BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Senin, 28 Februari 2011

TANG LANG BU CHAN, HUANG QUE ZAI HOU

Peribahasa "Tang Lang Bu Chan, Huang Que Zai Hou" ini berasal dari satu cerita yang terjadi pada zaman Chunqiu atau Semi dan Gugur (tahun 770 - 476 Sebelum Masehi). Menurut ceritanya, pada suatu hari, raja negeri Wu merencanakan untuk menyerang negeri Chu. Namun, rencananya itu telah menimbulkan protes yang keras dari pejabat pemerintah, sehingga menyebabkan beliau menjadi berang, dan bertitah dengan kata-kata, "Siapa saja yang berani menghalangi rencana beta, akan dibunuh, tidak kira apa pun alasannya!" Dengan itu, tiada seorang pun yang berani untuk membujuk atau menasehati beliau lagi.

Pada saat itu, ada seorang pengawas muda di istana yang terfikir satu cara yang bijak. Setiap pagi, dia akan berjalan di sekitar taman yang sering dikunjungi oleh raja negeri Wu itu, dengan memegang lastik dan beberapa biji "peluru" gentelan. Sesekali dia mendongak juga untuk melihat pucuk pohon yang tinggi dalam taman itu, dan kadang-kadang baju dan riap habis basah oleh tetesan embun.

Suatu hari, ketika melihat kondisi itu, Raja negeri Wu pun bertanya dengan heran,

"Apa kamu buat di sini?"

Pengawal itu menjawab,

"Maaf tuanku. Tadi hamba melihat ada seekor raing-riang yang sedang beristirahat di atas pohon itu, tetapi ia tidak sadar ada bahaya di belakangnya?"

"Apa yang terjadi?" Raja itu bertanya.

"Di belakangnya ada seekor cengkadak yang sedang mengulurkan lengannya, untuk menangkap raing-riang itu."

Pengawal itu melanjutkan ceritanya,

"Sayangnya, cengkadak itu juga tidak sadar ada seekor burung kepudang di belakangnya yang sudah pun menjulurkan lehernya dan bersiap-siap untuk memakannya."

"Lalu?" tanya raja itu lagi.

"Sayangnya, burung kepudang itu juga tidak sadar ada hamba yang sudah menyiapkan lastik di bawah ini."

Ketika melihat rajanya begitu tertarik dengan ceritanya, pengawal itu terus menjelaskan,

"Hamba rasa, ketiga-tiganya ini hanya melihat keuntungan yang ada di depan mata masing-masing saja, tetapi tidak tahu ada bahaya di belakangnya. Sebenarnya, kadang-kadang kita juga seperti mereka, tidak tahu menghitung resiko yang akan kita tanggung dari setiap tindakan yang kita lakukan. Ekorannya, resiko yang akan kita hadapi mungkin jauh lebih besar dari keuntungan yang kita peroleh. "

Raja negeri Wu merasakan kata-kata pengawal itu sangat masuk akal. Maka, setelah pulang, beliau segera membatalkan rencananya untuk menyerang negeri Chu itu.

Catatan Keterangan:

Peribahasa "Tang Lang Bu Chan, Huang Que Zai Hou" ini berarti, cengkadak ingin menangkap raing-riang tanpa menyadari ada burung kepudang di belakangnya yang sudah bersiap-siap untuk memakannya. Peribahasa ini menasehati kita agar jangan hanya mengejar keuntungan yang ada di depan mata saja, tanpa mengetahui dan menghitung bahaya yang ada di belakangnya.

Disalin oleh: Chen Mei Ing

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA