BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Sabtu, 02 Februari 2013

8 FESTIVAL PENTING DALAM TRADISI TIONGHOA

Hari Raya atau Festival merupakan bagian dari suatu kebudayaan, terbentuk mulai dari ribuan tahun hingga kini. Hari Raya atau Festival dalam tradisi Tionghoa kebanyakan berasal dari astronomi, kalender dan Matematika serta adanya pengaruh karakter sejarah didalamnya. Berikut ini merupakan 8 (delapan) Hari Raya maupun Festival Penting dalam Tradisi Tionghoa yang masih dirayakan sampai saat ini berdasarkan urutan bulannya dalam setahun. 

Festival Tahun Baru Imlek  (“Chun Jie[春节]”)

Tahun Baru Imlek atau juga disebut dengan Istilah Festival Musim Semi (“Chun Jie []”) merupakan hari raya yang berkaitan dengan pergantian musim dari Musim Dingin ke Musim Semi. Karena Musim Semi dihitung sebagai Musim Pertama dari Empat musim yang ada (4 Musim = Musim Semi, Musim Panas, Musim Gugur dan Musim Dingin) maka berdasarkan penanggalan Imlek, Hari pertama Mulainya Musim Semi merupakan hari pertama daripada Satu Tahun. Oleh karena itu, Festival Musim Semi juga dikenal sebagai Tahun Baru Imlek yang dirayakan oleh Masyarakat Tionghoa hingga kini.

Festival Yuan Xiao (“Yuan Xiao Jie[圆宵节]”)

Hari Raya Yuan Xiao jatuh pada tanggal 15 bulan Pertama penanggalan Imlek yang adalah bulan Purnama pertama pada Tahun Baru yang juga merupakan hari terakhir dari Perayaan Tahun Baru Imlek. Pada hari ke-16 Bulan pertama Imlek, semua kegiatan dan aktifitas sehari-hari sudah berjalan seperti biasanya. Di Indonesia, perayaan Hari Raya Yuan Xiao juga sering disebut dengan istilah “Cap Go Meh” yang artinya Malam hari ke-15.

Festival Qing Ming (“Qing Ming Jie[清明节]”)

Hari Raya Qing Ming atau juga dikenal dengan istilah “Ceng Beng” dalam dialek Hokkian adalah hari dimana masyarakat Tionghoa melakukan sembahyang dan ziarah ke tempat pemakaman para leluhurnya. Kegiatan yang sering dilakukan pada hari Qing Ming adalah melakukan pembersihan kuburan dan melakukan penghormatan kepada leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia.

Festival Duan Wu (“Duan Wu Jie[端午节]”)

Festival Duan Wu biasanya dirayakan dengan mengadakan perlombaan Perahu Naga dan Makan Bak Cang. Tujuan dari Festival Duan Wu ini adalah untuk memperingati seorang Patriot yang bernama “Qu Yuan” dari Negeri Chu di daratan China yang meninggal dunia akibat bunuh diri karena cemas akan masa depan negerinya. Festival Duan Wu jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Festival Qi Xi (“Qi Xi Jie [七夕节]“)

Festival Qi Xi merupakan festival yang omantic dalam tradisi dan kebudayaan Tionghoa. Festival Qi Xi ini memperingati kisah romantic  antara Pria Pengembara Kerbau “Niu Lang” dan Wanita Penenun “Zhi Nv” yang menurut ceritanya hanya setahun sekali pertemuan. Festival Qi Xi juga sering dijuluki Hari Valentine-nya Orang Tionghoa. Istilah lain untuk Festival Qi Xi  antara lain Ji Qiao Jie dan Nv Er Jie.  Festival Qi Xi jatuh pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek.

Festival Mid Autumn (“Zhong Qiu Jie[中秋节]”)

Festival Mid Autumn merupakan salah satu festival tradisi Tionghoa yang paling banyak dan ramai dirayakan oleh Masyarakat Tionghoa. Kata Zhong Qiu jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah Pertengahan Musim Gugur. Bentuk bulan Purnama pada malam Zhong Qiu akan kelihatannya lebih besar dan lebih terang daripada bulan-bulan lainnya. Bentuk perayaan Festival Zhong Qiu adalah makan kue bulan, pesta lentera dan berkumpul bersama keluarga untuk menikmati pemandangan bulan yang indah. Festival Zhong Qiu jatuh pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.

Festival Chong Yang (“Chong Yang Jie[重阳节]”)

Festival Chong Yang Jatuh pada tanggal 9 bulan 9 penanggalan Imlek, Kata “Chong Yang” artinya nomor “Yang” yang double (2 kali), menurut “I Ching” (Kitab kuno China) angka 9 memiliki  sifat “Yang”. 9 (Sembilan) juga merupakan angka tertinggi dari angka-angka lainnya dan mempunyai bunyi yang sama dengan “Jiu Jiu” yang artinya lama-lama. Jadi sering diartikan sebagai panjang umur. Festival Chong Yang banyak dirayakan di Hongkong dan Daratan China. Sedangkan bagi Masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara, Festival Chong Yang jarang dirayakan.

Festival Tong Zhi (“Tong Zhi Jie [冬至节]”)

Festival Tong Zhi merupakan salah satu Festival yang terpenting dalam tradisi Tionghoa. Di Bagian Utara belahan bumi ini, Siang hari di  Tong Zhi merupakan siang hari yang terpendek sepanjang tahun dan malam hari pada hari Tong Zhi adalah malam yang paling panjang dalam satu tahun. Karena kondisi hari yang begitu spesial maka Masyarakat Tionghoa pada saat itu menggangap kondisi ini adalah pemberian Tuhan yang sempurna. Makanan Tradisi yang harus dipersiapkan untuk merayakan Festival Tong Zhi adalah “Tang Yuan” yaitu sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras ketan kemudian dibentuk bulat kecil. Hal ini ini memiliki arti Reuni (“Tuan Yuan [团圆]”) atau penuh/sempurna (“Yuan Man [圆满]”). Ada versi yang mengatakan bahwa umur akan bertambah satu tahun setelah makan Tang Yuan. [Denny Wong / Surabaya]

--
Berita | Internasional | Budaya | Kehidupan | Kesehatan | Iptek | Kisah | Kontak

BACA DIBAWAH INI

Di bagian bawah artikel ini kedepan akan ditampikan iklan-iklan baris Maksimal 100 huruf dengan tarif Rp.5.000,- per artikel (Min.100 artikel) dan bagi yang berminat bisa kontak email: tionghoanews@yahoo.co.id

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA