BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Senin, 20 Mei 2013

MELEPASKAN KERISAUAN

Dalam perjalanan kehidupan, jika kita bisa dengan penuh perhatian menebarkan benih-benih kebaikan dan kegembiraan, di dalam ladang hati diri sendiri dan orang lain, maka sinar mentari kegembiraan itu setidaknya bisa menyirami kegelapan dan kesendirian di dalam dunia yang ada di hati kita.
 
Akan tetapi, mengapa dalam kehidupan kita tampaknya sangat sulit untuk mencari dan menemukan kegembiraan dalam hidup?

Ada berapa banyakkah kerisauan dalam hidup kita, sepertinya tidak ada orang yang pernah berpikir secara saksama, tetapi seumur hidup manusia selalu diikuti oleh kerisauan. Sejak dulu hingga kini, keluhan seperti ini boleh dikata banyak sekali bagai lautan asap.

Dari dulu hingga sekarang, begitu banyak pujangga agung, sajak yang mereka tuliskan sudah meninggalkan nama baik sepanjang masa, tetapi mereka tetap tidak bisa terhindar dari serangan puluhan ribu kerisauan dalam kehidupan ini.

Syair sajak yang ditulis oleh penyair perempuan Li Qingzhao (1084–1151) mengatakan, "Kecemasan ini tiada cara untuk dihilangkan, baru turun dari alis dan kepala, sudah berada dalam hati." Kelihatannya, penyair perempuan yang pandai ini terhadap kecemasan dan kerisauan juga tidak berdaya.

Beginilah kecemasan tentang keruntuhan negara dari Li Yu (1610–1680) diungkapkan kepada kita semua, "Menanyakan kepada tuan bisa ada berapa banyak kerisauan, persis seperti air musim semi di sungai yang mengalir ke arah timur." Kerisauan itu banyaknya seperti air sungai musim semi, perumpamaan seperti ini masih bisa kita lihat. 

Sedangkan sajak dari Li Bai (701 – 762) menuliskan, "Bersama dengan Anda menghapuskan kerisauan sejak dahulu kala." Banyaknya kerisauan itu membutuhkan kita untuk membayangkan.

Walaupun tiga orang sastrawan tersebut sangat jenius, akan tetapi mereka tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari belitan kerisauan. Orang zaman dahulu demikian, sehingga orang masa kini juga mengulangi lagi kesengsaraan dan kerisauan orang zaman dulu.

Manusia mempunyai begitu banyak kerisauan, tapi juga bisa mempunyai kegembiraan yang cukup banyak. Dalam hidup ini jika kita kekurangan kegembiraan, maka kita pasti akan merasakan hidup ini sangat tidak nyaman dan kekurangan makna keberadaannya. 

Kita harus tahu bahwa kegembiraan itu benar-benar adalah benda berharga yang sulit sekali ditemukan dalam dunia fana ini. Orang-orang sering kali mengumpamakan waktu sebagai sungai yang mengalir, jika kita bisa setiap saat berada dalam kegembiraan maka kegembiraan itu akan selalu menyirami diri kita. Tetapi, bagaimana kita bisa menemukan kegembiraan yang melimpah seperti air? Dimanakah sumber dari kegembiraan berada?

Saat ini, gunung serba hijau berada di luar jendela, melihat gunung nan hijau itu, membuat saya teringat sebuah syair sajak pada taraf yang berbeda, "Saya melihat gunung nan hijau itu begitu indah, gunung nan hijau melihat saya seharusnya juga demikian."

Ketika saya mengamati gunung hijau itu dengan suasana hati yang tenang dan damai, gunung hijau itu juga akan membalasnya dengan keramahannya yang lembut dan indah. Dengan sebuah hati bersyukur saya berangkat menapaki kehidupan. Ini adalah kata-kata wejangan untuk diri saya sendiri.

Saya akan berkata demikian kepada diri sendiri, menggunakan sorot mata yang lembut memberitahu sanak keluarga, juga orang asing yang bertemu di jalan. Saya akan berkata kepada gunung dan air serta awan di langit biru yang ada di luar jendela, akan saya katakan juga kepada perjalanan hidup yang saya lalui, dan perjalanan hidup itu bukan lagi hanya sebuah perjalanan panjang dan tak berdaya.

Dalam perjalanan hidup ini, ketika kecemasan dan dendam dalam hati kita pudar bagaikan asap dan awan, maka kegembiraan kita akan bisa menyebar luas di dunia yang berada dalam hati kita.

Dengan penuh perhatian dan berperilaku sebagai orang baik dengan melakukan segala hal, agar orang lain bisa merasakan perhatian dan memusatkan segenap pikiran, atau ketika kita dengan penuh perhatian menuliskan kalimat, meletakkan sangat banyak sekali kegembiraan ke dalamnya. Jika banyaknya kegembiraan itu bisa menyirami orang lain, bukankah itu adalah sebuah keajaiban?

Teman, marilah kita menyirami jiwa orang lain dengan kebaikan dan kegembiraan, persis seperti kita menyirami tubuh kita sendiri dengan air. Bukankah hal itu suatu kegembiraan yang tiada tara? [Selvia Zheng / Gorontalo]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA