BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Rabu, 09 Februari 2011

CAI WENJI, SASTRAWATI TERKENAL DALAM SEJARAH CHINA

Cai Wenji adalah sastrawan wanita yang terkenal dalam sejarah kuno China. Perolehan beliau yang tinggi dalam bidang sastra terkait dengan pengalaman hidupnya yang agak luar biasa.

Cai Wenji hidup pada akhir abad ke-2 sampai awal abad ke-3 Masehi yaitu pada akhir zaman Dinasti Han Timur. Ayahnya Cai Yong adalah seorang pujangga terkenal yang tidak hanya memiliki bakat dalam bidang sastra tetapi juga dalam bidang-bidang yang lain seperti musik, seni lukis dan kaligrafi. Dipengaruhi oleh ayahnya, Cai Wenji sejak kecil sangat menyukai bidang sastra dan musik, dan telah memperoleh pencapaian yang tinggi dalam bidang-bidang tersebut. Ketika ayahnya memainkan Guqin, sejenis alat musik bertali tradisional Cina, Cai Wenji mengerti musik yang dimainkan oleh ayahnya.

Saat hidupnya, Cai Wenji telah mengalami banyak kesengsaraan. Ayahnya Cai Yong dianiaya dan difitnah sewaktu perjuangan politik yang terjadi dalam pemerintah. Cai Wenji mengikuti ayahnya dalam pengasingan selama 12 tahun. Ia menikah pada umur 16 tahun, tetapi malangnya suaminya meninggal tidak lama setelah itu. Pada waktu itu banyak terjadi peperangan antara berbagai negeri. Xiongnu, etnis nomad di sebelah utara selalu melampaui batas Dinasti Han Timur, Cai Wenji telah diculik oleh etnis Xiongnu dan akhirnya Cai Wenji telah menikah dengan Raja Xiongnu. Cai Wenji melahirkan dua orang anak putra dan juga telah mempelajari musik etnis Xiongnu.

12 tahun setelah itu, Cao Cao, sahabat Cai Yong telah dilantik sebagai Perdana Menteri Dinasti Han Timur. Ia juga merupakan seorang sastrawan. Ia sangat mengagumi kemampuan Cai Yong dalam bidang sastra, dan karena itu, Cao Cao telah membebaskan Cai Wenji dengan membayar sejumlah besar uang tebusan ke Xiongnu. Meskipun Cai Wenji kembali ke Dinasti Han Timur, namun 2 orang putranya yang masih kecil terpaksa ditinggalkannya bersama Raja Xiongnu. Cerita "Wenji kembali ke Dinasti Han" yang tersebar hingga sekarang sebenarnya disusun berdasarkan sejarah tersebut.

Perolehan utama sastra Cai Wenji yang disanjung tinggi oleh kaum sastrawan adalah "Divertimento 18 Lagu Hujia" dan "Puisi Sedih".

"Divertimento 18 lagu Hujia" merupakan divertimento yang terdiri dari 18 lagu. Apa yang disanjung tinggi oleh para sastrawan generasi berikutnya adalah lagu-lagu itu dinyanyikan dengan iringan Guqin, alat musik bertali tradisional dan Hujia, alat musik etnis Xiongnu. Meskipun Cai Wenji berasal dari keluarga pujangga terkenal, tetapi ia mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya. 2 orang putranya telah terpisah dengannya sejak masih kecil lagi dan tidak dapat bertemu dengan beliau sampai akhir hayat.

Ia telah mengekspresikan kerinduan yang mendalam terhadap anaknya, dan rasa kesedihan serta kepahitan hidup dalam "Divertimento 18 lagu Hujia" gubahannya. Pada zaman Dinasti Tang, yaitu 400 tahun setelah itu, seorang penyair terkenal telah menulis sajak yang menyanjung tinggi "Divertimento 18 lagu Hujia". Dalam sajak itu, divertimento yang digubah oleh Cai Wenji tidak hanya merawan hati utusan yang dikirim oleh pemerintah Dinasti Han Timur yang mengundang pulang Cai Wenji, bahkan juga turut meruntun perasaan orang Hu, yaitu etnis Xiongnu sampai bercucuran air mata.

Sementara itu, sastrawan zaman modern China yang terkenal Guo Moruo juga turut memberi penilaian yang tinggi terhadap "Divertimento 18 Lagu Hujia". Ia menyebut divertimento itu sebagai "gunung berapi yang meletus" dan "luahan dari lubuk hati". Sekarang "Divertimento 18 Lagu Hujia" tercantum sebagai salah satu antara 10 musik lagu kuno Cina yang paling terkenal.

"Puisi Sedih" yang digubah oleh Cai Wenji dianggap sebagai puisi naratif memoir panjang pertama dalam sejarah sastra China. Puisi itu telah menggambarkan kesengsaraan yang dialami oleh Cai Wenji dan juga sangat merawankan hati.

Cerita "Wenji kembali ke Dinasti Han" menjadi motif penggubahan literatur dalam sejarah China dan beberapa edisi presentasi Opera Peking, yakni opera yang paling terkenal di Cina telah disadurkan dari cerita itu. [Mei-Ing]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA