga putih yang dalam bahasa Latin disebut Gardenir Florida.

Pendeta – pendeta jaman dinasti Tang, karena melihat bunga – bunga ini lalu memilih gunungnya sebagai pusat pemujaan, ataukah melihat gunungnya lebih dahulu baru kemudian menanam bunganya, sulit diterangkan.
Para pemuja Guan Yin menganggap tanggal 29 bulan 8 Imlik sebagai tanggal perayaan kelahirannya (sebagian ada yang merayakan pada tanggal 19 bulan 2 Imlik), karena dalam setahun, pada tanggal itulah ombak paling besar, dikaitkan dengan Guan Yin sebagai Dewi Pelindung Lautan.

Tapi kalangan awam cenderung untuk menganggap Guan Yin adalah nama gabungan dari beberapa Guan Yin Pu Sa. Ada Guan Yin Pu Sa sebagai pelindung lautan, Guan Yin Pu Sa sebagai Dewi Pemberi Anak dan lain – lain yang masing – masing dicarikan hari lahir tersendiri. Ini menyebabkan kita sering menemui perayaan hari lahir Guan Yin Pu Sa tidak sama diberbagai tempat dalam setahun, kecuali bulan yang – 12 dalam 11 bulan lainnya tentu terdapat hari lahirnya, yang berarti juga hari vegetarian (Ciak Jay), bagi para pemujanya.

Di Guang Zhou, tanggal 24 bulan 2 Imlik, sering dianggap sebagai hari lahir Guan Yin Pengantar Anak. Pria dan wanita dari berbagai pelosok perkumpulan menjadi satu dalam suatu perayaan yang disebut Sheng Cai Hui (perayaan sayur mentah). Para pengikut upacara biasanya datang ke pusat perayaan dengan membeli sayur mentah, dengan harapan memperoleh tuah melahirkan anak, sebab "Sheng Cai" (yang berarti sayur mentah) dan "Sheng Zai" (yang berarti melahirkan anak), punya suara yang mirip. Di tempat perayaan dibuat kolam kecil.

Dalam kola mini sebelumnya telah dimasukkan sejumlah kerang dan keong. Orang – orang yang datang kemari memasukkan tangannya ke dalam kolam, kalau yang terambil adalah keong, maka ia boleh berharap memperoleh anak lelaki, tapi kalau kerang yang terambil, harapannya anak perempuan.

Kebiasaan ini asal – usulnya dapat ditelusuri pada masa pemerintahan Kaisar Wen Zong (827 – 840 M). Kaisar Wen Zong gemar sekali akan tiram. Pada suatu hari ia menemukan tiram yang besar, yang kulitnya keras sekali. Setelah berhasil dibuka ternyata didalamnya terdapat patung Guan Yin kecil Kaisar terperanjat, barulah setelah mendengar penjelasan dari para ahli filsafat kerajaan, ia sadar dan menjadi penganut Guan Yin yang tekun, dan banyak mendirikan kelenteng untuk Guan Yin. Pemujaan Guan Yin sejak itu jadi sangat berkembang, Kaisar meninggal tahun 840, dan kelenteng di Pu Tuo Shan selesai didirikan pada tahun 847 M.

Para pemuja Guan Yin berpantang makanan daging sapi, burung dara, udang, ikan yang tidak bersisik, sarang burung (Yan – oh), daging kuda, daging anjing, bulus dan jenis kerang. Harapan mereka terbesar adalah dapat melihat wajah Guan Yin. Mereka yang pergi ke Pu Tuo Shan pasti menyempatkan diri memasuki gua dimana Guan Yin pernah menampakkan diri. Ada yang sampai membakar sepuluh jarinya dengan api lilin, agar bisa meraga sukma dan bertemu sang Dewi.

Kebiasaan ini jelas berasal dari India. Konon orang yang melakukan cara itu tidak ada yang tidak berhasil melihat Guan Yin. Meskipun ada variasi di berbagai daerah tentang hari lahir Guan Yin, tapi secara garis besar dapat dikatakan umumnya ada 3 hari besar untuk menghormati Dewi Welas Asih ini. Ke 3 hari besar tersebut adalah :
1). Tanggal 19 bulan 2 Imlik adalah hari kelahirannya.
2). Tanggal 19 bulan 6 Imlik adalah hari menjadi Pendeta.
3). Tanggal 19 bulan 9 Imlik adalah hari memperoleh penerangan.

Pada hari – hari ini, para pemuja yang telah merasa pernah memperoleh pertolongan Guan Yin berbondong – bondong memenuhi kelenteng pemujaan Guan Yin, membawa barang persembahan, melepaskan burung – burung dan binatang lain, melakukan pantang makan berjiwa, melaksanakan perbuatan amal dengan berkunjung ke rumah jompo dan rumah penampungan anak caact dan lain – lain kegiatan social dan ritual.

Biasanya ada 5 larangan yang dipatuhi :
1). Tidak membunuh atau menyiksa mahluk hidup lain.
2). Tidak mencuri atau mengambil yang bukan jadi haknya.
3). Tidak berbuat jinah.
4). Tidak berbohong atau membual.
5). Tidak minum minuman keras atau barang lainnya.

Biasanya sepanjang hari diisi dengan acara pembacaan kitab suci dan meditasi secara masal, serta perenungan. Yang lebih tekun biasanya melakukan pembacaan parita dan meditasi untuk kebahagiaan semua umat manusia sampai beberapa hari. Guan Yin tidak hanya dipuja di kelenteng – kelenteng, di daratan tiongkok, Hongkong, dan Taiwan.

Seiring dengan menyebarnya orang Tionghoa perantauan di Asia Tenggara, maka di Malaysia, Singapura dan Indonesia juga banyak dijumpai kelenteng yang khusus diperuntukkan Guan Yin.

Khusus di Jawa terbesar adalah kelenteng Dewi Welas Asih di Banten, Jawa Barat. Selain itu, tidak terhitung banyaknya rumah yangmemujanya dalam sebuah altar pribadi, baik di kota – kota besar sampai jauh di desa kecil di pegunungan. Dewata lain mungkin dipuja dan dihormati bercampur rasa takut, tapi Guan Yin begitu dekat di hati, ia dihormati sekaligus dicintai. Dewata lain mungkin berwajah bengis dan angker. Tapi Guan Yin selalu tersenyum lemah lembut dan bersahaja.
Begitu dekat pengaruh Guan Yin dalam masyarakat, sampai – sampai seorang gadis akan sangat bangga apabila ia disebutkan sebagai ia mirip dengan Guan Yin hidup. Memang Guan Yin dari dulu sampai sekarang juga dianggap sebagai lambang kecantikan dengan bibir merah, kulit halus, alis lentik dan langkah yang lemah gemulai.

Sebagai garis besar, di kalangan rakyat, Guan Yin dianggap Boddhisatva penolong bagi orang yang sedang dalam kesusahan dan kesengsaraan. Juga dianggap penolong roh – roh yang mengalami penderitaan di neraka, sebab itu ia ditampilkan dalam sembahyang memberi makan roh – roh kelaparan yang jatuh pada bulan 7 Imlik, dengan nama Pu Du Gong (atau tuan yang menolong penyeberangan). Secara umum ia dipanggil Guan Yin Fo Zhu atau Guan Yin Ma dan lain – lain, sebutan akrab. Begitulah kira – kira betapa meresapnya pemujaan Guan Yin dalam masyarakat.

Dalam sejumlah kitab Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Legenda Kakak - Kakak Putri Miao Sin:

Bun Cu Pho Sat / Wen Shu Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Kebijaksanaan Yang Luar Biasa. Kata Bun Cu Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Manjusri Bodhisatva, yang artinya "Bodhisatva Dengan Keagungan Yang Lemah Lembut".

Tokoh Manjusri berasal dari tanah India dan setelah agama Buddha memasuki daratan Tiongkok, tokoh ini mengalami perubahan gender. Sama seperti tokoh Avalokitesvara Bodhisatva, tokoh ini awalnya adalah sosok seorang pria. Menurut kitab-kitab Mahayana kuno, dituturkan bahwa Manjusri adalah tokoh yang dalam berbagai kehidupanNya yang lampau (Reinkarnasi) sering kali menjadi orang tua dari para Buddha.

Dipercaya bahwa Budha Sakyamuni adalah keturunan Manjusri setelah 9 (sembilan) generasi. Selain itu juga dituturkan juga bahwa Manjusri adalah Kepala Pengawas Para Bodhisatva. Probabilitas perubahan gender Manjusri di Tiongkok terjadi bersamaan dengan perubahan yang dialami oleh Avalokitesvara, dengan latar belakang yang sama. Berdasarkan pada legenda Puteri Miao Shan, setelah Miao Shu diangkat menjadi Pho Sat,

Beliau dinamakan Bun Cu Pho Sat dan berkedudukan di gunung Wu Tai Shan. Tugas Bun Cu Pho Sat adalah mengajar umat manusia agar terbebas dari kegelapan bathin. KepadaNya diberikan binatang tunggangan berupa seekor Singa Hijau, yang asalnya adalah siluman api. Sebenarnya singa hijau tersebut melambangkan nafsu pikiran yang liar, yang hanya dapat ditundukkan dengan bermeditasi.

Seperti yang telah diceritakan di atas, Bun Cu Pho Sat umumnya ditampilkan sebagai seorang puteri yang mengendarai atau duduk di atas punggung seekor Singa Hijau. Kadang ditampilkan dengan membawa pedang, yang disebut pedang kebijaksanaan, dan membawa gulungan kertas yang diikat tali, yang isinya adalah ajaran kebijaksanaan. Bun Cu Pho Sat boleh dikatakan tidak pernah tampil sendirian, umumnya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) serangkai, yaitu Bun Cu Pho Sat – Kwan Im Pho Sat – Pho Hian Po Sat.

Po Hian Pho Sat / Pu Xian Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Sila atau Moralitas Yang Sangat Luhur. Kata Po Hian Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Samantabhadra Bodhisatva, yang artinya "Bodhisatva Yang Memiliki Kebajikan Universal".

Sama seperti tokoh Kwan Im Pho Sat dan Bun Cu Pho Sat, tokoh Po Hian Pho Sat juga berasal dari India dan mengalami perubahan gender di daratan Tiongkok karena pengaruh legenda Puteri Miao Shan.

Menurut Kitab Buddhis Mahayana Kuno, dituturkan bahwa Samantabhadra Bodhisatva sesungguhnya memiliki tubuh yang besarnya tiada batas. Karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, Beliau mengubah wujudNya menjadi seorang pria yang mengendarai seekor Gajah Putih.

Warna putih sang Gajah ini sungguh luar biasa, bahkan sampai puncak Himalayapun tidak bisa menandinginya (Puncak Himalaya selalu tertutup salju putih). Dalam legenda Puteri Miao Shan dikisahkan bahwa Miao Yin diangkat menjadi Pho Sat dengan nama Po Hian Pho Sat dan berkedudukan di gunung E Mei Shan serta bertugas untuk memberikan kesejahteraan kepada orang banyak.

KendaraanNya adalah seekor Gajah Putih yang berasal dari siluman Air. Gajah Putih ini juga mengandung arti kesucian dari moralitas. Terkadang Gajah tungganganNya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) kepala dan 6 (enam) gading. Pada umumnya, belalai sang Gajah Putih selalu membawa setangkai bunga teratai, lambang dari ajaran Po Hian Pho Sat yang terkenal yaitu Sutra Bunga Teratai. [Suryani Lin, Medan - tionghoanews.com]
Selanjutnya ->

Sabtu, 11 Juni 2011

ASAL MUASAL TANDU PENGANTIN CINA

Tandu merupakan salah satu kendaraan yang sering digunakan pada jaman dahulu oleh orang-orang Tionghoa yang kaya, sedangkan yang kurang mampu biasanya naik keledai atau berjalan kaki.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri jika naik tandu dibandingkan keledai yang seringkali ribut. Pada perayaan-perayaan tertentu, seperti pesta pernikahan, tandu digunakan untuk menghantar pengantin wanita ke rumah pengantin pria, baik oleh orang kaya maupun orang miskin.

Ada asal usul mengapa tandu digunakan pada pesta pernikahan.

Terdapat seorang kaisar bijaksana yang sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Suatu saat sang kaisar dan para anak buahnya sedang berlalu di sebuah perbukitan, tiba-tiba pemandu memberi tahu bahwa iring-iringan akan terhalang oleh iring-iringan lain.

Maka sang kaisar keluar dari tandu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebuah iring-iringan pernikahan penuh kegembiraan sedang berjalan dengan pengantin wanita mengendarai keledai. Melihat kejadian menggembirakan itu, sang kaisar turut bergembira.

Pada saat kedua rombongan bertemu, rombongan pengantin wanita yang tidak mengetahui bahwa rombongan didepan adalah rombongan kaisar, tidak bersedia mengalah, demikian pula rombongan sang kaisar.

Akhirnya sang kaisar menemukan sebuah ide, ia berkata kepada pengantin wanita, "Tidak hanya aku akan memberikan jalan kepadamu, aku juga akan meminjamkan tanduku jika kamu bisa membuat puisi saat ini juga."

Pengantin wanita lalu berpuisi, "Melihat rombonganmu, melihat rombonganku. Bukan masalah siapakah pemilik jalan ini. Melihat tandumu, melihat keledaiku. Tidak peduli manakah yang terbaik untuk pesta pernikahanku. Anda haruslah bermurah hati dengan meminjamkan tandu anda. Siapa dapat berkata bahwa saya adalah orang sederhana dan anda orang terhormat. Tidak ada perbedaan disini, hanya sekelompok orang yang ada."

Sang kaisar sangat terkesan dengan puisi itu, sehingga ia meminjamkan tandunya. Adanya hal itu membuat pesta pernikahan yang ada menjadi semakin menarik perhatian orang ramai.

Sejak itu, setiap pesta pernikahan selalu menggunakan tandu, meskipun terkadang hanya sebuah tandu sederhana.

Meskipun saat ini sudah sangat jarang pesta pernikahan yang menggunakan tandu, namun tandu tetap digunakan pada perayaan-perayaan tradisional. (Li Hua, Sambas - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

SEPASANG PATUNG SINGA CINA DI DEPAN PINTU

Setiap masuk kantor saya selalu disambut dua patung singa batu. Patung singa dengan pahatan khas Cina ini ada empat buah, yang diletakkan dua buah di dua pintu masuk gedung Standard Chartered, di mana kantor saya berada. Awalnya saya cuek saja tiap melewati patung-patung itu. Sepintas terlihat biasa saja, seperti patung buto atau raksasa membawa gada di kebudayaan Jawa.

Sampai suatu saat saya berkesempatan berkunjung ke negeri Cina. Kebetulan saya juga berkesempatan jalan-jalan di Kota Terlarang, bekas Istana para kaisar Cina, yang ada di Beijing. Di kawasan yang sekarang menjadi museum istana itu, saya kembali melihat sepasang singa batu seperti yang ada di kantor saya. Hanya saja yang di istana ini bentuknya jauh lebih besar.

Saat itu saya melihat dari kejauhan dan bertanya pada Rose, pemandu wisata saya. Lalu Rose menjelaskan bahwa sepasang patung itu adalah Singa Batu alias shísh?zi. Disebut Singa Batu karena mayoritas Singa Cina itu terbuat dari batu. Patung ini dibuat dari berbagai bahan seperti batu marmer atau granit. Ada juga yang dibuat dari keramik dan cor perunggu.

Patung yang selalu dibuat sepasang ini merupakan hiasan bagi bagunan di kebudayaan Cina. Misalnya di Istana, kuil atau pagoda, makam kaisar, kantor, dan kediaman pejabat tinggi. Patung ini juga ada di jembatan, taman, hotel, dan rumah makan. Makanya di setiap bangunan yang pemiliknya masih menjunjung budaya Cina, akan ada sepasang singa itu.

Rose kemudian memberitahu bahwa Singa Batu itu selalu dibuat sepasang, jantan dan betina. Singa jantan ada di sebelah kiri dan singa betina ada di sebelah kanan. Nah, lalu bagaimana cara membedakan kedua singa itu? Ternyata mudah membedakan dua singa yang sepintas kelihatan sama itu, yaitu dari bagian kakinya. Singa jantan, kaki kanannya mencengkeram bola, sementara singa betina kaki kirinya mencengkeram anak singa.

Singa jantan mencengkeram bola untuk melambangkan kesatuan seluruh negeri. Sementara Singa betina dengan anaknya menggambarkan kebahagiaan keluarga. Dalam budaya Cina semua hal memang selalu dibuat sepasang. Ini karena mereka menganut filosofi Yin Yang. Semua sepasang ada Yin ada Yang, ada jantan ada betina, ada bumi, ada langit, ada siang, ada malam, dan sebagainya.

Patung Singa Cina itu ternyata bukan hanya hiasan semata. Singa Cina itu juga digunakan untuk menunjukkan peringkat atau kedudukan seorang pejabat negara. Tiap tingkatan pejabat bisa dilihat dari jumlah rambut keriting di patung singa itu. Jadi tidak semua pejabat boleh memasang patung itu di rumahnya.

Mengapa orang Cina memilih singa? Alasannya ternyata sama dengan bangsa lainnya, yaitu karena singa merupakan raja para binatang. Lihat saja beberapa negara seperti Inggris yang juga memakai singa sebagai lambing negaranya. Lalu anda pasti bertanya, bukankah di Cina tidak ada singa? Hal yang sama juga menjadi pertanyaan saya. Ternyata dulu kaisar Cina di jaman Dinasti Han pernah mendapat persembahan singa dari negeri lain yang ada singa di wilayahnya.

Lalu seniman di zaman itu membuatnya dengan pahatan khas Cina. Maka lahirlah patung singa batu tersebut. Jika dilihat-lihat, patung itu lebih mirip binatang mitologi Cina dibanding singa aslinya.

Sesampainya di tanah air, dan kembali ngantor, saya lalu memperhatikan sepasang Singa Cina di kantor saya. Memang benar, ada bola dan anak singa yang membedakan keduanya. Nah, kini saya jadi tahu mengenai patung singa cina ini. Sekarang saya tahu mana jantan, mana betina. Mana ibu singa, mana bapak singa. (Soffie Lim, Jakarta - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

Jumat, 10 Juni 2011

XIAO YOU, SI BURUNG ANTIK DI SHANXI CHINA

Sebuah patung perunggu prasejarah dari Museum Propinsi Shanxi ini tiba-tiba menjadi sorotan. "Ini adalah salah satu barang antik lucu yang pernah saya lihat," kata seorang penulis. "Benar-benar seperti Angry Birds versi China prasejarah".

Lalu banyak yang bertanya-tanya, kira-kira pada zaman tahun pembuatannya, barang ini menggambarkan apa dan digunakan untuk apa ya? Setelah ditelusuri, barang ini bernama "Xiao You".

"Xiao" adalah burung hantu, sementara "you" adalah digunakan sebagai tempat minum. Ini sebuah karya seni indah dari akhir Dinasti Shang (1600BC - 1046BC) - dari lebih dari 3.000 tahun yang lalu. (Yong Kai, Pontianak - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

Kamis, 09 Juni 2011

YUAN SHAO, PENGUASA UTARA ZAMAN TIGA NEGARA TIONGKOK KUNO

Yuan Shao, bernama lengkap Yuan Benchu, (154 – 202) adalah salah seorang penguasa daerah utama yang menguasai daerah utara Tiongkok pada Zaman Tiga Negara. Ia juga kakak sepupu (sumber lain:saudara tiri) dari Yuan Shu, penguasa daerah sekitar sungai Huai.

Sebagai salah satu penguasa terkuat di zamannya, Yuan Shao merintis koalisi penguasa daerah melawan Dong Zhuo yang menguasai istana dan berkuasa atas kaisar Xian. Pada tahun 200, ia memimpin ekspedisi melawan Cao Cao tetapi kalah telak pada Pertempuran Guandu. Ia meninggal 2 tahun kemudian di kota Ye.

Terlahir di keluarga ningrat, Yuan Shao adalah putra dari mantan Menteri Interior Yuan Feng dan keponakan dari Menteri Yuan Wei. Walaupun ia membantu Dong Zhuo dalam membantai sida-sida, Yuan Shao menentang Dong Zhuo mengganti kaisar Bian. Akhirnya ia mendirikan koalisi melawan Dong Zhuo dan terpilih menjadi Komandan Utama. Mereka berhasil menguasai Luoyang tetapi gagal menumpas Dong Zhuo.

Ketika perpecahan terjadi pada koalisi, Yuan Shao mulai melakukan penaklukkan daerah utara. Awalnya ia banyak meminjam suplai makanan dari Jizhou, daerah yang kaya tetapi lemah dalam pertahanan. Mengikuti saran Feng Ji, Yuan Shao meminta bantuan dari Gongsun Zan untuk menyerang Jizhou. Ketika Han Fu, sang penguasa Jizhou menyerah, Yuan Shao memimpin dan merekrut banyak talenta dari distrik tersebut. Janji Yuan Shao untuk berbagi daerah dengan Gongsun Zan tidak ditepati sehingga Gongsun Zan berupaya menyerang Yuan Shao. Gongsun Zan gagal dalam upayanya dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Saat ini Yuan Shao berhasil menguasai hampir seluruh daerah utara seperti Youzhou, Qingzhou, dan Bingzhou. Banyak kesuksesan Yuan Shao ditunjang oleh pemikiran Tian Feng dan Ju Shou; ini mengakibatkan kecemburuan dari penasehat yang lain seperti Guo Tu dan Feng Ji.

Kekuatan politik Cao Cao di istana meresahkan Yuan Shao. Suatu ketika, Yuan Shao memiliki kesempatan untuk menghancurkan Cao Cao saat Cao Cao sedang sibuk bertikai dengan Lu Bu,Liu Bei,Yuan Shu dan Zhang Xiu. Kesempatan itu dilewatkannya karena putra bungsunya sakit. Pada saat ia memutuskan untuk menyerang, Cao Cao telah membangun kekuatan dan siap untuk bertempur. Yuan Shao meminta bantuan para penasehatnya, tetapi tidak terdapat kata sepakat di antara mereka. Walaupun Tian Feng dan Ju Shou telah memberi analisa yang brilian, tetapi Yuan Shao lebih memilih solusi yang diberikan Guo Tu dan Shen Pei.

Dengan seluruh kekuatannya ditempatkan di Guandu, Yuan Shao banyak melakukan kesalahan demi kesalahan dengan puncaknya adalah pengkhianatan Xu You dan musnahnya gudang persediaan makanan di Wuchao. Seluruh kekuatan yang telah ia kumpulkan akhirnya hancur dalam suatu pertempuran. Yuan Shao juga tidak berhasil untuk bersekutu dengan Yuan Shu yang kerap memusuhinya. Kebodohan, keserakahan, ketidak mampuan untuk mengambil keputusan dan kesombongan akan kekuasaan adalah hal-hal yang menyebabkan kehancuran dininya. (Wei Wei, Jogjakarta - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

CAO WEI, SALAH SATU DARI TIGA NEGARA TIONGKOK DULU

Cao Wei (220 - 265) kadang-kadang juga disebut sebagai Bei Wei atau Wei Utara adalah salah satu negara di Zaman Tiga Negara dalam sejarah Tiongkok. Negara ini didirikan oleh Cao Pi dengan peletakan dasar oleh ayahnya, Cao Cao.

Cao Pi menjadi kaisar pertama dengan gelar Wendi pada tahun 220. Seluruhnya ada 5 kaisar yang memimpin negara ini sampai kudeta oleh keluarga Sima dan abolisi negara Cao Wei menjadi Dinasti Jin pada tahun 265.

Sebelum berdirinya negara Cao Wei, penghujung Dinasti Han diwarnai dengan pecahnya perang saudara di antara raja-raja perang. Salah satu raja perang terkuat adalah Cao Cao, yang menyandera Kaisar Xian untuk melegitimasi kedudukannya sebagai perdana menteri.

Cao Cao menumpas satu per satu raja-raja perang kecil di utara Tiongkok. Ia kemudian berhasil mempersatukan utara Tiongkok setelah menaklukkan Yuan Shao dalam Peperangan Guandu. (Wei Wei, Jogjakarta - tionghoanews.com)
Selanjutnya ->

Selasa, 07 Juni 2011

TRADISI CUKUR RAMBUT BOTAK KALANGAN TIONGHOA

Tradisi mencukur rambut bagi bayi ternyata dikenal di beberapa agama dan kepercayaan. Di agama Hindu misalnya, tradisi ini diberi nama upacara mundan yang dianggap sebagai upacara penyucian. Sedangkan di masyarakat Tionghoa, tradisi mencukur rambut bayi disebut Mun Yuet, yang dilakukan saat bayi berusia satu bulan.

"Upacara itu (mencukur rambut) diharapkan kelak karma buruk dari reinkarnasi masa lampau tidak ikut terbawa di kehidupan bayi yang sekarang. Si jabang bayi diharapkan pula terlahir sebagai orang baik untuk saat ini dan nanti," ujar tokoh spiritual Tionghoa Solo, Romo Djoenaidi, pekan kemarin.

Ditambahkan Romo Djoenaidi, tradisi ini juga dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang maha kuasa, agar pula kesejahteraan dan keselamatan selalu menaungi sang bayi di kehidupannya.

Untuk saat ini memang tidak banyak dari umat Tionghoa yang masih melaksanakan tradisi Mun Yuet. Kebanyakan dari mereka yang masih menjalankan tradisi ini adalah para penganut kepercayaan adat istiadat keagamaan. "Yang tidak melaksanakan mungkin mereka kurang mengerti dengan makna dari upacara Mun Yuet sendiri," kata Romo Djoenaidi.

Setelah tradisi Mun Yuet digelar, kemudian dilanjutkan dengan tradisi hantaran makanan (membagi-bagi makanan) yang diberikan kepada tetangga dan sanak saudara. Di tradisi ini makanan yang diberikan beraneka ragam sebagai simbol dan memiliki makna. Hal ini sedikit berbeda dengan tradisi Jawa yang membagi-bagikan makanan berupa urap-urapan atau sayur-sayuran hijau.

Makanan di tradisi hantaran setelah upacara Mun Yuet di antaranya, pertama, pisang dua buah yang masih tergandeng. Ini sebagai simbol keutuhan keluarga yang memiliki hajatan. "Kedua pisang dalam tradisi tidak boleh putus dan harus tetap tergandeng," kata Romo Djoenaidi.

Kedua, yaitu satu butir telur yang diberi warna merah. Merah sendiri bagi masyarakat Tionghoa merupakan perlambang kebahagiaan, seperti halnya warna merah menyala saat perayaan Imlek. "Harapannya dengan membagikan telur warna merah, kebahagiaan selalu menyertai kehidupan keluarga yang bersangkutan," jelas Romo Djoenaidi.

Makanan ketiga yaitu kue ku atau kue kura-kura yang memiliki simbol panjang umur. Selain itu pasangan keluarga diharapkan selalu sukses dan banyak rezeki di kehidupannya. Kue jenis ini berbentuk bulat-bulat dan disusun rapi saat dibagikan. "Harapannya, ya seluruh keluarga panjang umur dan banyak rezeki," kata Romo Djoenaidi. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
Selanjutnya ->

RIBUAN WARGA PONTIANAK MANDI USHI

Ribuan warga Tionghoa di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melakukan tradisi mandi tengah hari atau mandi U-Shi, bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 Imlek di Sungai Kapuas karena diyakini dapat membawa keberuntungan dan membuang sial.

"Setiap tahun saya dan keluarga selalu mandi di Sungai Kapuas untuk membuang sial pada diri sendiri dan keluarga," kata Ji Song (40) warga Gang Selat Sumba, Siantan di Pontianak, Senin.

Ia menjelaskan, tradisi mandi U-Shi sudah dilakukan turun-temurun sejak nenek moyangnya sehingga dia dan keluarga juga turut serta melestarikan budaya leluhurnya itu.

"Selain mandi, saya juga menyimpan air mandi ini (air Sungai Kapuas) agar sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mandi kembang dan mengusir roh jahat," kata Ji Song.

Hal senada juga diakui oleh Amin (45) warga Darma Bhakti Siantan Tengah. Dia dan keluarganya sebelum melakukan mandi U-Shi diawali dengan sembahyang di kelenteng memohon agar diberikan keberuntungan dan dihindarkan dari segala macam penyakit hingga satu tahun ke depan. "Biasanya kalau sudah mandi U-Shi kalau kita yakin pasti apa yang kita harapkan dikabulkan," ujarnya.

Pengurus Vihara Bodhisatva Karaniya Metta Pontianak Tjeng Tiau Sui (60) mengatakan, tradisi mandi sebelumnya melakukan makan besar yakni makan kue bakcang.

"Tujuannya agar di masa mendatang bisa mendapatkan keberuntungannya. Tradisi mandi Bakcang dimulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB kalau lebih dari itu sudah tidak boleh lagi karena dipercaya air yang digunakan untuk mandi sudah kemasukan roh jahat," katanya.

Menurut Lie Sau Fat atau XF Asali, seorang tokoh Tionghoa di Pontianak, kalangan tabib Tionghoa juga menggunakan air sungai yang mengalir antara pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB itu untuk campuran ramuan obat.

Dia mengatakan, tradisi mandi di sungai pada tanggal 5 bulan 5 itu sudah diwarisi warga tiongoa secara turun-temurun. Namun selama ini tradisi itu tidak terlalu diketahui banyak orang. Hanya kalangan keluarga yang sudah mengamalkan dan mengetahui dari orang-ornag tua saja yang melakukannya.

Sementara ada yang menyebut tradisi itu sebagai Festival bakcang, yang salah satu kegiatannya dengan mandi tengah hari.

Tradisi mandi itu untuk mengenang Qu Yuan seorang pujangga terhormat yang mengakhiri hidupnya dengan cara sangat memilukan yakni terjun ke Sungai Mu luo.

Pujangga (Qu Yuan) yang setia dan berjiwa patriot itu terjun ke Sungai Mu Luo karena merasa kecewa dengan pemerintahan Raja Xiang. Ia diusir dari kerajaan atas hasutan dari sang durjana, Zi Lan. Lalu mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Mu luo.

Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar sungai itu khawatir ikan atau udang akan mematuk jenazah Qu Yuan, lalu segera membungkus nasi dengan daun seperti Bakcang dan membuang ke sungai agar jadi makanan ikan dan udang, sehingga jenazah Qu Yuan tetap utuh.

Dari lapangan ribuan warga Tionghoa Kota Pontianak baik tua dan muda mulai pukul 12.00 WIB berlomba-lomba mandi di Sungai Kapuas untuk membersihkan diri dan berharap mendapat berkah. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
Selanjutnya ->

Senin, 06 Juni 2011

WU JING, UNTAIAN LIMA SUTRA AGAMA KONGHUCU

Wu Jing atau Untaian Lima Sutra adalah salah satu kumpulan dari Kitab Suci agama Konghucu. Kelima Sutra itu masing-masing adalah

Shi Jing (Kitab Sanjak):

Disebut juga sebagai Pa Jing (Kitab Kuncup Bunga). Terdiri dari 39.222 huruf, merupakan kumpulan 311 sanjak dari seleksi 3000-an sanjak yang dilakukan Nabi Khongcu melanjutkan rintisan Zhuo Gong kini tinggal 305 yang ada (6 hilang waktu pembakaran kitab, yakni sanjak No. 171, 172, 173, 174, 206, 209). Sanjak tertua berasal dari Dinasti Shang (1766-1122 SM) dan termuda dari zaman Zhou Ding Wang (605 -586 SM). Kitab ini terdiri dari 4 bab:
  • Guo Feng (Nyanyian Rakyat) menggambarkan adat-istiadat, 15 buku 160 sanjak.
  • Xiau Ya (Pujian kecil), puja pengiring upacara di istana, 8 buku 80 sanjak
  • Da Ya (Pujian Besar), kidung puja untuk Wen Wang, 3 buku 31 sanjak
  • Song (Kidung Suci) untuk mengiringi peribadahan, 3 buku 40 sanjak.
Shu Jing (Kitab Hikayat):

Kitab ini disebut juga sebagai Shang Shu (Kitab Pandita/Mulia) dan Zai Jing (Kitab Tarikh/Buku Zaman) serta Bi Jing (Kitab Tembok) karena ditemukan di dalam tembok rumah Nabi Khongcu, sehingga selamat dari zaman pembakaran kitab. Kitab ini terdiri dari 25.700 huruf dengan 58 bab (4 buku 6 jilid):
  • Yu Shu yang berisi Yao Dian dan Shun Dian (perundangan Baginda Yao dan Shun)
  • Xia Shu yaitu 4 bab naskah Dinasti Xia (2205-1766 SM)
  • Shang Shu yang terdiri atas 17 bab naskah Dinasti Shang (1766-1122 SM)
  • Zhou Shu yang terdiri atas 3 jilid 32 bab naskah Dinasti Zhou (1122-255 SM)
Yi Jing (Kitab Perubahan):

Nama lain dari kitab Yi Jing adalah Kitab tanda-tanda/simbol-suci. Kitab ini merupakan Kitab langit (Tian Shu) yang mengandung nilai sakral ketuhanan, karenanya bersifat universal. Kitab ini terdiri dari 24.707 huruf yang berisi:
  • Iman akan Tuhan (Wu Ji, Tai Ji, Yin Yang) dengan diagram Ba Gua lengkap dengan uraian Hexagram turunannya.
  • Penjelasan Gua yang disebut Tuan oleh Wen Wang dan Yao yang disebut Xiang oleh Zhou Gong
  • Tafsir pengertian dan penjelasan Shi Yi oleh Nabi Khongcu
Li Jing (Kitab Kesusilaan):

Kitab ini dinamai juga Dai Jing (karena jasa marga Dai dalam mengumpulkan kembali setelah pembakaran kitab). Terdiri dari 99.020 huruf, oleh Nabi Khongcu dipilah menjadi 3:
  • Zhou Li (Kesusilaan Negeri Zhou) susunan Zhou Gong. Di dalamnya terdapat uraian tentang Liu Guan Enam Departemen yang merupakan Tata Negara Negeri Zhou, pada zaman Han disebut sebagai Zhou Guan yang sebelumnya disebut Zhou Guan Li.
  • Yi Ji (Kesusilaan dan Peribadahan) yang berisi tata agama dan tata ibadah negeri zhou susunan Zhou Gong, yang sering dipakai oleh Nabi Khongcu sebagai acuan. Dinamai juga Li Cu Jing Kitab Kesusilaan Kuno.
  • Li Ji (Catatan Kesusilaan) yang berisi himpunan tulisan tentang nilai agamis dan moral dasar kaum Ru, sekaligus sebagai terapan dan penafsiran dari 2 kitab tersebut di atas. Merupakan kumpulan tulisan yang berasal dari Nabi Khongcu, murid-murid beliau, ada juga tambahan dari tokoh Ru dinasti Han (3 bab Ming Tang, Yue Ling, Yue Ji) ditambah hasil kerja marga Dai yang 46 bab jadi berjumlah 49 bab.
Chun Qiu Jing (Kitab Chun Qiu):

Kitab ini disebut juga dengan nama Lin Jing (Kitab Qi Lin) yaitu hewan suci yang berhubungan erat dengan kelahiran Nabi Khongcu dan peristiwa terbunuhnya mengakhiri kalam kitab ini). Kitab ini terdiri dari 18.000 huruf hasil karya Nabi Khongcu sendiri, merupakan risalah dan kronik, sekaligus "Pengadilan" zaman Chun Qiu, sekaligus "cermin" untuk mengenal Nabi Khongcu (lihat Meng Zi, III B; 8, VI B 21, VII B;2)

Ada 3 Kitab Tafsir (komentar) yang menjadi pelengkap dari Kitab Chun Qiu ini yakni,
  • Chun Qiu Zuo Zhuan oleh Zuo Qiu Ming, sahabat sekaligus "murid" Nabi Khongcu. Tafsir ini paling cocok dan uraiannya pas dengan Guo Yi; sering dijadikan satu dengan Chun Qiu Jing karena paling dekat.
  • Chun Qiu Gong Yang Zhuan susunan Kong Yang Goa pada akhir Dinasti Zhou hidup pada zaman Zhan Guo murid Perguruan Zi Xia.
  • Chun Qiu Cu Liang Zhuan susunan Gu Liang Chi pada awal Dinasti Han, juga murid dari perguruan Zi Xia. (*)
http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Anna Lim, Bandung
Selanjutnya ->

TAUCANG, GAYA KUNCIR RAMBUT DINASTI QING

Kuncir (taucang) pria Tionghoa di zaman dulu hanya ada di zaman Qing (1644 – 1911). Kuncir ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari mode rambut orang Manchuria. Batok kepala dibagi 2, depan dan belakang. 1/2 bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di 1/2 bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir (diikat)

Asal mula kuncir menjadi tradisi mode orang Manchuria menurut catatan sebuah buku mengenai orang Manchu yang pernah saya baca adalah dikarenakan kebiasaan dan budaya orang Manchu. Orang Manchu berasal dari Tiongkok Timur Laut dekat perbatasan Korea. Asalnya dari suku Nujen, suku ini salah satu suku dalam Dinasti Ming. Suku Nujen asalnya dari Kerajaan Kim. Kerajaan Kim ini adalah kerajaan yang disinggung dalam Pendekar Pemanah Rajawali-nya Jin Yong yang mengambil latar belakang sejarah Dinasti Song.

Orang Manchuria bersama orang Mongol adalah sama2 suku bangsa yang mahir berkuda. Untuk memudahkan, maka rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat, bila tidak, rambut akan tertiup angin kencang ke sana kemari. Orang Mongol juga punya kebiasaan menguncir rambut karena kebiasaan berkuda ini.

Orang Han tidak seberapa mahir berkuda dibandingkan Mongol dan Manchuria. Orang Han yang berkuda biasanya cuma memakai serban (sarung ikat kepala) untuk mengikat rambut mereka. Lama kelamaan, tradisi menguncir rambut ini menjadi kebiasaan dan budaya orang Manchuria.

Kaisar ketiga Dinasti Qing, Sunzi atas bantuan Wu San-gui berhasil menerobos Tembok Besar dan menguasai Beijing tahun 1644. Untuk memperkuat legitimasi penaklukan atas orang Han, Sunzi memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambutnya sesuai tradisi kuncir orang Manchuria. Banyak yang melawan perintah ini dan harus dipenggal. Semboyan waktu itu adalah "ingin rambut, penggal kepala; ingin kepala, pangkas rambut". Banyak juga yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan.

Ini sebabnya mengapa ada orang Tionghoa yang ber-toucang, ada yang tidak di Indonesia. Yang ber-taucang adalah yang datang antara abad 18 sampai awal abad 20. Yang datang sebelumnya tidak mengenal cara ber-taucang dan yang sesudahnya sudah meninggalkan tradisi ber-taucang.

Penghujung abad 19 dan awal abad 20. Korupsi di dalam birokrasi dan penjajahan setengah oleh bangsa Barat menjadikan Tiongkok menjadi bangsa yang lemah. Tahun 1911, Sun Yat-sen melancarkan revolusi Xinhai dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing. Sun Yat-sen adalah salah satu yang menolak berkuncir sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah Republik China berdiri, otomatis tradisi kuncir ini juga hilang dengan sendirinya pada orang Manchuria sekalipun. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Susanti Tan, Surabaya
Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA