BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Sabtu, 19 Mei 2012

HIKAYAT CERDIK TIONGKOK KUNO (2): UKIRAN MONYET, UKURAN MIKRO

Pada zaman Chun Qiu Zhan Guo (Periode Musim Semi – Musim Gugur, tahun 770-476 SM), raja Yan sangat menggandrungi hasil karya seni yang canggih, suatu hari ada seorang tamu dari negara Wei, yang menyatakan ia memiliki keahlian mengukir seekor monyet (rhesusmonkey; macaque) pada ujung duri yang runcing.

Mendengar hal itu raja Yan merasa sangat gembira dan memberinya aneka hadiah serta fasilitas inap, agar si tamu tersebut bisa berkarya dengan tenang.

Setelah waktu berlalu sekian lama, raja Yan meminta menunjukkan monyet hasil ukirannya. Tamu tersebut menjawab, "Apabila seseorang hendak melihat monyet ukiran, selama jangka waktu setengah tahun diharuskan berpuasa seks, alkohol dan daging. Setelah itu pilih saat setelah hujan reda dan matahari keluar, cari tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung, baru bisa melihat monyet ukiran tersebut."

Ia mengira raja Yan tentu tidak akan tahan (dengan puasa itu), tak dinyana, untuk dapat menikmati wujud ukiran berukuran mikro, ternyata raja Yan mematuhi persyaratan tersebut. Namun, ketika raja Yan memegang dan meneliti duri tersebut tidak terlihat apa-apa, apakah yang terjadi?

Waktu itu ada seorang pandai besi memberitahu sang raja, "Mengukir benda apapun, pisau ukir yang dipergunakan harus lebih kecil daripada benda yang akan diukir."

"Saya seorang pembuat pisau ukir, tetapi untuk membuat pisau ukir yang sedemikian kecilnya, sesungguhnya ini adalah omong kosong. Bila tidak percaya silakan baginda raja memanggil si tamu untuk mengeluarkan pisau ukirnya untuk dilihat dan diuji apakah bisa mengukir sesuatu dari ujung duri runcing?"

Maka raja Yan lalu memanggil sang tamu dan ia bertanya, "Kamu menggunakan alat apa untuk mengukir monyet?"

Si tamu menjawab, "Saya menggunakan pisau ukir." Maka raja Yan meminta tamu tersebut mengeluarkan pisau ukir yang dimaksud untuk ia periksa, si tamu berkilah bahwa ia tidak membawa pisau tesebut, harus pulang mengambilnya, yang terjadi selanjutnya tamu tersebut melarikan diri.

Akhirnya raja Yan mengetahui tamunya itu telah memperdayainya, ia telah menipu atas makan dan minum gratis di tempatnya. Menggemari sesuatu hendaknya jangan membabi buta. Mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang, maka akan dapat memperkecil risiko. [Natalia Lim / Cirebon]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA