BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Rabu, 29 Februari 2012

ZAMAN DAHULU ORANG MENYIMPAN MINUMAN

Sebelum benda bernama botol ditemukan, dimanakah orang zaman dulu menaruh minuman? Jawabnya adalah di Labu. Berikut adalah kisahnya.

Tokoh Legenda dari Tiongkok sering digambarkan membawa labu. Seorang dokter menggunakan labu ketika merawat pasiennya. Tieguai Li, salah satu dari Delapan Dewa selalu menjinjing labu emas dipundaknya, dan Gong Ji, tidak pernah membiarkan labu anggur beranjak dari sisinya.

Lu Zhishen, tokoh  yang membintangi pertunjukan Shen Yun Performing Arts 2011, memiliki sebuah labu yang diikat di pinggulnya. Demikian juga Chang'e, yang ditampilkan dalam Shen Yun Performing Arts 2007, setelah minum ramuan ajaib dari sebuah labu terbang ke bulan.

Labu dan melon adalah jenis tanaman merambat dari keluarga Cucurbitaceous. Daging  labu segar dan lembut ditutupi oleh kulit hijau dan dikonsumsi sebagai sayuran. Labu matang memiliki warna kuning keemasan.

Orang di masa lampau menggunakan labu sebagai botol untuk menyimpan bubuk tembakau dan vas bunga. Labu juga digunakan sebagai tempat air, obat dan minuman keras. Labu yang difungsikan sebagai botol mampu menjaga rasa anggur dalam jangka waktu yang lama tetap nikmat. Buku kedokteran kuno telah mencatat bahwa anggur yang disimpan didalam labu bisa meredakan peradangan, memperjelas penglihatan dan membantu pencernaan.

Menurut feng shui, labu diyakini mampu mengusir roh jahat.  Orang Tionghoa mengatakan labu 'hulu' berarti 'melindungi' dan 'nasib baik'.  Mungkin ini menjadi alasan mengapa orang jaman dulu menganggap labu membawa keberuntungan, menggantungnya diatas pintu untuk mengusir  roh jahat. [Renata Koh / Jakarta]
Selanjutnya ->

Senin, 27 Februari 2012

TEK HAY CIN JIN: DEWA PELINDUNG PERDAGANGAN DILAUT

澤海真人 Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hai Cin Jin} nama aslinya adalah Guo Liu Guan {Hok Kian = Kwee Lak Kwa}, adalah salah satu Dewata Lokal yang Khas Indonesia (lahir di Indonesia). Kekuasaannya meliputi jalur laut sepanjang Pantura Jawa. Menurut catatan yang ada di Kong Kwan (Dewan Opsir Tionghoa) Semarang, Guo Liu Guan berasal dari Semarang. Beliau adalah orang Hok Kian bermarga Kwee, bernama Lak, sedangkan Kwa adalah panggilan kehormatan.

Guo Liu Guan {Kwee Lak Kwa} lahir tahun 1695, waktu Kaisar Khong Hie memerintah tahun ke-34, berdagang antar pulau dari Palembang sampai Semarang dengan kapal. Waktu itu di Jakarta (saat itu bernama Batavia) tanggal 9 – 12 Oktober 1740 terjadi suatu tragedi yang amat memilukan, di mana + 10.000 jiwa dibantai oleh penjajah Belanda (VOC). Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke.

Asal mula kata Kali Angke juga berasal dari peristiwa ini. 紅溪 Hong Xi dalam bahasa Mandarin berarti sungai kecil (kali) yang berwarna merah. Dari mana warna merah dalam sungai ini? Berasal dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai tersebut. Hong Xi ini dalam dialek Hok Kian disebut Ang Ke. Demikian sekilas asal mula kata Kali Angke.

Peristiwa ini menyulut kemarahan beberapa pemimpin Tionghoa, antara lain : Kwee Lak Kwa, Kwee An Say, Oey Ing Kiat, Tan Pan Jiang, dan lain-lain. Kwee Lak Kwa bergerilya di Jakarta. Karena Belanda lebih kuat akhirnya Kwee Lak Kwa mundur sampai Cirebon, lalu ke Tegal.

Tahun 1742 perlawanan ini berhenti setelah semua pihak kehabisan tenaga, Kwee Lak Kwa di Tegal menghilang, Kwee An Say tertangkap, Tan Pan Jiang & Oey Ing Kiat gugur di Welahan. Peristiwa ini dalam Babad Tanah Jawa terkenal sebagai Geger Petjinan. Kwee Lak Kwa setelah menghilang di Tegal sering menampakkan diri di beberapa tempat yang berjauhan pada waktu bersamaan. Beliau sering pula menampakkan dirinya kepada nelayan-nelayan di Tegal untuk memberi berbagai petunjuk. Karena hal-hal tersebut mereka percaya bahwa Kwe Lak Kwa sesungguhnya adalah seorang yang sakti.

Oleh Kaisar Dinasti Qing, Kwee Lak Kwa dianugerahi gelar 澤海真人 Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hay Cin Jin}. Beliau dihormati tidak hanya sebagai pahlawan, namun juga sebagai Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut.

Tek Hai Cin Jin ditampilkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala Dinasti Han disertai 2 orang pengiringnya. Salah satu dari 2 pengiring tersebut, dilihat dari corak pakaian & ikat kepalanya, jelas adalah seorang pribumi Jawa.

Arca Tek Hai Cin Jin terdapat di 6 buah kelenteng di Pulau Jawa, antara lain: di Kelenteng 金德院 Jin De Yuan {Kim Tek Ie} – Jakarta, Kelenteng 澤海廟 Ze Hai Miao {Tek Hay Bio = Kuil Penenang Samudra} – Semarang, Kelenteng 澤海宮 Ze Hai Gong {Tek Hay Kong} – Tegal, Kelenteng 寶安殿 Bao An Dian {Po An Tiam} – Pekalongan. [Priscillia Kang / Jakarta]

Selanjutnya ->

Minggu, 26 Februari 2012

SIKAP DAN PERILAKU KELUARGA TIONGHOA

Orang tua Tionghoa menekankan ketahanan (mental) bukan kerapuhan.

Anak perlu dididik keras untuk membentuk karakter yang gigih, mandiri dan bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Karenanya anak perlu disiapkan sejak dini. Tidak ada patokan usia. Semakin cepat anak bisa mandiri, semakin baik.

Bila anak gagal, dia akan mendapat hukuman. Bila berhasil dia akan mendapat pujian di depan anak-anak yang lain. Reward diberikan hanya jika anak layak menerimanya.

Anak baru bisa duduk setara dengan orang tua bila telah dapat membuktikan dirinya bisa membina hubungan inter-personal yang baik dengan lingkungan. Maka, tak dapat terjadi seorang anak menuntut kebebasan dan bersenang-senang bila belum memberikan bukti tersebut.

Ketika semua kewajibannya (belajar, mengurus diri sendiri, membantu orang tua dll) sudah dpenuhi, anak baru boleh bersenang-senang.

Berdagang sebenarnya bukanlah kemampuan yang dianggap paling berharga di mata masyarakat Cina. Prestasi akademik dan membangun usaha lebih dihargai.

Tak ada satupun bidang karier yang dianggap lebih bergengsi dibanding bidang karier lainnya. Yang terpenting, anak membuktikan dirinya sangat bagus dalam bidang yang diminatinya. Entah sebagai peneliti, guru, atlet, pengusaha atau seniman. [Dr. Thung Ju Lan / Jakarta]
Selanjutnya ->

Rabu, 22 Februari 2012

MEMBELA GUNUNG

Legenda Tiongkok membelah gunung dimulai dengan cinta terlarang antara seorang dewi dan manusia.

Dewi San Sheng Mu berjalan di hutan ketika tiba-tiba bertemu seorang cendikiawan muda bernama Liu Xiang. Kisah berlangsung, nasib membawa mereka terus bersama-sama, sampai akhirnya mereka menikah. Dewi dan manusia melahirkan anak yang diberi nama Chen Xiang.

Menyaksikan dari Surga, kakak Sang Dewi, para Elang dewa bermata tiga marah. Bagaimana mungkin adiknya melanggar ketetapan surgawi dan menikahi manusia? Dalam sebuah serangan kemarahan, ia memenjarakannya di dalam salah satu gunung suci Tao China, Gunung Hua.

Anak laki-lakinya yang setengah dewa melakukan perjalanan ke Gunung Hua untuk mencari ibunya. Di sana ia bertemu dengan Tao yang melatih dia bela diri seni teknik khusus. Bertahun-tahun kemudian, setelah anak itu dewasa dan menguasai Ajaran Tao, gurunya memberi kapak sakti. Berkemampuan dan percaya diri, putranya mengalahkan para pamannya dalam pertempuran, kemudian membelah terbuka Gunung Hua, membebaskan ibunya.

Bahkan saat ini di provinsi Shaanxi, China di depan barat Gunung Hua, terletak sebuah batu raksasa bersih terbelah menjadi tiga bagian, sebuah peninggalan dari Chen Xiang upaya penyelamatan Ibunya.

Drama tari Shen Yun Membelah Gunung diadaptasi dari legenda ini. [Widya Wong / Pontianak]
Selanjutnya ->

Senin, 20 Februari 2012

KISAH CHANG'E DAN HOU YI

Dari berbagai kebudayaan di dunia, kebanyakan di antaranya memiliki mitos penciptaan versi mereka sendiri. Misalnya dalam kebudayaan Barat ada Buku Kejadian dan puisi epik Homer.

Kebudayaan Tiongkok juga memiliki legenda yang menggambarkan asal-mula budaya dewata ini. Mitologi ini terus tumbuh sepanjang generasi, menciptakan cerita rakyat yang sangat kaya.

Cerita dan legenda umumnya tersebar di antara banyak sumber yang berbeda, yang bila disatukan, mengungkapkan nilai luas membentang dan penuh dengan makna. Shenyun Performing Arts mengangkatnya untuk Anda nikmati.

Kaisar Giok, penguasa Langit, memiliki sepuluh anak yang sulit diatur. Suatu hari, mereka mengubah diri mereka menjadi sepuluh matahari, dan tanpa perasaan memanasi bumi dari atas langit.

Kaisar Giok  tidak dapat menghentikan kenakalan mereka, lalu memanggil Hou Yi, seorang Dewa pemanah yang terkenal akan keahliannya dalam membidik sasaran. Kaisar memerintahkan Hou Yi untuk memberi anak-anaknya pelajaran.

Hou Yi turun ke Bumi dan melihat penderitaan yang dialami mahluk di bumi dengan matanya sendiri. Semuanya hangus dan mati, dan orang-orang kesakitan. Dipenuhi oleh kemarahan, ia bertindak. Mencabut anak panah dari wadahnya, ia membidik pada matahari.

Pertama satu matahari jatuh, dan selanjutnya yang lain pun bernasib sama. Pada akhirnya, sembilan putra Kaisar Langit mati. Hou Yi hanya menyisakan satu matahari tetap hidup, untuk memberikan bumi cahaya dan kehangatan.

Setelah mendengar berita ini, Kaisar Giok sangat marah. Dia tak menyangka anaknya akan dipanah mati. Dia mengusir Hou Yi dan istrinya yang cantik Chang'e dari surga, dan mencabut keabadian mereka. Mereka kini terpaksa tinggal di bumi sebagai manusia biasa.

Hou Yi dan Chang'e mendapati bahwa kehidupan manusia biasa begitu sulit dan sengsara. Meskipun menjadi pahlawan bagi umat manusia, Hou Yi memiliki sebuah keinginan, yaitu menghindari kematian yang menanti semua manusia dan kembali ke surga bersama istri tercintanya. Istrinya, setidaknya, tidak pantas menderita.

Untungnya, Hou Yi ingat bahwa Ibunda Ratu abadi dari Barat, yang tinggal di Bumi, memiliki obat ajaib langka yang bisa membuat orang menjadi abadi. Sang Pemanah yang penuh harapan pergi menempuh perjalanan yang penuh rintangan untuk meminta bantuannya.

Setelah melewati kesulitan yang tak terhitung jumlahnya, dia akhirnya sampai di istana Ibunda Ratu di Gunung Suci Kunlun. Mengetahui penderitaan mereka, Ibunda Ratu yang murah hati memberikan Hou Yi dua hal. Yang pertama adalah obat ajaib, yang kedua adalah sebuah peringatan.
 
"Meminum setengah obat ajaib akan memberikan hidup yang kekal. Namun, meminum seluruh ramuan akan membuat seseorang naik ke langit, terbang sepenuhnya seperti seorang dewa."

Setengah untuk dirinya, dan setengah lagi untuk istrinya. Itulah yang Hou Yi rencanakan.

Ketika Hou Yi berkumpul kembali dengan Chang'e, Chang'e penuh suka-cita menyambut keberhasilannya. Namun sementara Hou Yi sedang beristirahat selepas perjalanan yang panjang, Chang'e tak kuasa untuk mengintip obat ajaib yang dibawa suaminya. Hasratnya untuk menjadi abadi dan kembali ke langit menggodanya untuk meminum seluruh ramuan. Tak lama setelah minum seluruh obat, dia merasa anggota badannya tanpa bobot, dan ia mulai melayang ke langit di luar keinginannya.

Sebagai dewa yang terbuang, langit tak bisa menerimanya. Bumi sekarang di luar jangkauannya juga. Tanpa ada tempat lain yang dituju, Chang'e melayang menuju bulan yang tak berpenghuni, di mana dia menghabiskan sisa hari-harinya di istana yang sepi.

Dia dengan sedih menangisi Hou Yi suaminya, yang menjalani sisa hidupnya di bumi sebagai seorang manusia biasa. [Aida Lim / Pontianak]
Selanjutnya ->

Minggu, 19 Februari 2012

KOTA ZAMAN WEI JIN (2): AURA KEBUDDHAAN DI ZAMAN KERUH

Pada 383 Masehi, Fu Jian dari kerajaan Qin Awal (338-385 Masehi), dengan tanpa mempedulikan tentangan banyak orang, memimpin pasukan besar  menyerbu Jin Timur di Tiongkok Selatan, maka meletuslah pertempuran Fei Shui (淝水) yang terkenal.

Fu Jian yang congkak sebelum berperang sempat berkoar, "Sungai Yang Tse penghalang alami ini apanya yang ditakutkan? Saya memiliki jutaan tentara (realitanya hanya sekitar 870.000 ribu serdadu), cukup sekali saya memberi aba-aba dan memerintah para serdadu itu ramai-ramai melecutkan cambuk kulitnya ke dalam sungai, langsung akan memutus aliran sungai itu!" (peribahasa "Melempar cambuk memutus sungai" (投鞭斷河) berasal dari anekdot ini.)

Kala itu Jin Timur masih lemah, kerap terjadi pemberontakan, dalam menghadapi agresi dari luar, mau berperang atau berdamai, pendapat para pejabat tidak seragam, akhirnya pejabat tinggi Xie An membuat gebrakan dan mengirim 80.000 tentara berhadapan di Fei Shui (kini sebelah tenggara kabupaten Shou propinsi Anhui).

Pasukan Jin mula pertama mengambil strategi penyerangan unik dengan tentara elit menghantam tentara dari utara tersebut, sesudah digerilya bertubi-tubi oleh pasukan Jin Timur, semangat tempur pasukan anjlok, percaya diri Fu Jian mulai goyah. Ia sewaktu menaiki tembok kota Shou Chun mengamati gerak gerik pasukan musuh, menyaksikan gunung di kejauhan penuh ditumbuhi pepohonan dan rerumputan, ketika angin berhembus dan rumput bergoyang, seolah pasukan musuh yang tak terhingga jumlahnya sedang menyanggong disitu, sepertinya musuh berada dimana-mana, hatinya merasa sangat ciut. Di kemudian hari orang dengan mengatakan "Rumput dan pohonpun bagaikan tentara (草木皆兵)" untuk melukiskan kondisi seseorang yang sensitif atau paranoid.

Peribahasa satunya lagi ialah "Deru angin dan tangisan bangau (風聲鶴唳)" berasal dari cerita Fu Jian sesudah kalah perang lari tunggang langgang, mendengar suara angin ataupun pekikan burung bangau, dikiranya pasukan Jin memang sedang mengejarnya terus, yakni bermakna sikon yang sangat membahayakan atau kondisi hati yang amat ketakutan.   

Pengaturan sejarahlah yang telah membuat dalam perang ini, Jin Timur dengan pasukan jauh lebih kecil melawan pasukan dengan jumlah jauh lebih besar, tapi toh tetap memperoleh kemenangan besar dan mengokohkan situasi terpecah dengan pembagian untuk wilayah Utara dan Selatan, pihak Utara dikarenakan Fu Jian kalah perang maka memasuki lagi kondisi keruh dan terancam terpecah-belah.

Perang di Fei Shui dan di Chi Bi (zaman Samkok) relatif sama, kedua-duanya adalah perang terkenal yang telah mengubah dunia, selain itu, dengan pasukan minim jumlah dapat mengalahkan lawan dengan jumlah jauh lebih besar dan telah mengokohkan situasi pembagian wilayah.   

Fu Jian kalah besar, dan menunggang kuda seorang diri balik kembali ke Chang An, semenjak saat itu kekuatan negaranya melemah, wilayah utara lagi-lagi terbenam ke dalam perpecahan.  Dua tahun kemudian, yakni tahun 385, Mu Rong Si (慕容氏) dari kerajaan Yan Utara (北燕) merebut Chang An, lalu Fu Jian melarikan diri ke gunung Wu Jiang, anak buahnya yang bernama Yao Chang (姚萇) meminta stempel pusaka negara tapi ditolak, maka ia menggantung mati Fu Jian di kuil Xin Ping Fo. [Anastasia Kang / Dumai]

Selanjutnya ->

ZAMAN TIONGKOK KUNO: TABU MENGEJAR KESENANGAN HIDUP

Masyarakat Tiongkok kuno menganggap pengejaran akan kesenangan hidup sebagai hal yang merusak manusia sebagaimana anggur beracun. Meraih kesenangan secara berlebihan dan mengejar kenyamanan hidup akan dipandang rendah oleh masyarakat, dan digolongkan sebagai pelanggaran norma.

Orang hidup dengan kesengsaraan dan bahaya, akan tetapi mati dengan kesenangan duniawi

Sebuah perkataan orang Tiongkok, "Orang hidup dengan kesengsaraan dan bahaya, akan tetapi mati dengan kesenangan duniawi." Meskipun kesenangan ataupun kenyamanan itu sendiri tidak membawa pada kematian, akan tetapi dapat memperbesar kemalasan dan mendorong manusia menjadi lemah akan hasratnya.

Konfusius (Kongzi, tokoh bijak Tiongkok kuno, pendiri aliran Konghucu) mengatakan, "Tidak mengerjakan apapun setelah makan kekenyangan adalah tidak baik. Bisakah setidaknya melakukan permainan catur? Bahkan bermain catur itu sendiri lebih baik daripada bermalas-malasan."

Mencius (tokoh filsuf Tiongkok kuno yang merupakan murid dari cucu Kongzi) juga menyarankan, "Ketika orang menikmati makanan enak dan baju hangat serta hidup nyaman, namun tidak berpendidikan atau pun berbudaya, mereka ini sama halnya dengan hewan. Hal inilah yang menjadi perhatian terbesar Orang Suci yang mengajarkan etika dan moralitas."

Masyarakat Tiongkok zaman dahulu betul-betul mempercayai bahwa kenyamanan hidup dapat merusak. Hidup dengan kenyamanan tanpa dibarengi dengan pendidikan, pengetahuan dan kebudayaan yang cukup dapat membawa orang jatuh pada jalur yang salah, dan membuat mereka melakukan perbuatan yang tak ada bedanya dengan binatang.

Liu Bei, salah seorang raja pada masa Tiga Kerajaan (Samkok), pernah berkeluh kesah dengan meneteskan air mata, "Dimasa lalu saya selalu duduk di atas punggung kuda dan tak ada lemak di kakiku. Sekarang saya sudah tak berkuda lagi dan lemak itu datang. Waktu mengalir bagaikan air. Saya telah tua namun tidak mendapat apapun. Saya tidak dapat melakukan hal lain selain bersedih hati."

Tao Kang, seorang pejabat selama pemerintahan dinasti Jin, memindahkan 100 wadah keramik diluar pada pagi hari dan mengembalikannya pada malam hari. Orang yang melihat merasa heran dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu.

Dia menjawab, "Saya berusaha melakukan yang terbaik bagi negara. Jika saya hidup terlalu nyaman, saya takut dapat mengikis rasa tanggung jawab saya. Inilah alasannya mengapa saya mengerjakan ini." Karir Tao Kang dengan cepat menanjak menjadi Gubernur delapan propinsi dan menjadi terkenal.

Masyarakat Tiongkok kuno seringkali mengatakan, "Air mengalir tidak merusak, kunci dan engsel pintu tetap utuh." Orang Tiongkok kuno mengetahui bahwa manusia usianya hanya beberapa tahun. Apabila ia merana dalam kenyamanan, menjadi malas, tidak mempunyai tujuan hidup dan menjadi pasif, serta takut akan kesulitan hidup, tekadnya surut menjadi lemah.

Disaat kesengsaraan menimpanya, maka ia tidak sanggup bertahan dan tidak memperoleh apapun. Terlalu mengejar kenyamanan dapat membawa kesulitan, orang yang sukses biasanya kuat terhadap cobaan, pandai dan tekun. [Rinni Tjia / Tanjung Pandan]

Selanjutnya ->

KOTA ZAMAN WEI JIN (1): BERKELANA UNTUK MENCARI GURU SEJATI

Biksu Seng Heng (僧恒) hendak pergi ke kota Ye (鄴城) di wilayah utara (kini kota Han Dan, 20 km dari barat daya kota kabupaten Lin Zhang, kala itu sebagai ibu kota dinasti Zhao-Akhir) untuk menjumpai Fo Tucheng (佛圖澄, 232-348). Pada saat itu Fo Tucheng sudah berusia 110 tahun lebih.  Fo Tucheng dengan kemampuan supranaturalnya memberi wejangan kepada kaisar lalim dan menyebarluaskan agama Buddha, memberikan sumbangsih besar di dalam penyebarluasan agama Buddha di Tiongkok utara.

Sebelum Seng Heng tiba, Fo Tucheng sudah memberitahu muridnya yang bernama Fa Zuo, "10 hari lagi seorang biksu dari selatan akan kunjung, mestinya ia hendak menemui saya." 10 hari kemudian ternyata Seng Heng tiba, lantas dipertemukan ke Fo Tucheng.

Fo Tucheng menjelaskan kepadanya, "Kemampuan supranatural adalah kemampuan yang terbawa semenjak lahir, tapi hanyalah semacam teknik yang tak berarti, saya menggunakannya untuk mengarahkan kepada penguasa dan rakyat jelata menuju kebajikan, untuk memudahkan penyebaran hukum alam semesta. Sekarang saya mengetahui akan meninggalkan dunia ini, khawatir generasi kelak disibukkan oleh teknik kecil tersebut dan tak lagi mengenali maha hukum yang pokok, saya tahu saat ini popularitas Anda meskipun tidak dikenal orang, sesudah ribuan tahun toh akan tersiar, oleh karena itu saya pada kesempatan ini melalui Anda  hendak memberikan pencerahan kepada umat manusia pada masa yang akan datang."  

Seng Heng sudah mengetahui Fo Tucheng mampu meneropong jauh ke depan dan meramal kejadian yang akan datang, maka meskipun tak begitu memahami apa yang disampaikan oleh Fo Tucheng, ia toh mengiyakan saja.

Ketika menginjak usia uzur, Fo Tucheng wafat di kuil istana kota Ye dan dimakamkan di sana. Pada tahun ke dua setelah wafatnya, Ran Min memberontak merebut kekuasaan, makam Fo Tucheng dibongkar, ternyata di dalam peti matinya hanya terdapat Bo (缽, tempat makan untuk mengemis para biksu) dan tongkat saja.

* Berjumpa dengan Dao An

Kala itu Dao An juga berada di kota Ye, Dao An (道安, 314-385 M) juga adalah salah satu biksu ternama. Ia sangat pintar, sewaktu kecil membaca buku hanya 2 kali sudah mampu menghafal isinya, sesudah menjadi biksu (pada usia remaja) menggunakan waktu istirahat siang saat bertani untuk menghafalkan sutra-sutra Buddha, tak peduli bagaimapun panjang isi sutra (kitab suci agama Buddha), semuanya bisa dihafal tanpa cela dalam tempo satu hari.

Setelah beranjak dewasa ia mengikuti titah sang guru berkelana ke segenap penjuru, meskipun piawai dalam beretorika, namun karena berwajah hitam dan buruk sempat dipandang enteng oleh semua orang sampai tiba saatnya berjumpa dengan Fo Tucheng baru memperoleh respek.

Sesudah Fo Tucheng moksha (mencapai kesempurnaan kultivasi dengan terbang ke surga), wilayah Utara terbenam di dalam pergolakan, untuk menghindari kekacauan perang, Dao An memimpin Seng Heng dan 500 lebih biksu lainnya berkeliling ke berbagai tempat untuk mengungsi.

15 tahun lamanya, hingga tahun 365 baru menetap di kota Xiang Yang (襄陽) dan mendirikan kuil serta berdakwah.  Oleh karena kuil dinilai terlalu sempit maka Dao An mendirikan sebuah kuil yang bernama Tan Xi yang mempunyai pagoda 5 lantai dan kompleks itu memiliki 400 kamar, kaum intelektual dari berbagai pen-juru berdatangan untuk belajar.

Waktu itu penguasa yang paling berpengaruh di wilayah utara adalah Fu Jian (苻堅) dari kerajaan dinasti Qin-Awal (前秦, baca: jhin, tahun 338-385 M) yang di bawah pemerintahannya menjadi negara yang kuat dan berhasil menyatukan wilayah Tiongkok Utara.

Fu Jian sudah sering mendengar reputasi Dao An dan berkeinginan membawanya untuk dijadikan penasehat.

Tahun 379 semasa pemerintahan kaisar Xiao Wu(孝武帝), dinasti Jin Timur (東晉, baca: cin) demi menyongsong Dao An ke Chang An (長安), ia mengirim 100 ribu tentara menyerbu Xiang Yang dan berhasil menyandera Dao An dan Seng Heng serta membawa mereka ke kota Chang An. Mereka dipersilakan menetap di kuil Wu Zhong(待續).

Selanjutnya Dao An mempunyai ribuan murid di Chang An, menyebarkan hukum Buddha dalam skala luas. Para putra kaum bangsawan dan pejabat di kota Chang An yang ingin mempelajari syair dan sekolah, semuanya bergabung agar memperoleh reputasi baik.

Dao An sangat menyukai kitab sutra agama Buddha dan ia bertekad menterjemahkannya guna penyebarluasan hukum alam semesta, terkadang ia mengundang biksu dari luar negeri dan telah menerjemahkan berbagai kitab Buddha sebanyak jutaan aksara.

Sebelumnya Seng Heng sewaktu di Jian Kang (kota Nanjing kini) seringkali bersama dengan biksu secara detail mengeja lafal dan membahas makna aksara yang terdapat di dalam sutra, itulah mengapa Dao An sangat menghargai dan bergantung pada Seng Heng, bersamanya pula ia meninjau ulang sutra Buddha yang baru diterjemahkan, maka itu isi dari sutra-sutra tersebut memperoleh terjemahan yang lebih akurat.

Pada tahun 385, Dao An tiba-tiba mewartakan kepada semua orang, "Sudah waktunya saya meninggalkan dunia ini."

Selain itu ia mengatakan kepada Seng Heng, "Enam belas tahun setelah kepergian saya, seseorang bernama Kumarajiwa akan datang ke Chang An, Anda harus melanjutkan keinginan saya untuk menterjemahkan dan menyebarluaskan hukum Buddha dan menegakkan moralitas yang agung."

Pada hari tersebut sesudah makan sayur-sayuran (seperti biasanya), tanpa melalui sakit ia wafat pada usia 72 tahun. [Anastasia Kang / Dumai]

Bersambung ...

Selanjutnya ->

Jumat, 17 Februari 2012

ISTRI TELADAN YANG BAIK

Wang Yu Tao termasuk salah satu dari orang yang ternama, dia mempunyai seorang istri yang bermarga Meng. Pada suatu hari, karena akan mengikuti ujian negara, maka dia berangkat menuju ke ibu kota dan menyuruh istrinya untuk pulang ke rumah ibunya selama beberapa hari.

Sewaktu nyonya Meng melakukan perjalanan pulang ke rumahnya, ditengah perjalanan itu mendadak turun hujan yang amat deras, sehingga dia harus berteduh di sebuah tempat peristrahatan untuk menunggu hujan reda. Tak lama kemudian terlihat ada seorang pemuda berlarian datang dan memasuki tempat peristrahatan itu untuk berteduh pula.
Sampai saat matahari terbenam, hujan masih belum reda juga sehingga mereka harus menginap satu malam disana. Setelah hari sudah agak terang, barulah mereka dapat meninggalkan tempat tersebut. Pada saat itu barulah terlihat, yang pria sangat tampan sedangkan yang wanita sangatlah cantik bagaikan bidadari. Tapi dalam hati mereka masing-masing sama sekali tidak timbul pikiran yang bukan-bukan dan mereka masing-masing saling mengambil jalan sendiri, sepatah kata pun tidak saling berucap.

Sesampainya nyonya Meng di rumah, adik iparnya bertanya dimana dia menginap semalam ? Lalu nyonya Meng menjawab bahwa dia tidur di tempat peristrahatan bersama seorang pria yang tidak dikenal dan untunglah pria itu sangat baik, jika tidak hancurlah hidupnya. Karena nyonya Meng adalah seorang yang pandai bersastra, maka dia membuat sebuah syair yang berbunyi :

"Hujan lebat, berteduh bersama di tempat peristrahatan, Saat tengah malam sama sekali tiada suara dan tindakan, Pria dan wanita saling menghadap ke arah berlawanan, Ternyata sang pria berbudi baik serta berkebajikan."

Sepulangnya Wang Yu Tao dari ujian, adiknya kemudian menceritakan peristiwa yang dialami oleh kakak iparnya dan syair yang dibuat oleh kakak iparnya itu juga dibacakan, tapi dia hanya mengingat tiga bait pertama saja, sisanya dia robah menjadi, " Aku tidak kalah dengan Yik Chan Cien (Wanita tercantik di China)".

Mendengar semua cerita itu, Wang Yu Tao menjadi amat gusar lalu menyuruh istrinya keluar dan pada saat itu juga dia menulis surat perceraian yang sudah dia masukkan ke dalam amplop. Kemudian dia menyuruh istrinya untuk kembali ke kampung halamannya dan berbohong kepada istrinya dengan mengatakan, " Bapak mertua tiba-tiba jatuh sakit, kamu cepat-cepatlah pulang ke rumah untuk mewakili saya menjenguk bapakmu."

Nyonya Meng sama sekali tidak merasa curiga, lalu dia pulang ke rumahnya dan menyerahkan surat itu kepada ayahnya yang ternyata masih dalam keadaan sehat. Begitu sang ayah membaca surat itu, beliau sama sekali tidak memberi komentar apa-apa, lalu menyerahkan surat itu kepada nyonya Meng dan setelah nyonya Meng membaca surat cerai itu, dia langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Wang Yu Tao setelah menerima kabar bahwa dirinya telah berhasil lulus ujian dan mendapat rangking kedua, dia merasa amat girang, lalu dengan buru-buru dia menemui pengawas ujian dan kebetulan saat itu Liu Chun Seng yang mendapat rangking pertama juga berada disana. Pengawas ujian bertanya kepadanya, " Kamu telah berbuat kebajikan besar apa sehingga dapat meraih rangking pertama ?". Liu Chun Seng berkata, "Tidak ada ".

Pengawas itu berkata lagi, " Aneh ! Sampai tiga kali saya periksa kertas ujianmu, sebenarnya kamu tidak bisa meraih rangking pertama, namun di saat kertas ujianmu itu saya kesampingkan, mendadak saja ada satu perasaan yang mengatakan kepadaku bahwa kertas ujianmu tidak boleh dibuang, jadi tidak mungkin kalau kamu tidak berbuat kebajikan yang berjasa besar ?".

Mendengar sampai disini, barulah Liu Chun Seng teringat dan menceritakan kejadian di tempat peristirahatan itu. Wang yu Tao setelah mendengar ceritanya menjadi sadar dan berkata, " Nyonya muda itu adalah istriku ! dan ternyata aku telah salah paham terhadapnya dan menceraikannya".

Pengawas itu setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya lalu menasehati Wang Yu Tao untuk segera menjemput kembali istrinya dan juga memuji nyonya Meng dengan berkata, "Sungguh-sunguh beliau adalah seorang istri yang bijaksana !".

Kemudian sebagai tanda terima kasih, Wang Yu Tao menjodohkan adik perempuannya kepada Liu Chun Seng. Peristiwa ini sampai sekarang masih dibicarakan orang-orang sebagai satu contoh teladan yang baik. [Anita Li / Jayapura]

Selanjutnya ->

Kamis, 16 Februari 2012

CAI SIN YA, DEWA HARTA

Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemungutan suara: "Dewa apakah yang paling disukai?" Barangkali 財神爺 Cai Shen Ye {Hok Kian = Cai Sin Ya} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Walau bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah Cai Shen bisa sungguh-sungguh memberikan kekayaan atau tidak, maupun keberadaan Dewa Harta (Dewa Kekayaan) itu sendiri, sedikit banyak dapat memuaskan fantasi orang banyak terhadap kekayaan.

Dewa Harta yang dipercaya di kalangan rakyat jelata sangat banyak macamnya, ada 文武財神 Wen Wu Cai Shen {Bun Bu Cai Sin} – Dewa Harta Sipil & Militer, 五路財神 Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Harta dari Lima Jalan, 增福財神 Zheng Fu Cai Shen {Tiam Hok Cai Sin} – Dewa Kekayaan Penambah Rezeki, dan lain-lain. 土地公 Tu Di Gong {Tho Tek Kong} – Dewa Bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang.

Cai Sin Ya memiliki wilayah penghormatan yang luas. Sembahyang kepada Cai Shen, selain terdapat di kelenteng-kelenteng, juga terdapat di rumah-rumah penduduk.

Wu Cai Shen (Dewa Kekayaan Militer) adalah 玄壇元帥趙公明 Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming {Hian Tan Gwan Swe Tio Kong Beng} dan 關公 Guan Gong {Kwan Kong}.

Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling terkenal adalah Riwayat 趙公明 Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang tertulis dalam 封神榜 Feng Shen Bang (Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa). Dalam Feng Shen Bang ini diceritakan sebagai berikut:

Kaisar Zhou Wang {Tiu Ong} dari Kerajaan Shang memerintahkan Wen Zhong {Bun Tiong} jendralnya yang terkenal, untuk menyerbu Xi Chi, basis pertahanan pasukan Wen Wang {Bun Ong}. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Wen Zhong minta bantuan 6 orang sakti untuk membentuk formasi barisan yang disebut Shi Jue Zhen {Si Ciap Tin} – Sepuluh Barisan Pemusnah. Tapi 姜子牙 Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan 6 di antaranya. Melihat kekalahan di pihaknya, Wen Zhong meminta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu sedang bertapa di gua Lou Fu Dong, pegunungan E Mei Shan {Go Bi San}.

Zhao Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan 2 jari tangannya. Kemudian ia mengendarai harimau yang telah diikat lehernya dengan angkin (sejenis kain). Pada dahi si raja hutan tersebut ditempelkan selembar Hu (Surat Jimat). Selanjutnya harimau itu menjadi tunggangannya & tunduk pada perintahnya.

Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya & menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh & tewas. Tapi, datanglah Guang Cheng Zi {Kong Sheng Cu} yang lalu menolong Zi Ya sehingga ia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren {Wi Liong Cin Jin} keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi ia tertawan oleh tali wasiat Zhao Gong Ming. Chi Jing Zi & Guang Cheng Zi juga terpukul jatuh oleh pertapa dengan banyak kesaktian tersebut.

Kemudian Jiang Zi Ya mendapat bantuan dari Xiao Sheng, seorang sakti dari pegunungan Wu Yi Shan. Semua wasiat dari Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Karena merasa malu Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau 3 Dewa) untuk menemui Yun Xiao Niang Niang, seorang petapa wanita yang sakti. Zhao Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat kepada Yun Xiao Niang Niang untuk merebut kembali wasiat-wasiatnya yang dirampas musuh.

Ternyata gunting wasiat itu adalah 2 ekor naga yang berubah wujud, dengan kemampuan yang luar biasa. Banyak dewa-dewa sakti dari pihak Jiang Zi Ya terpotong menjadi 2 bagian & tewas karena pusaka ini. Jiang Zi Ya menjadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis ini datanglah seorang Taoist dari pegunungan Gun Lun Shan {Kun Lun San} yang bernama Lu Ya. Lu Ya menyuruh Jiang Zi Ya membuat boneka dari rumput. Pada tubuh boneka rumput tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Pada bagian kepala & kaki dipasang masing-masing sebuah pelita kecil. Di depan boneka Zhao Gong Ming tersebut diadakan sembahyangan selama 21 hari berturut-turut. Jiang Zi Ya atas nasehat Lu Ya bersembahyang di situ beberapa hari. Ia terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar-debar, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangat & tenaganya lenyap. Pada hari ke-21, setelah mencuci rambutnya, Jiang Zi Ya mementang busur & mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang, mendadak merasa mata kirinya sakit sekali & kemudian menjadi buta. Panah Jiang Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming & panah ketiga diarahkan ke jantungnya. Akhirnya Zhao Gong Ming yang sakti ini tewas terpanah oleh Jiang Zi Ya.

Setelah Wen Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang & mendirikan dinasti Zhou, Jiang Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan pelantikan para malaikat. Zhao Gong Ming dianugerahi gelar Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun yang secara singkat disebut 正一玄壇真君 Zheng Yi Xuan Tan Zhen Jun {Ceng It Hian Than Cin Kun}.  Xuan Tan Zhen Jun mempunyai 4 pengiring yang disebut 財神使者 Cai Shen Shi Zi, Duta Dewa Kekayaan, yaitu :

招寳天尊蕭升Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng (Malaikat Pemanggil Mestika)

納珍天尊震寳Na Zhen Tian Zun Zen Bao (Malaikat Pemungut Benda Berharga)

招財使者陳九公Zhao Chai Shi Zhe Chen Jiu Gong (Duta Pemanggil Kekayaan)

利市仙官姚少司Li Shi Xian Guan Yao Shao Si (Pejabat Dewa Keuntungan)

Xuan Tan Zhen Jun bersama 4 pengiringnya ini sering ditampilkan secara bersama-sama dalam bentuk gambar & disebut Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.

Dewa Kekayaan ini sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, 1 tangan menggenggam ruyung & tangan yang lain membawa sebongkah emas, mengendarai seekor harimau hitam. Ini merupakan gambaran berdasarkan buku Feng Shen Bang tersebut. [Susi Ng / Balikpapan]

Selanjutnya ->

Senin, 13 Februari 2012

KETULUSAN HATI MERUBAH NASIB YANG DITAKDIRKAN

Wang Thai He, semenjak kecil telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sewaktu dia berusia 15 tahun, pernah sekali dia bertemu dengan seorang peramal yang berjubah kuning. Kemudian dia mengundang orang itu untuk meramal basibnya.

Peramal itu mengatakan, " Anda disaat berusia tujuh tahun telah kehilangan ayah, pada usia delapan tahun telah ditinggal pergi oleh ibumu. Antara usia tiga belas tahun sampai empat belas tahun, semua pelajaran yang kamu pelajari semakin maju, tetapi sewaktu memasuki usia lima belas tahun sampai enam belas tahun anda akan mengalami kesusahan. Dapur anda akan kosong, kelak anda akan memperisteri seorang gadis buta dan ditakdirkan selama satu kelahiran ini hidup dalam kemiskinan. Ah ..sudahlah tidak perlu diramal lagi.

Thai He setelah mendengar semua itu, hatinya menjadi tidak tenang. Kemudian dia berpikir, " Semua ini tidak boleh terjadi, tapi kalau semua yang diramal itu benar-benar terjadi, tidak hanya diriku yang akan hidup susah, tetapi gadis yang  dijodohkan oleh orang tuaku sejak kecil itu juga akan ikut hidup dalam penderitaan, maka lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja, agar sang gadis dapat menghindari diri dari penderitaan ini.

Maka keesokan harinya, dia segera berangkat ke rumah calon mertuanya. Di tengah perjalanan dia menemukan sebungkus emas yang tergeletak di tengah jalan. Dia langsung mengambilnya, lalu dalam hatinya dia berpikir bahwa sang pemiliknya pasti akan kembali untuk mencarinya, kemudian dia menyembunyikan emas itu di dalam semak belukar, sambil menunggu sang pemilik datang. Setelah menunggu sampai keesokan harinya, disaat matahari tenggelam, barulah dia melihat ada seseorang yang mengendarai kuda mendatanginya dan bertanya apakah dia ada melihat sebuah buntalan uang.

Thai He berkata, " Memang ada, tetapi buntalan yang anda cari itu di dalamnya berisi apa ?" Lalu orang itu berkata, " Di dalamnya berisi emas, mungkin karena kurang hati-hati buntalan itu telah terjatuh sewaktu kemarin saya melewati tempat ini, maka itu saya kembali untuk mencarinya, apabila tidak ketemu buntalan itu, maka saya tidak dapat hidup lagi.

Thai He lalu mengembalikan buntalan yang berisi emas kepada orang itu, sehingga orang itu merasa amat girang. Kemudian setelah mengucapkan terima kasih, dia berkata, " Anda telah menyelamatkan jiwa saya ! Tetapi karena saya telah keluar dari rumah cukup lama, majikan saya pasti tidak akan percaya, maka lebih baik anda ikut bersama saya untuk memberi penjelasan kepada majikan saya.

Thai He akhirnya mengikuti orang itu dan setelah memberi penjelasan, pihak tuan rumah ingin memberikan beebrapa tael emas kepada Thai He sebagai tanda terima kasih, namun Thai He menolaknya. Dan setelah menginap semalam, dia pun pergi menuju ke rumah calon mertuanya.

Sang mertua merasa sangat gembira melihat menantunya telah datang, lalu beliau pun mempersiapkan arak untuk perjamuan makan. Dalam perjamuan makan sang mertua bertanya, " Menantuku yang baik, kudengar dari orang-orang bahwa kedua orang tuamu telah meninggal dunia, sehingga keadaan keuangan kamu juga sedang mengalami masalah, apakah ini benar ?"

Thai He menjawab, " Memang benar adanya dan justru saya datang kemari untuk membicarakan masalah ini. Saya takut tidak bisa membahagiakan putri anda dan hanya akan membuat sia-sia kehidupan putrimu."

Sang mertua setelah mendengar perkataannya itu, tidak mampu lagi menahan tangisnya. Thai He menjadi heran dan bertanya apa sebabnya. Sang mertua berkata, " Calon istrimu sejak mendengar keadaan keluargamu, setiap hari meneteskan air mata, walaupun saya telah menghiburnya, namun semuanya hanya sia-sia belaka. Dan karena terus-menerus menangis terlewat batas, maka kedua matanya telah menjadi buta.

Wang Thai He setelah mendengar perkataan mertuanya itu, menghela nafas dan berpikir di dalam hati bahwa senua yang diramalkan oleh peramal itu sangat tepat adanya, nasibnya memang telah ditentukan untuk menderita. Sang peramal juga mengatakan, dapurnya akan kosong, dalam satu kehidupan ini akan hidup susah, istri akan menjadi buta, selamanya tidak mungkin lepas dari penderitaan ini.

Dia yang sebenarnya ingin membatalkan pernikahan ini, akhirnya justru berkata, "Ayah mertua janganlah bersedih hati, saya pasti akan menikahi putri anda dan akan dengan sepenuh hati membuatnya bahagia." Mertuanya setelah mendengar perkataan calon menantunya abrulah berhenti menangis, ahtinya menjadi tergugah oleh keputusan Thai He dan beliau memberinya lima hektar sawah, dua orang pekerja, dua orang pelayan, serta memilih hari ayng baik untuk pernikahannya dan juga mmebangun sebuah rumah untuknya.

Sehabis melaksanakan upacara pernikahan, pada saat malam harinya, istrinya mendadak melihat ada bayangan semangkuk emas yang sedang berputar di hadapannya. Sampai malam yang ketiga barulah dia memberitahu suaminya. Dalam hati Thai he berpikir bahwa bayangan mangkuk emas yang tidak nyata itu termasuk emas negatif, sedangkan istrinya memiliki satu jepitan rambut emas yang nyata, dapat termasuk emas positif. Maka dia menyuruh istrinya mencopba untuk melempar jepitan rambut emasnya ke dalam bayangan mangkuk emas yang dilihatnya itu, setelah dilakukan ternyata jepitan rambut emas itu jatuh tertancap di tanah.

Keesokan harinya, Thai He sendiri yang menggali tanah tempat tertancapnya jepitan rambut itu dan dia menemukan banyak sekali emas yang tetimbun di dalamnya. karena kejadian aneh ini, Wang Thai He dalam sehari saja mendadak telah menjadi seorang yagn kaya raya, sehingga dia menganggap bhiksu poramal itu telah membohonginya dan berpikir bahwa semua bhiksu dan pendeta adalah penipu. Maka dia tidak peduli lagi terhadap bhiksu atau pengemis yang datang minta sedekah.

Pada suatu hari, Buddha Chi Kung bersama para pejabat setempat ingin membangun sebuah jembatan. Setelah diketahui bahwa di daerah itu terdapat lima orang hartawan dan Wang Thai He merupakan hartawan urutan yang pertama. Namun karena Wang Thai He tidak bersedia beramal, sehingga keempat hartawan lainnya itu juga menjadi enggan untuk beramal. Buddha Chi Kung yang mendapat tugas untuk mengumpulkan dana, mendatangi rumah Thai He untuk memberi nasehat kepadanya, tetapi pelayan hartawan Wang begitu melihat kedatangan Buddha Chi Kung langsung berkata, " Pergi ! Pergi ! Kalau diketahui oleh majikanku, anda pasti diusirnya !".

Buddha Chi Kung tidak memperdulikan mereka, belaiu hanya menuliskan beberapa kata ditembok dekat pintu masuk rumah Wang Thai He lalu pergi. Sewaktu hartawan Wang keluar, dia melihat di tembok itu ada tulisan yang berbunyi : 

" Umur tujuh tahun kehilangan ayah, umur delapan tahun kehilangan ibu, menemukan buntalan emas dan dikembalikan kepada pemiliknya, melihat calon istri buta, tidak tega untuk meninggalkannya, semua kekayaan didapatkan dari ketulusan hati yang menggugah hati Tuhan, tetapi kalau masih belum merasa puas dan tetap menolak untuk beramal, kelak janganlah menyesal atau menyalahkan Tuhan."

thai He setelah membaca sajak itu langsung berkeringat dingin, dalam hatinya dia berpikir bahwa bhiksu ini dapat mengetahui semua rieayatnya, pastilah bukan orang yang sembarangan. Kemudian tanpa diminta, beliau langsung menyumbang sepuluh ribu tael emas untuk membangun jembatan " Pai Yen Chiao ". Beliau juga mengangkat Buddha Chi Kung sebagai gurunya, serta berikrar akan dengan setulus hati membina diri dan berbuat kebaikan.

Melihat ketulusan hatinya, Buddha Chi Kung akhirnya memberi beliau sebutir pil Dewa untuk menyembuhkan mata istrinya. Setelah matanya sembuh, nyonya Wang juga mengangkat Buddha Chi Kung sebagai gurunya dan membangun sebuah ruang kebaktian di rumahnya untuk bersembahyang kepada Buddha setiap hari.

Wu Ik Ce membuat tiga buah syair yang berbunyi :" Mulanya dapur akan kosong hampa,
  • Ditakdirkan akan selalu menderita, Menemukan emas tapi tidak diambilnya, Sehingga merubah semua nasibnya. "
  • Merasa kasihan kalau istri ikut menderita, Ingin membatalkan acara nikah, Setelah tahu mata calon istrinya telah buta, Tidak mengeluh, tetap menikahinya."
  • Nasib miskin berubah menjadi kaya raya, Ketulusan hati mengharukan Tuhan kita, Buddha Chi Kung menyembuhkan mata istrinya, Suami istri membina diri, berhasil kembali ke Nirwana."

Selanjutnya ->

FILSAFAT MENCIUS, BUKU KETIGA TENTANG ADIPATI WEN DARI TENG

Bab 1 : Menjadi orang bijak

Mencius berkata : Orang seperti apakah Shun ? Orang seperti apakah saya ? Jika saya mau berusaha keras saya bisa seperti dia ! (Ini cara orang biasa menjadi bijak dengan belajar mengerti, mengoreksi dan mengendalikan serta memperbaruhi diri sendiri menjadi lebih baik).


Mencius berkata : Orang bijak adalah manusia biasa kebijaksanaannya merupakan hasil usahanya, jadi mungkin saja menjadi orang seperti Shun yang sangat bijak itu. (Ini sindiran bagi orang yang merasa dirinya bijak sejak lahir / keturunan orang bijak, hal itu tidak mungkin semua orang harus belajar dan melakukan dulu baru bisa menjadi orang bijak dan yang menilai adalah orang lain dan bukan kita sendiri itu sebabnya orang bijak tidak mungkin merasa dirinya bijak, tetapi ia hanya mengerti, mengkoreksi, mengendalikan dan memperbaruhi diri sendiri menjadi lebih baik dan tidak perduli orang lain menilai apapun).

Bab 2 : Orang yang membengkokkan dirinya tidak bisa meluruskan orang lain

Zhao jian seorang menteri pernah menyuruh wang Liang menjadi sais (sopir kereta kuda) untuk pegawai kesayangannya Xi. Tetapi setelah berburu seharian tak seekor burung pun berhasil didapatnya.
Xi berkata kepada Zheng Jian : Wang Liang pasti sais terburuk di dunia ! Zheng Liang menjawab : Betulkah ? Seorang pegawai menyampaikan kepada Wang Liang dan berkata : Xi bilang bahwa ia tidak menangkap apa pun hari itu karena kamu sais yang jelek. Wang Liang menjawab : Aku akan minta diberi kesempatan satu kali lagi.

Karena dipaksa Xi akhirnya setuju. Dengan penuh keyakinan, di pagi hari ia sudah mendapatkan sepuluh ekor binatang. Xi berkata : Wang Liang benar-benar sais yang terbaik di dunia. Zheng jian menjawab : Kalau begitu aku akan mengangkatnya menjadi saismu.

Xi bertemu Wang Liang dan bertanya : Xi sangat senang dengan kemampuanmu, maka mulai sekarang kamu menjadi saisnya. Wang Liang menjawab : Saya harus memolaknya. Ketika saya mengemudi sesuai peraturan ia tidak berhasil memperoleh seekor burung pun hingga malam. Tetapi ketika saya mengemudi dengan mengabaikan peraturan, di pagi hari ia sudah mendapatkan sepuluh ekor binatang.

Wang Liang berkata : Pujian berkata : Jika sais tidak mengabaikan peraturan mengemudi, pemanah akan langsung mengenai sasarannya. Saya tidak terbiasa mengemudi untuk orang yang tidak punya prinsip. Bebaskan saya dari tugas ini.

Mencius berkata : Orang terhormat memegang prinsipnya, ia tidak akan membelokan prinsipnya untuk menyenangkan orang lain. (Ini cara orang terhormat memegang prinsipnya dan ia tidak perlu membuang prinsipnya hanya berusaha menyenangkan orang lain untuk mendapat keuntungan).

Bab 3 : Yang membuat seseorang menjadi besar.

Mencius berkata : Tinggal di rumah yang penuh kebajikan, berdiri di tempat yang layak dan berjalan di jalan kebenaran adalah orang besar. Jika ambisinya (Bukan ambisi yang buruk tetapi ambisi tetap pada jalan kebenaran) terpenuhi, ia akan memimpin orang lain mengikutinya. Jika ambisinya tidak terpenuhi ia akan melaksanakan jalannya sendirian. (Ini prinsip orang bijak yang tidak akan memaksa sesuatu pada orang lain untuk mengikutinya ia akan berjalan sendiri untuk menjalani jalan kebenaran).

Mencius berkata : Kekayaan tidak akan menggerakkan hatinya, kemiskinan tidak akan membelokkan prinsipnya, kekuasaan tidak akan mematahkan keinginannya. (Ini prinsip orang bijak yang tidak dapat berubah prinsipnya meskipun ia di beri ganti oleh kekayaan dan tidak membelokan prinsipnya biarpun ia menjadi miskin serta tidak takut pada kekuasaan yang akan menekanya bila ia tidak membelokan prinsipnya selama ia tetap dijalan kebenaran).

Mencius berkata : Kekuasaan dan kekuatan tidak membuat orang menjadi besar. Orang besar yang sejati adalah murni, tidak bisa digerakan dan jujur. Ia akan terus melatih kedisiplinannya, bebas dari lingkungan luarnya. (Ini sindiran bagi orang-orang yang mengandalkan kekuasaan , kekayaan dan kekuatan untuk menjadi orang bijak).

Bab 4 : Pencuri ayam

Ada seorang pria yang mencuri ayam tetangganya setiap hari, ia bertemu ayahnya dan berkata : Hi ! Hi ! Hi ! Aku mencuri satu ayam setiap hari. Ayahnya berkata : Itu bukan perbuatan orang yang terhormat. Pencuri itu berkata : Kalau begitu, aku akan mengurangi pencurianku. Mulai sekarang aku akan mencuri satu ayam sebulan dan tahun depan aku akan berhenti mencuri.

Mencius berkata : Jika kamu tahu perbuatanmu salah, segera hentikan mengapa harus menunggu sampai tahun depan ?. (Ini sindiran bagi orang yang tahu ia berbuat salah dan mengulangi kesalahannya tetapi bila ditegur ia berkata ia akan mengurangi kesalahannya dan tidak segera menyadai serta tidak berbuat lagi. Ini sama juga mau cari perhatian dan ini kalau sudah terbiasa ia akan melakuakn meskipun ia tidak sadar bila melakukan kesalahannya lagi). [Akiong / Sambas]

Selanjutnya ->

Minggu, 12 Februari 2012

NABI KONGHUCU (30): MENGUNGSI KE NEGERI CEE

Suasana Negeri Lo selalu tegang, para bangsawan terkemuka sangat besar kuasanya, Raja muda Ciau hanya melewatkan waktu dengan pesta pora dan berburu. Belanja negara terus membengkak, penderitaan rakyat menjadi-jadi. Keadaan itu berakhir dengan timbulnya pemberontakan.
 
Pecahnya pemberontakan itu bermula pada peristiwa adu ayam, Kwi Pingcu berselisih dengan Ho Ciau Pik, dan Raja muda Ciau terlibat dalam pertengkaran itu; ia berlawan dengan Kwi Pingcu, seorang dari tiga keluarga bangsawan besar di negeri Lo.

Kwi Pingcu menggunakan peristiwa itu untuk mencetuskan pemberontakan dan merebut kekuasaan; ia dibantu oleh Dua Keluarga Besar lainnya melawan Raja muda Lo.
 
Pertempuran berkobar dimana-mana, bala tentara Raja muda Ciau terus mengalami kekalahan-kekalahan; mereka mundur sampai ke daerah perbatasan. Raja muda Ciau yang sudah tidak berdaya itu akhirnya lari ke Negeri Cee dan mohon suaka di sana. Oleh Raja muda Negeri Cee ia diberi tempat di Kan Ho. [Bersambung]
Selanjutnya ->

NABI KONGHUCU (29): YU COO ALAT MAWAS DIRI

Suatu hari Nabi mengajak murid-murid mengunjungi bio untuk menghormati Lo Hwan Kong. Di dalam kuil itu Nabi melihat sebuah alat yang aneh. Alat itu berbentuk tabung bulat, diikat dan digantung dengan rantai pada tiang penggantungannya.
 
Nabi bertanya kepada penjaga kuil tentang alat itu, dan dijawab bahwa alat itu bernama Yu Coo. Nabi bersabda, "Aku mendengar, Yu Coo itu suatu alat yang miring bila kosong, tegak lurus bila diisi secukupnya, dan terbalik bila kepenuhan; maka para raja suci menempatkannya di samping takhta untuk menyempurnakan Imannya."
 
Nabi lalu menyuruh murid mengambil air dan mengisi tabung alat itu; ternyata benar setelah diisi secukupnya lalu tegak lurus. Ketika terus diisi sampai penuh-penuh lalu terbalik dan semua airnya tumpah. Nabi bersabda, "Demikianlah, betapa dia tidak terbalik bila kepenuhan."
 
Cu Lo maju bertanya, "Bagaimana agar tidak kepenuhan?"
Nabi bersabda, "Kalau engkau cerdas, pandai, cakap dan bijaksana; simpanlah dengan sikap seolah bodoh. Biar jasa memenuhi kolong langit, simpanlah dengan suka mengalah. Biar keberanianmu dapat menggetarkan dunia, simpanlah dengan sikap rendah hati. Dan biar kekayaan memenuhi empat lautan, simpanlah dengan kesederhanaan. Demikianlah Jalan Suci menghindari bencana itu." [Bersambung]
Selanjutnya ->

NABI KONGHUCU (28): CU LO DITERIMA SEBAGAI MURID

Suatu hari datanglah seorang pemuda gagah perkasa, dengan sikap congkak menghadap Nabi, kepalanya dihiasi oleh bulu-bulu burung yang indah. Ketika ditanya tentang barang apa yang paling disukai, pemuda itu menjawab, "Pedangku yang panjang ini…."
 
Nabi bersabda, "Bila kepandaianmu itu disempurnakan dengan pelajaran dan pendidikan alangkah baiknya."
 
"Bagaimana?" kata pemuda itu. "Dapatkah pelajaran dan pendidikan menyempurnakan daku? Di Gunung Selatan tumbuh rumpun bambu yang sudah lurus tanpa direntangkan terlebih dahulu. Bila kupotong bambu itu, dapat kugunakan sebagai anak panah dan dapat menembus kulit badak yang tebal itu."
 
"Benar katamu," sabda Nabi, "tetapi apakah tidak benar pula bila pada anak panah itu kauberi bulu pada pangkalnya dan paruh besi yang tajam pada ujungnya? Bukankah akan dapat lebih dalam menembus?"
 
Mendengar sabda itu, pemuda itu tunduk membongkok dua kali serta mohon diterima sebagai murid. Itulah Cu Lo atau Tiong Yu, seorang pemuda yang berpribadi menarik: – sederhana, kasar, tidak terlalu pandai, terus terang dan berani; tetapi ia seorang yang jujur, simpatik, Satya, adil dan berani mengakui dan memperbaiki kesalahan. [Bersambung]
Selanjutnya ->

NABI KONGHUCU (27): KEMBALU KE NEGERI LO

Sepulang Nabi dari negeri Ciu, namaNya makin termashyur. Dari segenap pelosok orang datang kepadaNya untuk menerima bimbingan. Dalam hal ini nampak kebesaran pribadiNya: – beliau menerima murid dari berbagai negeri dan berasal dari berbagai golongan, ada yang bangsawan, perwira, pedagang, petani dsbnya. Beliau berprinsip, "Ada pendidikan, tiada perbedaan." Maka beliau disebut sebagai Bapak Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat, Guru Teladan Berlaksa Jaman.
 
Nabi bersabda, "Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan? Kawan-kawan datang dari jauh, tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali, bukankah ini sikap Susilawan?"
 
Demikianlah murid Nabi bertambah-tambah; yaitu murid-murid dari angkatan tua, seperti Gan Kwi Lo ayah Gan Hwee (=murid yang paling maju); Cing Tiam ayah Cingcu (= murid yang paling terkenal laku baktinya). [Bersambung]
Selanjutnya ->

NABI KONGHUCU (26): BERTEMU GURU MUSIK TIANG HONG

Nabi yang berjiwa seni sangat tertambat oleh keindahan musik Dinasti Ciu. Beliau menemui Guru Musik Tiang Hong yang termashyur di sana.
 
Nabi belajar musik Raja Bu, lagu kepahlawanan yang sangat dipuji akan keindahan serta kemegahannya, namun tidak dikatakan sempurna.
 
Guru Musik Tiang Hong sangat terkesan terhadap kehalusan jiwa dan kepribadian Nabi, ia berkata, "Telah dalam-dalam kupelajari tentang pribadi Tiong Ni (Nabi Khongcu), ia sungguh seorang Nabi. Matanya bagai Sungai Kuning, dahinya bagai naga – inilah sifat-sifat yang yang dimiliki Raja suci Ui-tee. Lengannya panjang, punggungnya bagai kura-kura, dan bertinggi badan 9 kaki, – ini mirip Baginda Sing Thong.

Percakapannya selalu tentang raja suci – raja suci purba. Gerak dan lakunya selalu susila dan penuh kerendahan hati. Pengetahuannya sangat luas dan ingatannya kuat serta jelas. Bukankah di dalam dirinya kita lihat sifat-sifat seorang Nabi?"
 
Memang THIAN, Tuhan Yang Maha Esa, telah mengutusNya sebagai Nabi." [Bersambung]
Selanjutnya ->

Sabtu, 11 Februari 2012

MENEPATI JANJI UNTUK MERAIH KEPERCAYAAN

Pada zaman kuno, di Negara Qin ada seorang perdana menteri bernama Shang Yang. Dia diberikan jabatan tinggi oleh Raja. Pada 359 SM, Shang Yang siap mereformasi politik untuk pembangunan ekonomi.

Tetapi dia takut bahwa orang-orang tidak akan percaya pemerintah setempat. Dia lalu berupaya memikirkan sebuah ide.

Suatu hari, ia memasang sebuah tiang setinggi 10 meter. Tiang didirikan di gerbang selatan di luar ibu kota. Kemudian dia mengatakan kepada khalayak, bahwa barang siapa yang mampu membawa tiang ke pintu gerbang utara akan diberikan 10 ons perak. Semua orang terkejut, tapi tidak ada yang berani untuk mencoba.

Setelah melihat itu, Shang Yang meninggikan suaranya dan berkata: "Siapa pun yang membawa tiang ke pintu gerbang utara akan mendapatkan 50 ons perak."

Semua masih terdiam. Akhirnya seorang pria berani melakukannya dan diberi 50 ons perak. Lainnya merasa sangat menyesal.

Dengan cara ini, Shang Yang berhasil mencapai tujuannya. Segera Qin menjadi negara terkuat. [Angie Tan / Medan]
Selanjutnya ->

Kamis, 09 Februari 2012

MAKNA SUAMI & ISTRI

Pernikahan sebenarnya merupakan suatu perjanjian yang sakral, pernikahan yang indah merupakan karunia Tuhan. Sekalipun moral di dunia runtuh, yang membuat terlalu banyak orang melupakan maksud semula dari suatu pernikahan, mereka bahkan dapat merusak pernikahan orang lain sesuka hati untuk kepentingan sesaat diri sendiri, namun kita tidak boleh karenanya terombang-ambing mengikuti arus.

* Suami

Aksara Tionghoa untuk 夫 (fū), yang berarti suami, menggambarkan seorang pria yang memakai jepit rambut besar, yang dalam budaya Tiongkok kuno adalah sebuah tanda kedewasaan perempuan dan usia matang untuk menikah. Karakter huruf ini hampir identik dengan 人 (rén, "manusia" atau "laki-laki"), tapi dengan tambahan dua garis mendatar, satu merepresentasikan jepit rambut, dan yang satu lagi sebagai dua lengan.

Fu homofon dengan salah satu aksara Tiongkok 婦 (fù) yang berarti "istri" dan yang ternyata juga berarti "patuh (服, fú)". Huruf Fu juga bisa berarti "gandum" atau "bekatul". Butiran gandum adalah salah satu dari banyaknya tanaman simbolis yang berperan penting dalam pernikahan adat tradisional Tiongkok. Ada saat di masa lalu ketika semua pernikahan diatur oleh orang tua melalui mak comblang, dan kedua calon pasangan suami dan istri tidak memiliki pendapatnya sendiri. 

Bahkan, jika seorang pria dan perempuan jatuh cinta justru sering dianggap sebagai hambatan, karena kemudian mereka akan memilih pasangan pernikahan mereka berdasarkan keinginan mereka sendiri dan bukan tuntutan bakti kepada orang tua mereka. Calon suami bahkan sangat jarang bisa bertemu dengan calon istrinya dan segera setelah nama mereka diketahui masing-masing calon mempelai, etika menuntut mereka untuk menghindari kontak sampai hari pernikahan tiba.

Seorang suami bertanggung jawab atas semua hal yang berkenaan dengan hubungan keluarganya sendiri terhadap keluarga lainnya dan dunia luar. Selain hal ini, tugas utamanya adalah pengabdian, yang berarti menunjukkan pilihannya kepada orangtua dan leluhurnya dengan mendukung keluarganya dan melestarikannya di atas perasaan istrinya, dan jika istrinya gagal melahirkan banyak anak laki-laki, hal ini sudah cukup sebagai dasar untuk perceraian. 

Pilihan lainnya adalah suami mengambil selir untuk menjamin kelahiran laki-laki sebagai generasi selanjutnya dalam keluarga. Meskipun monogami telah secara luas menjadi norma di dalam masyarakat Tiongkok saat ini, tapi seorang suami masih tetap bisa mengangkat selir sebanyak yang mampu dia tanggung, suatu kebiasaan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk hilang. Seorang suami juga diperkenankan untuk melepaskan selir yang tidak memberinya anak laki-laki tanpa ganti rugi apapun.

* Istri

Menurut salah satu penjelasan tradisional, karakter huruf ini (婦) diberikan suara Fu dengan tujuan untuk mengingatkan seorang istri untuk menjadi patuh (服 fú) kepada suaminya (夫 fū). Dalam prakteknya, kata untuk suami dan istri diucapkan dengan nada yang berbeda. Meskipun demikian sangatlah jarang membuat kebingungan. Bentuk paling tua penulisan kata "istri" menggabungkan komponen radikal untuk "perempuan" dengan sebuah sapu atau kain pembersih debu yang mengindikasikan pekerjaan rumah tangga seorang istri.

Di Tiongkok, seorang calon pengantin perempuan dipanggul dari rumahnya dengan "kursi pengantin" menuju rumah pengantin pria, di mana kedua mempelai akan bertemu untuk pertama kalinya, dan kemudian dianggap sebagai suami dan istri. Di malam pengantin, jika seorang istri sepertinya tidak perawan, dia akan segera dikirim kembali ke rumahnya dengan rasa malu.

Pembungkusan kaki dengan kencang dan menekan perasaan untuk para gadis dari sejak awal usia empat tahun menghasilkan ukuran kaki mungil yang disebut "bunga lili tiga inchi". Para gadis dengan kaki-kaki yang sangat kecil ini sangat diminati oleh para makelar pernikahan, yang pada zaman dulu melambangkan 'ikatan' para istri Tiongkok dengan rumah. Kebiasaan ini kemudian secara resmi dilarang setelah 1911 tapi hingga kini para gadis korban pelatihan yang sangat menyakitkan ini masih hidup di Tiongkok.

Untuk seorang perempuan, kepatuhan kepada orangtua mereka sebelum menikah diikuti dengan kepatuhan kepada orangtua suami setelah pernikahan. Sang istri selalu berada di bawah kendali ibu mertua, yang mungkin membuat hidupnya sengsara atau bisa juga menjadi teman seumur hidup.

Ada beberapa kompensasi untuk keterbatasan hidup para istri tradisional Tiongkok, khususnya jika istri tersebut mampu memenuhi kewajiban utamanya dengan melahirkan anak laki-laki yang berarti bahwa sang istri di kemudian hari akan menjadi ibu mertua. Para istri juga secara tradisional mengatur urusan rumah tangga, seperti demikian pula hingga saat ini. [Anita Li / Jayapura]

Selanjutnya ->

Rabu, 08 Februari 2012

SEORANG PEMAAF DIBERKAHI ANAK YANG BERBAKAT

Luo Xun, juga dikenal sebagai Luo Junshan (Junshan artinya "mengikuti kebaikan"), adalah seorang lelaki dari Jishui, Provinsi Jiangxi pada Dinasti Ming (1368–1644 Masehi). Luo Xun tinggal di penginapan saat ia menjalani ujian dinas perdata seprovinsi. Salah satu pakaiannya dicuri didalam penginapan. Teman sekamar Luo Xun merasa tidak enak. Mereka mencari dan menemukan pria yang mencuri pakaian Luo Xun. Beberapa siswa yang mengikuti ujian dan teman sekamar Luo Xun meminta agar mengurung pencuri itu di kamarnya.

Segera sesaat teman Luo Xun duduk di kamar si pencuri, mereka segera memeriksa bawaan si pencuri. Mereka mengeluarkan dan menunjukkan pada Luo Xun pakaian di dalam. Luo Xun segera meninggalkan ruangan dan dengan menyesal berkata pada si pencuri, "Tidaklah aneh apabila dua orang memiliki pakaian yang sama. Teman sekamar saya pasti telah mabuk hingga melakukan perbuatan bodoh seperti itu!"

Setelah Luo Xun kembali ke kamarnya, ia berkata pada teman sekamarnya, "Tidak masalah bagiku kehilangan sebuah pakaian murah. Apabila saya merusak reputasi orang tersebut, bagaimana ia dapat memiliki teman di antara mereka yang pandai?"

Pada ujian dinas perdata seprovinsi, nama Luo Xun berada di deretan atas. Kemudian ia menjadi seorang anggota pemerintah tingkat tinggi.

Luo Xun masih belum dapat memiliki seorang putra saat usianya 40 tahun. Suatu hari ketika ia sedang dalam perjalanan yang ada hubungan dengan pekerjaannya, ia berhenti di sebuah kuil Buddha. Ia melihat tujuh peti jenasah yang ditinggalkan di dalam biara kerena keluarga yang ditinggalkan tidak mampu membeli tanah untuk dikubur. Ia menggunakan gajinya untuk membeli tanah kuburan bagi jenasah-jenasah tersebut dan memohon pada biksu untuk melaksanakan upacara pemakaman. Malam itu ia bermimpi seorang dewa mengatakan padanya bahwa ia akan diberi seorang anak.

Kemudian, sungguh istrinya benar-benar melahirkan seorang putra yang bernama Luo Hongxian. Luo Xun memberi panggilan anaknya Nian'an, yang berarti, "memikirkan hal baik" dalam bahasa Mandarin.

Di tahun ke delapan Periode Jiajing (1521–1566 Masehi.) dibawah pemerintahan Kaisar Sudi, Luo Nian'an memenangkan tempat pertama ujian negara. Luo Nian'an akhirnya menjadi seorang sarjana terkenal yang mencurahkan perhatiannya pada pelajaran klasik dengan pendekatan rasional. [Anastasia Kang / Dumai]

Selanjutnya ->

Jumat, 03 Februari 2012

ASAL MULA SEMBAHYANG KING THI KONG

Setiap Cia Gwe Cwe Kaw (tanggal 9 bulan 1 penanggalan Imlek) orang-orang Tionghoa terutama orang Hok Kian, melakukan upacara sembahyang 敬天公 Jing Tian Gong {Hok Kian = King Thi Kong}, yang berarti sembahyang kepada Tuhan YME. Di kalangan orang Tionghoa di Indonesia, sembahyang ini dikenal dengan sebutan Sembahyang Tuhan Allah yang dilakukan dengan penuh kekhidmatan. Upacara sembahyang King Thi Kong ini termasuk salah satu rangkaian upacara pada perayaan menyambut Sin Cia (Tahun Baru Imlek) yang berlangsung selama 15 hari; dari tanggal 1 s/d 15 bulan 1 penanggalan Imlek.

Di Propinsi 福建 Fu Jian {Hok Kian} & 臺灣 Taiwan muncul istilah yang sangat populer, yaitu 初九天公聖 Chu Jiu Tian Gong Sheng, yang berarti bahwa pada Cia Gwe Cwe Kaw (Tanggal 9 bulan pertama penanggalan Imlek) adalah Hari Ulang Tahun Thi Kong. Sehingga masyarakat di propinsi Hok Kian & Taiwan mengadakan sembahyang khusus untuk menghormati Thi Kong (Tuhan YME). Upacara King Thi Kong ini juga telah menyebar di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Seperti kita ketahui istilah 上帝 Shang Di (Tuhan YME) di kalangan 善男信女penganut agama Tionghoa (Buddha, Taoisme, & Khong Hu Cu) disebut 天 Tian {Thian}, yang kemudian secara lebih akrab disebut 天公 Tian Gong {Hok Kian =Thi Kong}. Sembahyang kepada Thi Kong ini telah meluas sampai ke golongan masyarakat yang paling bawah, seperti petani, pedagang dan lain-lain.

Pada tanggal 9 bulan pertama Imlek ini, upacara sembahyang King Thi Kong dilakukan mulai dari kalangan atas sampai orang-orang miskin sekalipun. Penduduk yang miskin cukup menempatkan sebuah Hiolo (pedupaan = tempat menancapkan dupa) kecil yang digantungkan di depan pintu rumahnya dan menyalakan hio (dupa) dari pagi sampai tengah malam secara kontinue.

Bagi orang berada, acara sembahyang ini merupakan hal yang paling megah & khidmat. Sebuah meja besar dengan keempat kakinya diletakkan di atas 2 buah bangku panjang. Lalu di atas meja tersebut diatur 3 buah 神位 Shen Wei (Tempat Dewa) yang terbuat dari kertas warna-warni yang saling dilekatkan. Kemudian di depan Shen Wei dijajarkan 3 buah cawan kecil yang berisi teh, & 3 buah mangkuk yang berisi misoa yang diikat dengan kertas merah. Setelah itu 五果六菜 Wu Guo Liu Cai {Hok Kian = Go Ko Lak Chai} diatur di bagian depan. Wu Guo Liu Cai berarti 5 macam buah-buahan & 6 macam masakan vegetarian, ini menjadi dasar utama dalam penataan barang sajian upacara sembahyang orang Tionghoa. Di bagian paling depan (sebelah kiri & kanan) dipasang lilin 1 pasang (= 2 batang).

Sehari sebelum upacara sembahyang (Cia Gwe Cwe Pe = Tanggal 8 bulan 1 Imlek) dimulai, seluruh penghuni rumah melakukan mandi keramas & ganti baju. Sembahyang dilakukan tepat pukul 12 tengah malam, dimulai dengan onggota keluarga yang paling tua dalam urutan generasinya. Semua melakukan 三跪九叩 San Gui Jiu Kou {Hok Kian = Sam Kwi Kiu Kho} yaitu 3 X berlutut & 9 X menyentuhkan kepala ke tanah. Setelah selesai baru kemudian kertas emas yang dibuat khusus lalu dibakar bersama dengan Shen Wei yang terbuat dari kertas warna-warni. Kemudian dinyalakan petasan untuk mengantar kepergian para malaikat pengiring. Upacara sembahyang King Thi Kong ini di kalangan Hoa Qiao Indonesia dikenal dengan sebutan "Sembahyang Tuhan Allah".

Tidak jelas kapan masyarakat propinsi Hok Kian & Taiwan memulai King Thi Kong ini. Sebuah sumber mengatakan bahwa King Thi Kong baru mulai diadakan pada masa awal Dinasti Qing [1644 - 1911]. Seperti diketahui bahwa Hok Kian merupakan basis terakhir perlawanan sisa-sisa pasukan yang masih setia kepada Dinasti Ming [1368 – 1644]. Pada waktu pasukan Qing (Man Zhu) memasuki Hok Kian, mereka berhadapan dengan perlawanan gigih dari rakyat setempat & sisa-sisa pasukan Ming. Setelah perlawanan ditaklukkan dengan penuh kekejaman, akhirnya seluruh propinsi Hok Kian dapat dikuasai oleh pihak Qing.

Selama terjadinya peperangan & kekacauan ini, banyak rakyat yang bersembunyi di dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Di dalam rumpun tebu itulah mereka melewati malam & hari Sin Cia. Setelah keadaan aman, pada Cia Gwe Cwe Kaw (Tanggal 9 bulan 1 Imlek) pagi mereka berbondong-bondong keluar & kembali ke rumah masing-masing. Untuk menyatakan rasa syukur karena terhindar dari bencana maut akibat perang, mereka lalu mengadakan upacara sembahyang King Thi Kong pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Thi Kong atas lindungan-Nya. Oleh karena ini, maka sebagian besar orang Hok Kian mengatakan bahwa Cia Gwe Cwe Kaw adalah Tahun Baru-nya orang Hok Kian, sedikitpun tidak salah.

Selain upacara King Thi Kong, pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini bertepatan pula dengan Hari Kelahiran Maha Dewa 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Tee = Maha Dewa Kumala Raja}, yaitu Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain. Karena 2 hal yang bertepatan inilah maka orang Tionghoa menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai penitisan dari 天 Tian (Tuhan YME). Ini identik dengan umat Kristiani yang menganggap Nabi Yesus sebagai penitisan dari Tuhan YME. Cap It Gwe Cwe Lak (tanggal 6 bulan 11 Imlek) adalah Hari Giok Hong Siong Tee mencapai kesempurnaan.

Dari cerita di atas, jelaslah bahwa orang Tionghoa percaya kepada Tuhan YME (God the Almighty) yang disebutkan sebagai Tian atau Tian Gong {Thi Kong}, hanya saja konsepsinya berbeda dengan agama lain. Bagi umat Tionghoa, Tuhan memiliki pembantu-pembantu yang terdiri dari berbagai dewa yang mempunyai jabatan & wilayah tertentu, & berkewajiban melakukan pengawasan terhadap perbuatan manusia dalam lingkungan kekuasaan & wilayah masing-masing.

Jadi jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini BUKAN karena mereka percaya TAHAYUL, melainkan karena mereka hendak menghadap kepada salah satu di antara sekian banyak pembantu Tuhan (yaitu : dewa/i) di dunia ini untuk keperluan tertentu (misalnya: menanyakan tentang pekerjaan, bisnis, karir, jodoh, dsb), atau sekedar mencurahkan isi hatinya (curhat). [Teo Ai Ping / Jakarta]

Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA