BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Kamis, 07 April 2011

JEMBATAN DELAPAN DEWA

Dahulu kota Xiangthan tidak semewah sekarang, Yuhu dikelilingi pengunungan tinggi. Di sebelah barat Yuhu ada sebuah pengunungan yang bernama gunung panjang umur, kenapa dinamakan gunung panjang umur? Karena diatas gunung tinggal seorang kakek marga Zheng yang sudah sangat tua. Rambut dan jenggotnya semua sudah putih, tetapi badannya masih sangat sehat, tidak ada benar-benar mengetahui umur kakek ini, ada yang mengatakan dia sudah berumur lebih dari 140 tahun, ada yang mengatakan bahkan lebih tua dari itu.

Dia sendirian tinggal diatas gunung, mendirikan sebuah gubuk, setiap hari dia pergi mencari kayu bakar, berburu, bercocok tanam semuanya dapat dilakukannya, sayuran yang ditanamnya sangat subur. Setiap dia pergi berburu pasti mendapat binatang buruan, sehingga persediaan pangannya tidak habis dimakan sendiri. Tetapi dia sendiri sangat hemat, sisa makanannya akan dibagi kepada fakir miskin. Setiap ada yang datang kerumahnya meminta bantuannya, seperti tetangga, teman, waluapun kenal atau tidak, dia akan sebisa mungkin membantu mereka. Terkadang karena membantu orang lain, dia sendiri tidak ada makanan lagi, maka dia akan pergi kehutan mengambil sayuran dan buah-buah hutan untuk dimakan.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama, dia sedang menganyam sepatu jerami. Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, dijalan dia melilhat ada 8 orang sedang menuju kearahnya, diantara mereka ada seorang wanita, orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek yang berjenggot putih, ditangannya memegang sebuah pancing, dia menyapa kakek Zheng, “Sobat tua, kami kebetulan lewat daerah ini, bolehkah kami masuk kerumahmu beristirahat sebentar melepaskan lelah?”

Kakek Zheng dengan gembira menjawab, “ Dengan senang hati, tetapi gubuk saya terlalu kecil, saya takut tidak muat untuk kalian semua.” Kakek jenggot putih menjawab, “Tidak masalah, kami berdesakan sedikit pasti muat.”Setelah berkata demikian 8 orang ini masuk kedalam rumah, sungguh heran gubuk kecil ini yang biasanya hanya ada 3 orang saja sudah kelihatan sangat sempit, tetapi ketika 8 orang ini masuk dan duduk didalam gubuk kelihatan masih lapang, kakek Zheng merasa heran. Pada saat ini seseorang yang bajunya compang camping, wajahnya hitam, memegang tongkat karena kakinya pincang sedang berkata, “Sobat tua, kami sudah lapar, apakah ada makanan yang bisa engkau sediakan untuk kami?” Kakek Zheng segera berkata, ‘”Ada!Ada! kelihatannya kalian semua datang dari tempat yang jauh, sudah lapar dan capek, kebetulan hari ini ketika saya berburu mendapat seekor kelinci, akan saya hidangkan untuk kalian.” Setelah berkata demikian kakek Zheng pergi kelemari mengeluarkan seguci arak, dan sepiring daging kelinci yang sudah dimasak dengan harum, meletakkannya diatas meja kecil yang terbuat dari bambu.

Seorang pelajar yang tangannya memegang suling berkata, “Suasana malam ini adalah malam purnama yang sangat indah, kenapa kita tidak membawa makanan ini ke tepi danau dan menikmatinya disana?” Seseorang yang wajahnya brewok bertepuk tangan menyetujui saran itu, dan yang lain semua setuju, akhirnya mereka ada yang mengangkat guci arak, ada yang mengambil piring daging kelinci, ada yang mengangkat meja kecil menuju ketepi danau, masing-masing memilih sebuah batu granit lalu duduk diatasnya, mulai menyantapi makanan dan meminum arak, sepanjang malam kakek Zheng sibuk melayani mereka, sebentar menyeduh teh, sebentar naik ke atas gunung mencari buah-buahan hutan untuk mereka, keadaan tersebut berlaku sampai subuh, kemudian salah seorang dari mereka yang memakai baju dengan keadaan dada dan perut gendutnya terbuka berkata, “Sobat tua, engkau juga sudah capek, sekarang bagaimana kami dapat membalas budimu, apapun permintaanmu pasti akan kami kabulkan.” Kakek Zheng sambil menggelengkan kepalanya berkata, “Saya tidak mempunyai permintaan, apapun saya tidak ingin?” Orang brewok ini berkata lagi, “Gubukmu sangat kecil, apakah engkau tidak ingin sebuah istana yang besar?” Sambil tersenyum kakek Zheng menjawab,”Bumi ini demikian luas, gubuk kecil ini sudah cukup untuk tempat saya berteduh.” Seorang pendeta Toa yang membawa pedang bertanya lagi, “Sobat tua, kehidupan mewah apa saja yang ada didunia ini terserah engkau pilih.”

Kakek Zheng berkata” Saya memandang kemewahan dunia ini seperti sebuah tali, saya tidak ingin kaki tangan saya terikat oleh tali ini, sedangkan nyawa, setiap orang akan mengalami tua dan mati, ini semua adalah hal biasa yang tidak dapat dihindari.”

Mendengar perkataan kakek Zheng, wanita cantik ini berkata, “Wah! Kehidupan mewah dan panjang umur engkau juga tidak menginginkannya, apakah engkau ingin menjadi dewa!”

Kakek Zheng berkata, “Setiap hari saya hidup dengan gembira dan bahagia sudah seperti dewa, walaupun langit runtuh saya tidak peduli, sejak lama sudah seperti dewa ditengah kehidupan manusia ini.”

Setelah didesak oleh mereka semua, setelah berpikir sejenak kakek Zheng berkata, “kalian semua mendesak saya, baiklah saya akan mengajukan sebuah permintaan. Danau Yuhu sangat besar berjalan dari tepi danau timur ke barat memakan waktu setengah hari, sangat tidak praktis, jika kalian dapat membangun sebuah jembatan, maka akan sangat berguna untuk masyarata ditempat ini.”

Orang yang berwajah brewok berkata, “ Oh itu adalah hal yang gampang! Kami akan mengabulkan permintaanmu!”

8 orang ini keluar dari gubuk kakek Zheng, sedangkan kakek Zheng tidak mengikuti mereka keluar, dia sedang memasak air menyeduh teh untuk mereka. Setelah air mendidih dan teh sudah siap diseduh, dia membawa teh tersebut keluar untuk mereka, dia melihat sebuah jembatan yang panjang diatas danau Yuhu, 8 orang tersebut sedang berjalan diatas jembatan menuju kearah lain, kakek Zheng mengejar dibelakang mereka sambil berteriak, tiba-tiba dia melihat ada 8 gumpalan awan, 8 orang tersebut sambil melambaikan tangannya, naik keatas gumpalan awan terbang melayang pergi.

Kakek Zheng kembali keatas jembatan dengan teliti dia memeriksa keadaan jembatan, jembatan ini terbuat dari 8 keping batu granit, keadaan sangat rapi, kuat dan jembatan ini sangat lebar.

Keesokan harinya, masyarakat didaerah ini melihat jembatan ini, mereka semua sangat gembira. Sesuai dengan penuturan kakek Zheng mereka semua menerka pasti semua ini adalah perbuatan 8 dewa langit yang turun kebumi membantu mereka. Akhirnya mereka sepakat menamakan jembatan ini menjadi jembatan 8 dewa. [Chen Mei Ing]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA