BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Tampilkan postingan dengan label Musik - Tarian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik - Tarian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

YANGQIN, ALAT MUSIK TRADISIONAL TIONGKOK

Yangqin adalah nama alat musik memiliki banyak senar, cara memainkannya dengan memukul dengan stik bambu sebagai pemukulnya yang berasal dari Cina. Mulanya bernama Yangqin karena di adaptasi dari Persia, sekarang Iran (huruf 'Yang' disini berarti asing). Sesuai perkembangannya huruf Yang berubah menjadi 'Yang' yang berarti diakui. Yangqin masuk ke Tiongkok pada masa Dinasti Ming lewat kota pesisir seperti Guangdong. Yangqin disebut juga Hudie Qin (Kupu-kupu) dan masih dimainkan sekarang di Shanghai dan grup musik Kanton. Yangqin dapat dimainkan secara solo atau bagian dari grup musik.

Pada perkembangannya sekarang, sering digunakan adalah tipe 401 dengan 4 lajur kepala senar dan terdiri dari 144 senar.

Pada pementasannya, Yangqin ditaruh di atas sebuah susunan seperti meja dengan 3 sisi yang menyangganya. Kemudian pemain akan memukul senar menggunakan pemukul dengan gerakan yang lebih lembut namun mirip seperti pemukul drum yang terbuat dari bambu. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Mina Lim, Balikpapan
Selanjutnya ->

Selasa, 31 Mei 2011

ERTHU, ALAT MUSIK TRADISIONAL TIONGKOK

Erhu merupakan alat musik tradisional Tiongkok yang paling populer disamping Guzheng dan Dizi. Secara umum, keluarga alat musik gesek ini dikenal juga dengan istilah huqin yang berarti "alat musik orang barbar", dinamakan demikian karena diperkenalkan oleh orang barbar yang berasal dari Asia Tengah.

Huqin telah berumur sekitar 500 tahun. Mulai populer pada zaman dinasti Sung (960-1279 AD), yang kemudian berlanjut ke zaman dinasti Ming (1368-1644) dan dinasti Qing (1644-1911) dimana dalam kurun waktu tersebut huqin telah berkembang menjadi bermacam-macam jenis, termasuk yang kita kenal sekarang sebagai erhu.

Pada mulanya, erhu menggunakan dua senar yang terbuat dari sutra, tetapi sekarang erhu menggunakan senar dari logam. Erhu biasanya menggunakan membran dari kulit ular piton, tetapi ada juga yang menggunakan bahan lain. Kotak suara dapat berbentuk segi enam, segi delapan, atau bulat. Kotak suara ini juga bervariasi ukurannya, semakin besar ukuran kotak suaranya maka bunyi bass yang dihasilkan semakin besar dan begitu pula sebaliknya.

Erhu digesek dengan busur yang terbuat dari bambu dan rambut ekor kuda, ekor kuda itu ditempatkkan di antara kedua senar sehingga memudahkan perpindahan menggesek antara kedua senar. Rambut ekor kuda tersebut digosok dengan damar (gondorukem) sehingga terasa kesat waktu digesek. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->

Jumat, 13 Mei 2011

TARIAN DUNHUANG DARI CHINA

Dunhuang adalah kumpulan tari dari tari tradisional Cina yang terinspirasi dari fresko (lukisan dinding) di daerah Dunhuang, provinsi Gansu, di Barat Cina. Tarian di Dunhuang ini banyak terpengaruh oleh agama Buddha. Tarian ini benar-benar mencerminkan kekayaan budaya Cina.

Beberapa tarian yang termasuk Tari Dunhuang adalah Dunhuang Meng, Fei Tian dan Tarian Seribu Tangan.

Dunhuang adalah situs yang memiliki ratusan patung dan fresko abad ke-4 sampai ke-14 masehi. Dunhuang adalah pintu yang menguhubungkan dunia barat dan Cina dan salah satu rangkaian kota Jalan Sutra. Dunhuang tidak dapat dipungkiri adalah hasil dari pertukaran budaya multi-etnik yang merupakan salah satu dari kekayaan Cina.

Dunhuang memuat banyak cerita Buddha serta sutra Buddhis. Pada tahun 1980an para penari Republik Rakyat Cina profesional meneliti beberapa fresko dan menghasilkan jenis tarian Jalan Sutra yang bernama Tari Dunhuang.

Tarian jenis identik dengan Buddha, peri, teratai dan dewi terbang. Berikut adalah beberapa jenis yang paling terkenal "Fei Tian", Dewi Terbang (Hanzi sederhana: 飞天; pinyin: Fei Tian) dalam bahasa Indonesia sendiri adalah salah satu tarian yang terkenal dari Dunhuang.

Sebenarnya gambaran dewi di Dunhuang adalah gambaran dewi dari India yang kemudian digabung dengan dewi terbang mitologi Cina "Yuren". Pada akhir abad 5, gambaran dewi itu memiliki wajah yang bulat, alis yang panjang dan mata sipit. Rambutnya disanggul ke atas dan menggunakan selendang panjang di pundak.

Dalam Tari Dunhuang, dewi-dewi itu terbagi menjadi dua macam. Salah satunya adalah Dewi musik dan tarian. Dewi ini bertanggung jawab dalam menyediakan musik dan tarian kepada Buddha. Jenis satunya adalah Dewi bunga yang bertanggung jawab menyediakan bunga untuk ritual Buddha.

Kedua jenis ini memiliki gerakan yang berbeda. Dewi musik dan tarian memiliki gerakan menari yang indah dan memainkan musik. Sedangkan Dewi Bunga memiliki gerakan menabur bunga yang indah.

Tari Dunhuang sendiri banyak berpusat pada dewi terbang sebagai patokan gerakan utama.

Selain dewi-dewi, Tari Dunhuang memiliki pengaruh Buddha yang kental. Pada tari Dunhuang Meng, penari menggambarkan tentang kemurnian, kerendahan hati, dan kepercayaan si pembuat fresko kepada dewa dan Buddha yang menyebabkan ia bermimpi akan kemegahan dewa dan Buddha.

Tarian ini pula kental menggambarkan kebaikan, wibawa, dan kemegahan Buddha yang penyayang. (*)

http://yinnihuaren.blogspot.com
Email dari: Andy Ng, Pekanbaru
Selanjutnya ->

Kamis, 05 Mei 2011

YANGGE, TARIAN TRADISIONAL CHINA

Yangge (Hanzi sederhana: 秧歌) adalah salah satu dari sekian banyak tarian tradisional Cina yang ditarikan oleh pemuda-pemudi di utara Cina. Dalam bahasa Indonesia Yang (秧) berarti semai, padi, tangkai muda, benih dan ge (歌) berarti lagu. Tarian meriah ini ditarikan untuk menyambut musim semi tepatnya pada hari pertama dan kelima belas Imlek.

Tarian ini menggunakan sapu tangan atau kipas untuk para wanita dan genderang untuk para pria tapi variasi peralatan seperti gabungan kipas dan selendang panjang atau peralatan lainnya. Untuk tarian ini semua penari biasanya menggunakan pakaian berwarna merah, hijau atau warna cerah lainnya. Ditarikan dengan perasaan gembira dan bersemangat, seperti karakter dari orang Shaanxi, daerah asal Yangge.

Tarian ini berasal dari dinasti Song. Pada awalnya ditarikan untuk pemujaan dewa atau mengusir roh jahat.

Pada zaman itu pada hari Imlek penari Yangge akan mendatangi rumah-rumah mengucapkan selamat tahun baru dan menarikan Yangge di halaman-halaman rumah, membuat suasana desa meriah oleh karena bunyi-bunyian lagunya. Penari Yangge pun dapat ditemani oleh Barongsai dalam kunjungannya itu

Pada akhir tahun 1940-an Yangge digunakan oleh Partai Komunis Cina untuk menggalang semangat rakyat. Tarian ini masih ditarikan sekarang. Kecuali untuk pertunjukkan-pertunjukkan, Yangge kebanyakan ditarikan oleh manula untuk tetap sehat di taman-taman lokal. Yangge adalah tarian dari daerah Cina bagian utara. Selain di kota asalnya, tarian ini banyak ditarikan di daerah Beijing dan sekitarnya.

Yangge adalah tarian gabungan antara nyanyian dan tarian. Teknik untuk menari Yangge sebenarnya sangat mudah. Dengan hanya tiga langkah cepat ke depan dan satu ke belakang mengikuti irama, seseorang sudah dapat menarikan tarian meriah ini. Dahulu tarian ini ditarikan oleh pria dan wanita menggunakan peralatan seperti pacul dan celurit. Seiring dengan adanya revolusi dari Partai Komunis Cina, mereka kerap mengganti peralatan dengan senjata perang. Pada akhirnya kebiasaan penggunaan peralatan pun berganti menjadi kipas, kipas panjang, sapu tangan, genderang atau alat lainnya.

Yangge pun ada beberapa jenis. Salah satunya adalah Caimenzi Yangge, dimana penari terbagi menjadi dua kubu masing-masing diketuai seorang penari yang memakai payung. Kedua kubu itu terbagi menjadi tim penjamu dan tamu yang pada saat bertemu di tengah-tengah akan saling bertanya jawab. Jika tim tamu benar maka tim penjamu akan mempersilahkan tim tamu masuk ke kota dan menjamunya.

Selain itu Yangge pun terbagi menjadi dua macam cara membawakan. Satu adalah dengan mulainya seorang penari yang turun ke festival jalanan dan diikuti siapa saja yang ingin menari dan biasanya diiringi Barongsai dan Tari Naga. Satunya untuk pertunjukkan dimana hanya empat atau delapan orang saja yang menari. Jenis kedua lebih sulit karena mengikuti koreografi dari koreografer dan mementingkan keindahan serta kekompakan.
--
http://yinnihuaren.blogspot.com
Email Upload by: Chen Mei Ing - Jakarta
Selanjutnya ->

Sabtu, 23 April 2011

HULUSHENG

Hulusheng yang sudah bersejarah sekitar 2500 tahun ini, merupakan sejenis alat musik tiupan klasik yang sangat populer dalam masyarakat etnis Yi di provinsi Yunnan, di Tiongkok barat daya.

Struktur Hulusheng hampir sama dengan Sheng, sejenis alat musik tradisional bangsa Han.
Sheng terbuat dari kayu, sedangkan Hulusheng terbuat dari labu air.

Bunyi yang dihasilkan oleh alat musik ini sangat lembut dan halus.

Ia selalu dimainkan untuk presentasi solo atau berkelompok, atau sebagai alat musik untuk mengiringi pertunjukan nyanyian dan tarian.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Minggu, 20 Maret 2011

OPERA PINGDIAOLAOZI DI PROVINSI HEBEI CHINA TERKENAL DI DUNIA

Pingdiaoluozi adalah nama umum untuk opera Pingdiao dan opera Laozi. Kedua opera ini sangat populer di bagian selatan dan utara provinsi Hebei serta bagian tenggara provinsi Shanxi.

Pingdiao, yang tergolong dalam opera Bangzi ini, dikatakan terbentuk pada pertengahan era Dinasti Qing berbasis opera Huai di provinsi Henan. Dalam proses perkembangannya, ia juga menerap fitur opera Yue.

Opera ini kebanyakan berkisar tentang cerita sejarah. Selain itu, ia juga mempersembahkan cerita rakyat dan cerita mitos.

Pingdiaoluozi adalah nama umum untuk opera Pingdiao dan opera Laozi. Kedua opera ini sangat populer di bagian selatan dan utara provinsi Hebei serta bagian tenggara provinsi Shanxi.

Laozi dibuat berbasis sejenis tarian dan nyanyian yang dipersembahkan oleh aktor yang memakai jangkungan pada akhir zaman Dinasti Qing. Pada mulanya, opera ini dipersembahkan dengan beberapa aktor yang menyanyi secara berseloka. Melalui evolusi, persembahan mulai demi efek solekan, dan wataknya juga mulai terbagi ke Sheng (karakter pria) dan Dan (karakter wanita). Setelah itu, barulah opera ini dipersembahkan di pentas.

Dengan gerak laku yang cepat dan lincah, opera ini menampilkan corak presentasi yang sehat dan sederhana.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Sabtu, 19 Maret 2011

OPERA PUJU DARI SHANXI CHINA, TERKENAL DI DUNIA

Opera Puju, yang juga dikenal sebagai "Bangzi dari Kabupaten Puzhou", atau dengan nama umumnya Luantan ("memetik rambang" atau "random pluck") ini, mendapat nama tersebut karena ia berasal dari kabupaten Puzhou (kota Yongji saat ini) di bagian selatan provinsi Shanxi China. Ia dikatakan terbentuk pada zaman pemerintahan Kaisar Jiajing dalam era Dinasti Ming (tahun 1522-1566).

Opera ini merupakan jenis opera Bangzi yang tertua antara empat jenis opera Bangzi yang paling cemerlang dari provinsi Shanxi. Dengan nada suara penyanyinya yang tinggi, lantang dan sederhana, opera ini lebih sesuai untuk mempersembahkan cerita sejarah tentang pahlawan-pahlawan yang penuh dengan semangat dan keberanian. Ia juga sesuai untuk menggambarkan sifat wataknya, serta meluahkan perasaan mereka.

Salah satu keistimewaan opera ini adalah, karakter-wataknya semua pandai membuat lagak ngeri.

Mekap muka merupakan seni solekan di muka aktor untuk menggambarkan sifat karakter. Mekap muka untuk opera Puju ini, baik cara melukisnya, maupun warna dan garisnya, semuanya agak sederhana, tetapi benar-benar tepat untuk menggambarkan sifat wataknya, dan latar belakang keluarga mereka dan pengalaman mereka yang penting.

Mekap muka opera Puju ini memiliki keistimewaan tersendiri. Muka merah merujuk pada karakter yang taat setia. Muka hitam menunjukkan karakter yang jujur ​​dan terus terang. Muka putih merujuk pada karakter yang licik dan jahat. Muka hijau menunjuk pada pahlawan yang gagah berani. Sedangkan muka berwarna keemasan pula merujuk pada dewa-dewi atau hantu.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

ALAT MUSIK KUMUZI

Kumuzi merupakan alat musik yang paling terkenal dalam masyarakat etnis Kirgiz yang kebanyakan mereka tinggal di bagian barat daya Daerah Otonom Uigur Xinjiang Tiongkok.

Ada satu pepatah di kalangan etnis Kirgiz yang menyebut, "Kumuzi akan menemani tuannya sepanjang umur".

Nenek moyang etnis Kirgiz pernah menghadiahkan alat musik kutipan ini kepada kaisar Dinasti Tang, kemudian ia terus diperkenalkan ke Jepang, Kashmir, Persia dan Arab.

Alat musik "​​Kumuzi" ini dianggap sebagai kontribusi etnis Kirgiz terhadap peradaban dunia.

Saat merayakan sesuatu pesta, etnis Kirgiz akan bermain "Kumuzi" sambil menyanyi dan menari. Suasananya sangat meriah.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Kamis, 10 Maret 2011

ALAT MUSIK LEYOU

Leyou, yang juga dikenal sebagai Lelang ini, adalah sejenis alat musik tiupan yang sangat populer dalam masyarakat etnis Buyi dan etnis Miao yang tinggal di provinsi Guizhou di Tiongkok barat daya.

Alat musik yang terbuat dari kayu ini, panjangnya sekitar 40-50 cm. Pada bagian tubuhnya ditebuk lima hingga enam buah lubang suara. Bunyi yang dihasilkannya jelas dan lembut, sangat merdu didengar.

Cara bermain alat musik ini hampir sama dengan Sona, sejenis alat musik tiupan klasik dalam masyarakat bangsa Han yang berasal dari area Persia dan Arab di zaman silam.

Alat musik ini sering dimainkan untuk mengungkapkan rasa cinta pada kekasih.

Diterjemahkan oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Sabtu, 05 Maret 2011

KUMUZI

Kumuzi merupakan alat musik yang paling terkenal dalam masyarakat etnis Kirgiz yang kebanyakan mereka tinggal di bagian barat daya Daerah Otonom Uigur Xinjiang Tiongkok.

Ada satu pepatah di kalangan etnis Kirgiz yang menyebut, "Kumuzi akan menemani tuannya sepanjang umur".

Nenek moyang etnis Kirgiz pernah menghadiahkan alat musik kutipan ini kepada kaisar Dinasti Tang, kemudian ia terus diperkenalkan ke Jepang, Kashmir, Persia dan Arab.

Alat musik "Kumuzi" ini dianggap sebagai kontribusi etnis Kirgiz terhadap peradaban dunia.

Saat merayakan sesuatu pesta, etnis Kirgiz akan bermain "Kumuzi" sambil menyanyi dan menari. Suasananya sangat meriah.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Senin, 28 Februari 2011

KONGHOU

Konghou, alat musik kutipan klasik Cina yang dibuat pada zaman Dinasti Tang, sekitar dua ribu tahun yang lalu, selalu dimainkan oleh band kerajaan, dan juga sangat digemari oleh rakyat.

Bentuk alat musik ini mirip hap, yaitu sejenis alat musik dari Barat. Kelainannya adalah, Konghou memiliki dua baris tali, dan setiap baris pula memiliki 36 UTAS tali pemetik.

Tali-tali ini didirikan di atas kotak resonans, dengan urutan yang menjadi terlihat seperti angsa yang terbang di langit. Oleh itu, alat musik ini juga disebut "Konghou Yan Zhu". Dalam bahasa Mandarin, "Yan" berarti angsa, dan "zhu" berarti tiang tali.

Dengan suara yang merdu, Konghou Yan Zhu tidak hanya dapat memutar irama musik klasik etnis dan musik etnis yang modern, malah juga sesuai untuk memutar musik hap.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Selasa, 15 Februari 2011

GU QIN, LEBIH DARI SEKEDAR KECAPI

Kecapi China kuno (guqin atau qin) lebih sekedar alat musik pertunjukan biasa. Ia memiliki sejarah panjang, kaya dan konotasi budaya mendalam. Kaum cendikiawan dan pemimpin zaman China kuno menganggapnya sebagai pertanda tingkat kultivasi seseorang, harmonisasi keluarga, kepemimpinan negara, dan stabilitas sosial. Ini merupakan simbol kehidupan intelektual.

Dalam Kitab Ritual tertulis, "Seorang intelektual tidak santai bagian dengan kecapinya atau Se (sebuah alat musik petik)." Konfusius juga mengatakan, "(Menjadi) berapi-api dalam puisi, jeli dalam tata cara, dan mahir dalam musik."

Kecapi memainkan aspirasi konsepsi artistik - menghargai makna mendalam daripada kesempurnaan teknis semata. Ini melampaui batas-batas musik, mewujudkan keharmonisan antara manusia dan alam, konsep kosmik hubungan antara Langit dan manusia, serta buah pikiran atas kehidupan dan moralitas.

Oleh karena itu kecapi menjadi alat untuk memupuk karakter moral seseorang, mendapatkan pencerahan atas kebenaran yang lebih tinggi, dan mendidik orang. Para cendikiawan berbicara tentang Kebajikan atau Tao dari kecapi itu.

Dalam Panduan Kecapi Cai Yong menulis: "Pada zaman kuno, Fuxi membuat kecapi untuk menahan diri agar tidak menyimpang dan untuk menjaga timbulnya nafsu, sehingga seseorang dapat memupuk moralnya secara rasional dan kembali ke jati diri yang asli."

Dalam Yueji, catatan musik kuno, tercatat: "Kebajikan adalah sifat alami yang paling lurus, dan musisi adalah kebajikan yang paling megah."

Kebajikan adalah bawaan sifat manusia, dan musik adalah sublimasi dari kebajikan. Musik dalam alam yang tinggi merupakan ekspresi Prinsip Surgawi. Ketika orang menikmati musik, secara moral mereka akan terinspirasi dan masuk ke tingkat filosofi yang lebih tinggi.

Pada zaman kuno, kecapi merupakan instrumen musik yang perlu dipelajari oleh seorang pria sejati untuk memupuk moralnya. Sang musisi saat memainkan musik harus dengan hati yang jernih dan pikiran lurus untuk mencapai keselarasan jiwa dan raga.

Dalam sejarah, banyak pemain kecapi terkenal adalah orang-orang yang berkarakter mulia, berbudi luhur dan tidak tamak. Mereka seringkali menampilkan martabat yang tinggi, dan memainkan kecapi dengan perasaan hormat dalam lingkungan yang sangat indah. Pikiran mereka tenang, memungkinkan mereka untuk mencapai keselarasan dengan alam dan mendapat pencerahan atas kebenaran yang lebih tinggi, seperti dijelaskan Jika dalam puisinya:

Mataku menatap angsa kembali, jari saya memetik lima senar.

Saya mengangkat dan menundukkan kepala dengan rasa senang.

Pikiranku terpisah, masuk dalam keheningan! 

Bahkan dalam lingkungan gaduh, seseorang dapat mempertahankan pikiran yang tenang, memainkan kecapi tanpa terpengaruh. Seperti yang dijelaskan Tao Yuanming (220-589 SM):

Membangun pondok beratap jerami di tengah-tengah lingkungan yang kacau,
Seolah-olah tidak ada kebisingan kendaraan atau suara kuda di dekatnya.

Bagaimana Anda bisa melewatinya?

Jika pikiran kita jauh, apapun tidak akan dapat mengganggu

Pikiran adalah yang utama dalam bermain kecapi. Pikiran yang murni akan menghasilkan musik yang murni. Pikiran yang makin jernih akan menghasilkan musik dengan makna yang lebih dalam, yang akan menyentuh hati para pendengarnya, mempengaruhi mereka, dan memungkinkan mereka untuk memahami dan meresapi pesan moral yang terkandung dalam musik, dan juga mempengaruhi penempatan serta keluasan pikiran dari pemainnya. Begitulah sifat seni.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

PIPA, INSTRUMEN SURGAWI

Apabila Anda bisa membayangkan sebuah dunia yang lebih tinggi, tempat di mana dewi-dewi surga hidup dengan bebas... mungkin Anda akan menemukan asal-usul Pipa (baca: biba), atau kecapi China.

Pipa diyakini menjadi instrumen yang digunakan oleh kehidupan surgawi untuk menunjukkan kejernihan dan kemurnian surga kepada manusia.

Pemikiran tradisional China mengenai "budaya yang terinspirasi surga" menyatakan bahwa peradaban China yang kaya ini diturunkan dari atas. Aksara Mandarin, obat-obatan, pertanian, sutra, dan alat musik semuanya dianggap merupakan inspirasi dari dewa-dewa berbeda.

Struktur fisik dari Pipa itu sendiri dikatakan memiliki hubungan Langit - Bumi, serta kemampuan untuk membawa pendengar ke alam yang lebih tinggi.

Buku Fengsu Tong dari Dinasti Han Timur yang menyatakan, "Pipa panjangnya tiga kaki lima inci, mewakili prinsip-prinsip langit, bumi, dan manusia, beserta lima unsurnya, sedangkan empat senar mewakili empat musim."

Nama Pipa sebenarnya mengandung dua karakter China, Pi (琵) dan Pa (琶). Keduanya merupakan teknik cara memetik China kuno. Pi adalah istilah untuk tangan kanan memainkan senar ke depan, dan Pa adalah memetik mundur. Sehingga istilah Pipa sering digunakan di China untuk menggambarkan berbagai teknik bermain senar.

Sebuah Pipa tunggal yang diposisikan di tengah pertunjukan Orkestra Shen Yun Performing Arts bagaikan sebuah gandar, menghubungkan dunia surgawi dan tarian tradisional di atas panggung dengan "bumi, langit, dan manusia."

Instrumen Pipa yang dimainkan pada pertunjukan Shen Yun, suaranya dapat membawa kita pada keindahan alam magis kuno.

Disalin oleh: Chen Mei Ing
Selanjutnya ->

Kamis, 10 Februari 2011

OPERA JIJU

Jiju adalah sejenis opera lokal di provinsi Jilin yang dibuat pada tahun 1950-an, berbasis seni Errenzhuan, yaitu sejenis seni rakyat dari bagian timur laut Cina yang bercorak seloka.

Karakter utama dalam opera ini terbagi atas lima jenis, yaitu Sheng (karakter pria), Dan (karakter wanita), Jing (karakter pria dengan muka yang berlukis), Mo (karakter pria pertengahan umur atau lebih tua) dan Chou (karakter jenaka).

Alat musik utama yang mengiringinya pula termasuk Banhu, Suona, Zhen dan Houguan (sejenis alat musik tiupan yang dibuat berdasarkan alat musik jenis pipa).

Dengan menyerap unsur-unsur seni opera Errenzhuan, termasuk cara menyanyi, solekan, tarian, dialog dan keterampilan unik (seperti petunjuk sapu tangan dan kipas), opera ini menampilkan corak presentasi yang cukup menarik. [Mei Ing]
Selanjutnya ->

GU ZHENG

Guzheng dianggap sebagai salah sebuah alat muzik petikan yang tertua di China. Ia dicipta berasaskan "Zhu", yaitu sejenis alat muzik pukulan pada zaman purba.

Alat muzik ini mempunyai sebuah kotak resonans yang berbentuk segi empat tepat yang leper. Di atas kotak resonans itu dipasang beberapa utas tali yang diregang dengan disokong oleh kayu penongkat (tiang kayu kecil).

Pada asalnya, ia hanya mempunyai 5 utas tali sahaja. Melalui evolusi, jumlah talinya bertambah banyak. Guzheng yang standard yang dimainkan sejak tahun 1970 hingga sekarang ini, mempunyai 21 utas tali.

Bunyi yang dihasilkan oleh Guzheng ini padat dan jelas, sangat merdu didengar. Ia sesuai dimainkan untuk menggambarkan suasana yang tenang dan indah, atau untuk meluahkan perasaan yang seni.

Cara Memainkannya:

Guzheng ini dimainkan dengan cara dipetik. Untuk memetik talinya, alat bantu berupa kuku palsu yang diperbuat daripada tempurung kura-kura atau plastik perlu dipakai pada jari pemainnya.

Ketika membuat persembahan, jari kanan akan memetik tali untuk menghasilkan melodi, dan jari kiri menekan tali untuk mengawal melodi. [Mei Ing]
Selanjutnya ->

NIU JIAO QIN

Niujiaoqin adalah sejenis alat musik bertali yang sangat populer dalam masyarakt etnis Tibet yang tinggal di Kabupaten Maqu di bagian selatan provinsi Gansu.

Alat musik ini mendapat nama tersebut karena pada awalnya, ia terbuat dari tanduk sapi liar. Melalui evolusi, kini, bentuknya telah banyak berubah. Biasanya ia terbuat dari kayu.

Struktur Niujiaoqin sangat singkat. Dudukannya, panjangnya sekitar 70 setimeter, dan diinstal dengan beberapa UTAS tali yang terbuat dari bulu ekor kuda.

Kotak resonansnya yang panjangnya 15 cm dan lebarnya 13.5 cm, ditutup dengan kulit sapi. Pada kotak resonans ini pula ditebuk dua lubang yang kecil secara simetri untuk membesarkan suara.

Bunyi yang dihasilkan oleh alat musik ini lembut dan halus, sangat merdu didengar. Ia biasanya dimainkan untuk presentasi solo. [Mei Ing]
Selanjutnya ->

Minggu, 30 Januari 2011

TIAN QIN

Tianqin, yang juga dikenali sebagai Qin Harian atau Bing Ting ini, merupakan alat musik petikan tradisional yang amat popular dalam masyarakat etnis Zhuang, yang kebanyakan mereka tinggal di kaunti Longzhou, bandar Chongzuo, Wilayah Autonomi Zhuang Guangxi, di bahagian barat daya China. Alat musik ini sudah mempunyai sejarah lebih seribu tahun.

Tianqin terdiri daripada tiga bagian, yaitu kepala, pemegang dan badan. Bahagian badannya ialah sebuah kotak resonans yang berbentuk separuh bulatan. Ia diperbuat daripada labu, dan ditutup dengan papan kayu pohon parasol. Pemegangnya pula diperbuat daripada bahan kayu biasa, dan dipasang dengan dua utas tali.

Tianqin biasanya dimainkan untuk persembahan solo atau berkumpulan, ataupun dimainkan sebagai iringan musik dalam persembahan tarian.

Disalin oleh: Mei-Ing
Selanjutnya ->

Jumat, 28 Januari 2011

OPERA 'BEI KUN'

Opera Beikun yang mempunyai sejarah lebih seratus tahun ini, merupakan cabang Opera Kun Beijing.

Pada pertengahan zaman Dinasti Qing, opera Kun menjadi semakin merosot di Beijing. Sebilangan pelakonnya yang kehilangan puncak rezeki, terpaksa berkelana ke provinsi Hebei, dan menyertai kumpulan Gaoqiang (pic tinggi) di sana. Lama-kelamaan, lahirlah Opera Kun yang mempunyai ciri-ciri masyarakat di bagian utara China. Opera itulah yang digelar "Opera Beikun".

Nyanyian dan dialog Opera Beikun ini biasanya menggunakan dialek di bagian utara. Dengan menerapkan ciri-ciri persembahan Gaoqiang, opera ini menampilkan corak persembahan yang berani dan agak kasar.

Bagaimanapun, pada tahun 1930-an, kedudukan Opera Beikun ini mulai goyah disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, hingga memaksa ramai pelakonnya beralih untuk melakonkan Opera Peking pula.

Selepas Republik Rakyat China diberdiri pada tahun 1949, banyak usaha telah dilakukan untuk menyelamatkan opera ini. Hasil daripada usaha tersebut, Panggung Opera Beikun telah ditubuhkan pada tahun 1957. Banyak karya baru yang amat disukai oleh masyarakat telah dihasilkan.

Disalin oleh: Mei-ing
Selanjutnya ->

LIU LI

Liuli atau dikenali glis ialah sejenis kristal buatan manusia di China. Kononnya liuli ini dikeluarkan pada tahun 493 sebelum Masehi ketika Fan Li bertugas menempa keris untuk Raja Yue.

Fan Li berpendapat bahan ini ialah inti sari dari langit dan bumi dan menyumbangkannya kepada raja. Raja menyanjung tinggi jasa Fan Li dan menganugerahkan bahan yang istimewa ini kepadanya dan menamakan bahan ini "li".

Fan Li mencari tukang yang mahir untuk membuat li ini menjadi sebuah barang kemas dan menghantarnya kepada kekasihnya, Xi Shi.

Tidak lama kemudian, negeri Yue dikuasai oleh negeri Wu, Xi Shi terpaksa di antar ke negeri Wu untuk berkawin dengan Raja Wu.

Ketika berpisah, Xi Shi mengantar balik li kepada Fan Li, sebutir air matanya jatuh pada li. Kononnya, sampai sekarang kami masih dapat lihat ada sebutir air mata beralir dalam li. Li ini juga dipanggil liuli oleh orang ramai.

Disalin oleh: Mei-ing
Selanjutnya ->

GU QIN


Guqin, alat musik bertali tujuh yang dicipta pada zaman Dinasti Zhou, yaitu lebih 3 ribu tahun yang lalu ini, bentuknya cantik dan iramanya lantang. Guqin ada berbagai jenis.

Pada zaman silam, sebelum memainkan alat musik ini, pemainnya dikatakan mesti mandi dan bertukar pakaian. Kemudian ia akan membakar dupa dan duduk di atas kursi, lalu meletakkan Guqin di meja untuk dimainkan. Pemain musik ini memetik Quqin dengan tangan kiri, dan tangan kanan memilih tanda bunyi.

Guqin selalunya digunakan dalam permainan solo atau sebagai musik iringan.

Disalin oleh: Mei-ing
Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA