BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Tampilkan postingan dengan label Pakaian - Kostum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakaian - Kostum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

KOSTUM ETNIS HMONG DI TIONGKOK DAN ASIA TENGGARA

Hmong (diucapkan [m̥ɔ̃ŋ]) atau Mong ([mɔ̃ŋ]) adalah nama dari kelompok etnis yang menempati wilayah pegunungan Tiongkok selatan dan Asia Tenggara. Suku Hmong di Tiongkok mempunyai populasi yang lebih banyak dan disebut Suku Miao (苗族).

Mulai pada awal abad ke-18, suku Hmong melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara karena alasan politik atau ekonomi. Di Asia Tenggara mereka dapat dijumpai di Vietnam, Laos, Thailand, dan Myanmar.

Suku Hmong di Laos terlibat dalam usaha pemberontakan terhadap kaum komunis-nasionalis Pathet Lao dalam Perang Rahasia. Ketika Pathet Lao mengambil alih pemerintahan pada tahun 1975, warga Suku Hmong dikenakan retribusi, sehingga banyak yang mengungsi ke Thailand.

Ribuan pengungsi Hmong juga mengungsi ke Amerika Serikat, Perancis, Australia, Guyana Perancis dan Kanada. Yang lainnya kembali ke Laos dengan program repatriasi dari PBB. Saat ini sekitar 8000 orang warga Hmong menjadi pengungsi di Thailand. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Hui Tek - Pontianak
Selanjutnya ->

Selasa, 03 Mei 2011

ETNIS SHE DI CHINA

Orang Etnis She kebanyakan tinggal di Provinsi Fujian, Zhejiang dan Guangdong. Pakaian mereka pada waktu ini hampir sama dengan pakaian orang etnis Han.

Hanya di beberapa tempat di Fujian masih terlihat wanitanya yang memakai pakaian tradisi yang mempertahankan sebagian fitur etnis She.

Wanita etnis She di sana memakai "apron" di pinggang mereka. Mereka juga mamakai sabuk di luar apron tersebut. Berbagai Pribahasa yang berarti beruntung disulam pada sabuk itu.

Bunga, burung, hewan dan berbagai gambar geometri yang berwarna-warni dab terlihat sangat cantik juga disulam pada apron mereka.

http://yinnihuaren.blogspot.com
Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing, Jakarta
Selanjutnya ->

Sabtu, 23 April 2011

ETNIS TATAR DI CHINA

Orang etnis Tatar kebanyakan tinggal di Xinjiang, bagian barat laut Cina.

Pria etnis Tatar biasanya memakai topi yang dibuat dari kulit di musim dingin, dan topi yang dihias dengan bunga sulaman pada musim panas.

Mereka suka memakai baju kemeja berwarna putih dan memakai weskot atau jubah, memakai ikat pinggang dan but.

Wanita etnis ini suka memakai gaun yang agak longgar dengan lengannya yang agak ketat.

Mereka juga memakai topi kecil yang dihias dengan mutiara.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ETNIS PUMI DI CHINA

Orang etnis Pumi kebanyakan tinggal di provinsi Yunnan, bagian selatan Tiongkok.

Menurut tradisi etnis Pumi, anak dalam masyarakat etnis ini hanya dapat memakai jubah yang longgar.

Setelah berumur 13 tahun, barulah mereka bisa memakai baju dan rok yang pendek dan celana yang longgar.

Semua remaja etnis Pumi juga memakai weskot atau sebai yang dibuat dari kulit kambing dan memakai ikat pinggang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Senin, 04 April 2011

KIMONO TINGKATKAN KECANTIKAN PEREMPUAN JEPANG

Negara Jepang memang baru saja tertimpa musibah bencana gempa dan tsunami dahsyat, yang menewaskan hampir 10.000 penduduknya. Namun tak dapat dipungkiri Jepang merupakan salah satu negara penghasil budaya yang paling eksotis. Dan salah satunya yang paling tersohor ialah baju kimono.

Kimono Jepang sangat dipengaruhi oleh budaya Dinasti Tang Tiongkok (618-917). Kimono telah ditemukan sejak periode Edo hingga masa Restorasi Meiji. Seiring dengan perkembangan zaman, model baju kimono kini menjadi jauh lebih beragam, lebih disesuaikan dengan selera masa kini. Namun bagi orang Jepang, kimono tetap saja hanyalah dianggap sebagai warisan budaya kuno, dan lebih pantas masuk museum daripada dikenakan pada kehidupan sehari-hari. Perempuan Jepang zaman sekarang kebanyakan lebih menyukai pakaian casual maupun pakaian resmi.

Padahal kimono bukan hanya sekedar pakaian orang zaman kuno, di baliknya juga terdapat makna yang mendalam. Di zaman dulu, setiap perempuan Jepang harus memiliki tiga set kimono: set pertama adalah untuk anak perempuan usia 3-7 tahun berpartisipasi dalam “Festival Anak-anak.” Set kedua untuk remaja usia 20 tahun untuk menghadiri “Festival Dewasa”. Dan set ketiga adalah untuk upacara pernikahan, dan harus benar-benar disimpan sebagai pusaka keluarga.

Terus terang saja, secara fisik, rata-rata perempauan Jepang bertubuh “biasa.” Rata-rata mereka bertubuh pendek, memiliki kaki yang pendek pula, dan biasanya kaki mereka kasar. Jika mereka memakai pakaian yang “terbuka” maka kekurangan mereka itu akan tampak dengan jelas. Tetapi dengan satu set kimono yang indah, bisa menyembunyikan kekurangan itu dengan baik, sekaligus menunjukkan pesona perempuan oriental.

“Membungkus” tubuh dengan kimono

Kimono memiliki bermacam-macam jenis, yang menunjukkan suatu umur dan status perkawinan. Sebagai contoh, perempuan lajang mengenakan kimono dengan lengan yang ketat, sedangkan yang telah menikah biasanya memakai yang berlengan longgar.

Gaya rambut juga disesuaikan dengan jenis kimono. Misalnya, gaya rambut “Shimada”, yang menunjukkan bahwa perempuan tersebut masih lajang, harus menggunakan kerah baju berwarna merah. Sedangkan gaya rambut “roti bundar” harus dipakai dengan kimono berwarna polos untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan telah menikah.

Kimono tidak menggunakan kancing, namun menggunakan ikat pinggang sebagai pengikat tali simpul. Yang seolah “membungkus” tubuh sang pemakai dengan kain bercorak daun dengan beraneka macam warna yang berbeda.

Mengungkapkan pesona perempuan

Seperti halnya pria Tionghoa yang menyukai perempuan berkaki kecil, para pria Jepang lebih menyukai bagian leher dan punggung. Oleh karena itu, ketika membuat kimono, rancangan baju sangat memperhatikan dua daerah tersebut, dalam rangka untuk mengungkapkan sebuah keanggunan tanpa menimbulkan kesan seronok.

Tetapi dari sudut pandang kenyamanan, kimono tetap harus memperhatikan masalah ventilasi. Bagian lengan, depan, dan rok, tetap dapat fleksibel buka dan tutupnya. Bagian yang terbuka dan tertutup dalam baju kimono juga memiliki arti yang berbeda, hal ini ditentukan berdasarkan status sang pemakai. Jika tidak termasuk dalam kelompok tertentu, Anda harus memakai rok yang tertutup.

Untuk bagian penutup kerah kimono, dapat memiliki konotasi yang berbeda pula: perempuan yang telah menikah dapat membiarkan kerah mereka di sekitar leher terbuka, tetapi pada perempuan lajang, bagian kerah harus tertutup. Seorang penghibur (penyanyi/penari) dapat memakai kimono dengan kerah terbuka dan hanya mengenakan kerah di bentuk-V di bagian depan. Pada kenyataannya, bagian leher dan punggung seorang perempuan Jepang rata-rata tidak begitu elegan, namun setelah mengenakan kimono, akan segera menampilkan suatu keanggunan yang berbeda.

Dalam puisi “Sha Yang Nora,” yang ditulis oleh seorang penyair Tiongkok terkenal, terdapat satu bait yang berbunyi, “Ketika seorang perempuan muda mengucapkan selamat tinggal, kelembutannya ditunjukkan dengan menundukkan kepala, seperti bunga teratai yang menunjukkan rasa malu di bawah angin lembut.” Jadi, dengan mengenakan kimono, dapat menampilkan kelembutan dan keanggunan sejati perempuan oriental. [Chen Mei Ing]
Selanjutnya ->

Minggu, 03 April 2011

ETNIS DEANG DI CHINA

Orang etnis Deang kebanyakan di Provinsi Yunnan bersama-sama dengan berbagai etnis lainnya seperti Dai, Jingpo, Wa dan Han.

Pria Etnis Deang memakai baju yang berwarna hitam dan celana pendek yang longgar. Wanita etnis Deang suka memakai baju pendek yang berwarna hitam dan dihias dengan tombol berupa persegi dan dibuat dari perak, dan skirt panjang yang dihias dengan jalur yang berwarna-warni.

Mereka juga suka mengikat simpai yang dibuat dari rotan. Mereka berpendapat memakai semakin banyak simpai yang cantik membuktikan orang itu cerdas dan pandai bekerja. Selain itu, pakaian pria dan wanita etnis Deang juga dihias dengan banyak "jambul" yang berwarna-warni. Ini merupakan ciri khas yang paling istimewa pada pakaian orang etnis Deang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Selasa, 22 Maret 2011

ETNIS KAZAK DI CHINA

Orang etnis Kazak kebanyakan tinggal di Daerah Otonom Uigur Xinjiang, Provinsi Gansu dan Qinghai.

Pakaian etnis Kazak biasanya dibuat dari kulit kambing, rubah, rusa dan serigala. Pria etnis Kazak suka memakai jubah dan celana yang memudahkan menunggang kuda.

Wanita etnis Kazak suka memakai gaun, dan hiasan kepala mereka agak istimewa. Gadis yang belum kawin memakai topi yang dilengkapi dengan bunga yang disulam dengan benang berwarna keemas-emasan.

Di atas topi ini juga dilengkapi dengan bulu burung hantu yang menandakan keberanian. Setelah menikah, mereka akan memakai sejenis topi yang agak tinggi, dan satu tahun kemudian, topi ini berubah lagi menjadi tudung yang berwarna warni.

Namun, tudung kepala mereka yang belum beranak dan yang sudah beranak dan warga emas pula agak berbeda. (* v *)

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Sabtu, 19 Maret 2011

ETNIS TIBET DI CHINA

Orang Etnis Tibet tinggal di tempat yang berbeda. Maka, pakaian mereka pun berbeda sedikit satu sama lain.

Pakaian orang etnis Tibet biasanya memiliki lengan yang panjang, pinggang yang longgar dan lapel yang besar.

Wanita etnis Tibet memakai jubah yang memiliki lengan panjang pada musim dingin dan jubah tanpa lengan pada musim panas.

Di dalam jubah mereka yang panjang itu, mereka memakai baju yang berwarna-warni.

Mereka juga mengikat apron yang berwarna-warni di luar jubah panjang mereka. Orang etnis Tibet juga suka memakai "Hada". Hada adalah kain sutera putih yang panjangnya 1 sampai 2 meter.
Orang etnis Tibet menganggap Hada cenderamata yang berharga yang selalu dihadiahkan kepada tamu yang dihormati.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Kamis, 17 Maret 2011

ETNIS MONGOL DI CHINA

Perhiasan, jubah, ikat pinggang dan but merupakan bagian yang paling penting dan menjadi ciri khusus dalam pakaian orang etnis Mongol.

Perhiasan kepala bagi wanita etnis Mongol terbuat dengan batu akik, mutiara, emas dan perak.

Mereka suka memakai tiga lapis baju yang panjangnya berbeda. Baju yang paling dalam yang dipakai mereka memiliki lengan yang panjang hingga ke pergelangan tangan.

Baju lapisan kedua mereka memiliki lengan hingga ke siku. Pakaian yang paling luar adalah weskot tanpa kerah. Pria etnis Mongol memakai jubah dan tali pingga di luar pakaian mereka.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Minggu, 13 Maret 2011

ETNIS GAOSHAN DI TAIWAN

Orang etnis Gaoshan adalah penduduk pertama yang tinggal di Taiwan. Kini kebanyakan dari mereka tinggal di pegunungan Taiwan. Di beberapa tempat di daratan juga ada sejumlah etnis Gaoshan.

Di bagian utara Taiwan, pria etnis Gaoshan biasanya memakai baju tanpa lengan. Di bagian tengah Taiwan, mereka memakai weskot yang dibuat dari kulit hewan dan skirt kain yang berwarna hitam. Di bagian selatan Taiwan, pria etnis Gaoshan biasanya memakai celana dan baju yang memiliki lengan panjang dan berbutang di depan. Wanita etnis Gaoshan memakai baju pendek. Sebagian dari mereka memakai skirt, sebagian lainnya memakai celana.

Saat hari raya atau upacara penting, orang etnis Gaoshan akan memakai pakaian khusus yang dihiasi dengan bulu burung dan kulit kerang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ETNIS MAONAN DI CHINA

Orang etnis Maonan kebanyakan tinggal di Kabupaten Huanjiang, Guangxi. Wanita dan pria etnis Maonan suka memakai baju yang berwarna biru.

Wanita etnis Maonan memakai baju yang memiliki tombol di kanan dan dihias dengan dua tali dan bunga sulaman di bagian dada. Celana mereka agar longgar.

Mereka juga sangat suka memakai topi yang dianyam dengan menggunakan kulit sejenis bambu lokal. Pria etnis Maonan memakai sejenis baju yang disebut "baju tombol lima".

Satu tombol di leher, tiga lagi di sebelah kanan, dan satu lagi di bagian perut.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Kamis, 10 Maret 2011

ETNIS YAO DI CHINA

Orang etnis Yao kebanyakan di daerah pegunungan di Daerah Otonom Zhuang Guangxi, Provinsi Yunnan, Hunan, Guangdong, Jiangxi dan Hainan di bagian selatan Tiongkok.

Wanita etnis Yao pandai menyulam. Jadi, bunga sulaman yang cantik terlihat di bagian leher, dada dan lipatan kaki dan tangan baju mereka.

Pria etnis Yao suka memakai baju tanpa kerah. Di luarnya mereka memakai weskot yang dibuat dari kain putih. Celana yang dipakai oleh pria etnis Yao ini besar kakinya.

Setelah mencapai umur 15 tahun, wanita dan pria etnis Yao tidak memakai topi bunga lagi, malah membalut kain di kepala mereka untuk menunjukkan mereka sudah menjadi dewasa.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ETNIS GELAO DI CHINA

Kebanyakan orang etnis Gelao tinggal di bagian barat Provinsi Guizhou. Ada sebagian kecil yang tinggal di Daerah Otonom Zhuang Guangxi.

Baju wanita etnis Gelao panjangnya sampai ke pinggang saja dan ada sulaman seperti sisik ikan di lengannya. Bagian tengah skirtnya pula dibuat dari bulu kambing dan dipoles warna merah. Bagian atas dan bawah skirt ini dibuat dengan kain rami yang berwarna biru dan putih.

Wanita etnis Gelao memakai jubah panjang yang lengan di luar baju pendek dan rok ini. Bagian depan jubah ini lebih pendek dari bagian belakangnya. Ia juga dihias dengan bunga sulaman. Baju pria etnis Gelao pula biasanya berbelah dan berbutang di depannya.

Pria dan wanita etnis ini memakai "sorban" dengan menggunakan kain yang panjang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Selasa, 08 Maret 2011

ETNIS DULONG DI CHINA

Orang etnis Dulong kebanyakan tinggal di bagian barat laut Provinsi Yunnan. Menurut tradisi, mereka biasanya memakai baju yang dibuat dari kapas dan linen dan celana pendek.

Mereka juga memakai kain linen di luar baju mereka, kain ini disangkut di bahu kiri, dengan lengan kanan terkena, menakala panah dan keris diikat di pinggang.

Wanita etnis Dulong memakai lingkaran rotan yang berwarna di pinggang mereka. Mereka juga suka memakai berbagai perhiasan seperti kalung bahkan berbagai jenis uang logam yang dibuat dari perak.
Ketika keluar, wanita etnis Dulong biasanya membawa kerau yang dianyam dari bilah-bilah bambu. Pada waktu dahulu, semua orang etnis Dulong berkaki ayam dan tidak mengikat rambut mereka yang panjang.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ETNIS SALAR DI CHINA

Orang etnis Salar kebanyakan tinggal di Kabupaten Otonom Salar Xunhua, Qinghai.

Pria etnis Salar memakai kopiah yang bulat atau bersegi enam yang berwarna hitam atau putih. Baju mereka pendek dan berwarna putih, dipakai dengan ikat pinggang yang berwarna merah.

Di luar baju pendek ini, mereka memakai weskot atau jubah yang agak longgar. Pada musim dingin, mereka memakai sejenis sepatu yang dibuat dengan kulit sapi dan diisi dengan rumput.

Wanita etnis Salar suka memakai gaun yang berwarna-warni dan memakai weskot berwarna hitam di luar gaun itu. Sebagai muslim, wanita etnis Salar biasanya memakai jilbab.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Sabtu, 05 Maret 2011

ETNIS WA DI CHINA

Orang etnis Wa kebanyakan tinggal di bagian barat daya Provinsi Yunnan. Mereka sangat menggemari warna merah dan hitam.

Oleh itu, kebanyakan pakaian mereka berwarna hitam dan dihias dengan warna merah.

Wanita etnis Wa suka memakai gumpalan rambut yang lebarnya hingga 3 cm dan dibuat dari perak. Mereka memakai baju pendek yang berwarna hitam, tanpa kerah dan berbutang di bagian kanan dengan skirt yang panjang dan ketat yang memiliki baris horisontal dan berwarna-warni.
Di pinggang mereka diikat tali yang berwarna merah dan beberapa puluh buah simpai yang dibuat dari rotan.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ETNIS TU DI CHINA

Etnis Tu kebanyakan tinggal di kabupaten otonom etnis Tu di bagian timur Provinsi Qinghai.

Pakaian etnis Tu mempertahankan tradisi berpakaian mereka. Pria etnis ini memakai baju putih yang memiliki bunga bersulam dalam bentuk segi empat di bagian narkoba. Di luar baju ini, mereka suka memakai weskot atau jubah.

Pakaian wanita etnis Tu agak berwarna-warni. Pada lengan baju mereka dijahit lima lingkaran kain yang berwarna merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Mereka memakai rok dan celana. Gadis remaja suka memakai skirt yang berwarna merah, sedangkan wanita yang sudah berumur akan memakai skirt yang berwarna biru.

Warna celana pada bagian di bawah lutut pula menjadi tanda untuk membedakan apakah wanita ini sudah menikah atau belum. Yang merah menandakan wanita ini belum menikah dan yang biru menandakan wanita ini sudah menikah.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Senin, 28 Februari 2011

ETNIS TAJIK DI CHINA

Orang etnis Tajik kebanyakan tinggal di bagian barat daya, di Daerah Otonom Uigur Xinjiang.

Pria etnis Tajik biasanya memakai baju kemeja putih dan jubah tanpa kerah.

Mereka juga menggantung sebuah pisau kecil pada ikat pinggang, dan memakai but juga topi yang dibuat dengan kulit kambing.

Wanita etnis Tajik suka memakai gaun yang berwarna-warni, weskot yang berwarna hitam dan celana. Untuk menghindari angin yang kencang di dataran tinggi, mereka juga memakai topi yang menutup telinga dan leher.

Disalin oleh: Mei-Ing
Selanjutnya ->

ETNIS BAO'AN DI CHINA

Kebanyakan orang etnis Bao'an tinggal di Provinsi Gansu bersama masyarakat etnis Dongxiang, Salar dan Hui yang juga beragama Islam.

Pakaian sehari-hari mereka juga hampir sama.

Pria etnis Bao'an biasanya memakai songkok dan baju yang berwarna putih dan weskot yang berwarna hitam. Wanita etnis Bao'an yang belum menikah memakai baju yang berwarna-warni dan juga tudung yang dibuat dari sutera.

Wanita yang sudah menikah pula memakai kopiah yang berwarna putih jika di rumah. Jika keluar, mereka akan memakai jilbab yang berwarna hitam.

Wanita tua biasanya memakai jilbab yang berwarna putih.

Disalin oleh: Mei-Ing
Selanjutnya ->

Kamis, 24 Februari 2011

PAKAIAN DINATI QIN (221-206 SM)

Walaupun masa pemerintahan Dinasti Qin agak pendek. Pernah Kaisar Shi huangdi mengeluarkan perintah tentang pakaian, pakaian orang ramai biasanya tetap mewarisi tradisi pada Zaman Negara-negara berperang.

Menurut arahan Kaisar Shi huangdi, pakaian resmi lelaki dalam upacara resmi ialah baju dan skirt dan warna hitam merupakan warna yang paling agung.

Pegawai berperingkat tiga ke atas perlu memakai jubah yang berwarna hijau, sedangkan rakyat biasa hanya dapat memakai jubah yang berwarna putih.

Dalam istananya, Kaisar suka permaisuri dan selir-selirnya memakai pakaian yang cantik dan mewah, warna pakaian mereka juga mengikut kegemaran Shi huangdi, tapi biasanya menggunakan warna yang berkaitan dengan lima unsur yang paling penting dalam dunia menurut tradisi China, yaitu emas, kayu, air, api dan tanah. (*v*)

Mobile Upload by - Chen Mei Ing
Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA