"Upacara itu (mencukur rambut) diharapkan kelak karma buruk dari reinkarnasi masa lampau tidak ikut terbawa di kehidupan bayi yang sekarang. Si jabang bayi diharapkan pula terlahir sebagai orang baik untuk saat ini dan nanti," ujar tokoh spiritual Tionghoa Solo, Romo Djoenaidi, pekan kemarin.
Ditambahkan Romo Djoenaidi, tradisi ini juga dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang maha kuasa, agar pula kesejahteraan dan keselamatan selalu menaungi sang bayi di kehidupannya.
Untuk saat ini memang tidak banyak dari umat Tionghoa yang masih melaksanakan tradisi Mun Yuet. Kebanyakan dari mereka yang masih menjalankan tradisi ini adalah para penganut kepercayaan adat istiadat keagamaan. "Yang tidak melaksanakan mungkin mereka kurang mengerti dengan makna dari upacara Mun Yuet sendiri," kata Romo Djoenaidi.
Setelah tradisi Mun Yuet digelar, kemudian dilanjutkan dengan tradisi hantaran makanan (membagi-bagi makanan) yang diberikan kepada tetangga dan sanak saudara. Di tradisi ini makanan yang diberikan beraneka ragam sebagai simbol dan memiliki makna. Hal ini sedikit berbeda dengan tradisi Jawa yang membagi-bagikan makanan berupa urap-urapan atau sayur-sayuran hijau.
Makanan di tradisi hantaran setelah upacara Mun Yuet di antaranya, pertama, pisang dua buah yang masih tergandeng. Ini sebagai simbol keutuhan keluarga yang memiliki hajatan. "Kedua pisang dalam tradisi tidak boleh putus dan harus tetap tergandeng," kata Romo Djoenaidi.
Kedua, yaitu satu butir telur yang diberi warna merah. Merah sendiri bagi masyarakat Tionghoa merupakan perlambang kebahagiaan, seperti halnya warna merah menyala saat perayaan Imlek. "Harapannya dengan membagikan telur warna merah, kebahagiaan selalu menyertai kehidupan keluarga yang bersangkutan," jelas Romo Djoenaidi.
Makanan ketiga yaitu kue ku atau kue kura-kura yang memiliki simbol panjang umur. Selain itu pasangan keluarga diharapkan selalu sukses dan banyak rezeki di kehidupannya. Kue jenis ini berbentuk bulat-bulat dan disusun rapi saat dibagikan. "Harapannya, ya seluruh keluarga panjang umur dan banyak rezeki," kata Romo Djoenaidi. (*)
http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Silvana Ng, Makassar
ARTIKEL YANG BERKAITAN
- DAU BANJIANG, MASAKAN BUMBU PASTA CABAI DI SICHUAN CHINA
- GUAN SI YIN PHO SAT, LEGENDA DEWI WELAS ASIH
- ASAL MUASAL TANDU PENGANTIN CINA
- SEPASANG PATUNG SINGA CINA DI DEPAN PINTU
- XIAO YOU, SI BURUNG ANTIK DI SHANXI CHINA
- YUAN SHAO, PENGUASA UTARA ZAMAN TIGA NEGARA TIONGKOK KUNO
- CAO WEI, SALAH SATU DARI TIGA NEGARA TIONGKOK DULU
- ASAL USUL MINUMAN TEH
- IKAN 'CENG CUAN' MASAKAN KHAS CHINA BENTENG
- TRADISI TIONGHOA KETIKA BERKABUNG
- TRADISI TELUR MERAH DAN JAHE
- TRADISI CUKUR RAMBUT BOTAK KALANGAN TIONGHOA
- RIBUAN WARGA PONTIANAK MANDI USHI
- TAUCANG, GAYA KUNCIR RAMBUT DINASTI QING
- CHAN ZU, MENJADI TRADISI WANITA TIONGKOK DULU
- SAN ZI JING, TIGA HURUF KLASIK
- PERANG LINTASAN HU LAO, DIAWAL DINASTI TANG
- JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TRIAD CHINA