BUDAYA | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Kamis, 21 April 2011

LEGENDA LIMA BUAH GUNUNG DEWA

Konon, setelah Dewi Nu Wa menciptakan manusia, manusia hidup dengan aman dan sentosa. Namun, tiba-tiba, pada suatu hari, langit dan bumi berlanggaran, lalu muncullah satu rekahan yang besar di langit. Bumi turut merekah dan runtuh. Api keluar dari bawah tanah, dan menghancurkan hutan. Banjir besar pula terjadi di merata-rata tempat sehingga menenggelamkan gunung di bumi. Hantu dan binatang liar berkeliaran. Kondisi ini mendatangkan kesengsaraan kepada seluruh umat manusia.

Ketika melihat manusia hidup begitu sengsara, dewi Nu Wa pun membantu mereka membunuh hantu dan binatang liar yang jahat, menangani bencana alam, dan kemudian, melaksanakan proyek besar, yaitu menempelkan rekahan di langit.

Mengumpulkan banyak kayu dari dimana-mana, dan mengangkutnya ke tempat yang ada rekahan itu. Kayu tersebut ditimbunkannya sehingga setinggi langit. Kemudian, dia pergi mencari batu berwarna biru yang warnanya mirip warna langit. Karena batu jenis ini jarang ditemui, dia terpaksa memungut sejumlah batu lain yang berwarna putih, kuning, merah dan hitam, lalu meletakkan semuanya di atas tumpukan kayu tadi.

Dengan menggunakan api yang keluar dari bawah tanah itu, Dewi Nu Wa menyalakan kayu tersebut. Api yang menyala itu telah menerangi udara. Batu berwarna-warni yang hangus terbakar menjadi lebur, bagaikan air sirup mengalir ke dalam rekahan di langit itu. Dengan yang demikian, rekahan yang besar itu berhasil ditempel.

Walaupun langit dan bumi yang rusak itu telah diperbaiki, namun, bentuk aslinya tidak mungkin dipulihkan lagi. Langit di sebelah barat laut terlihat agak senget. Oleh itu, matahari dan bulan bergerak ke arah itu. Ada pula sebuah lubang yang agak besar di bumi, di sebelah tenggara, menyebabkan air sungai mengalir ke arah itu. Lama-kelamaan, tempat itu pun menjadi laut.

Di sebelah timur Laut Bohai, terdapat sebuah lembah yang sangat dalam. Namanya "Gui Xu". Air dari sungai atau laut mengalir ke lurah itu. Namun, air dalam lurah itu tidak bertambah dan juga tidak berkurang. Oleh itu, ia tidak akan melimpah dan menenggelami bumi.

Ada 5 buah gunung dewa yang tinggi di dalam lurah "Gui Xu" ini, yaitu "Dai Yu", "Yuan Qiao", "Fang Hu", "Ying Zhou" dan "Peng Lai". Di puncak setiap gunung, telah terbina istana yang berkilau keemasan, yang dihuni oleh dewa-dewi.

Di gunung dewa tersebut, semua burung dan hewan liar berwarna putih. Di sana, juga banyak pohon yang aneh tumbuh. Buah-buahan yang dihasilkan oleh pohon tersebut berupa batu giok dan mutiara, yang rasanya sangat enak. Manusia biasa dikatakan bisa panjang umur jika makan buah itu. Dewa dewi yang menghuni gunung tersebut, semuanya memakai baju yang putih, dan memiliki dua sayap yang kecil. Mereka yang berterbangan bagaikan burung, berulang alik antara kelima buah gunung tersebut untuk menziarahi sanak saudara dan sahabat handai, hidup dengan aman dan gembira.

Namun, dewa dewi juga memiliki kerisauan. Karena kelima buah gunung dewa tersebut terapung-apung di atas laut, jika dilanda angin kencang, gunung tersebut akan hanyut dibawa oleh arus laut yang deras. Kondisi ini memang sangat menyusahkan. Jadi, mereka mengirim wakil ke kayangan untuk meminta bantuan dari kaisar. Kaisar di kayangan juga khawatir jika gunung dewa tersebut hanyut ke tempat yang lain, anak buahnya akan kehilangan tempat tinggal. Oleh itu, beliau memerintahkan dewa laut, yaitu "Yu Qiang" agar mengirim 15 ekor kura-kura yang besar untuk mendukung 5 buah gunung dewa tersebut. Setiap gunung itu digendong oleh seekor kura-kura, dan dua ekor lainnya berpatroli di sebelah kiri dan kanan. Mereka bergilir 60 ribu tahun sekali. Dengan yang demikian, situs kelima buah gunung dewa tersebut menjadi kuat, dan dewa dewi terus tinggal di sana dengan gembira.

Tiba-tiba, pada suatu hari, seorang raksasa dari Negeri Long Bo datang memancing ikan di Lurah Gui Xu. Raksasa itu sangat besar, tubuhnya setinggi gunung. Dia telah memancing 6 ekor kura-kura yang besar dari dasar laut itu. Kebetulan, keenam ekor kura-kura itu adalah kura-kura yang bertugas mendukung gunung dewa. Raksasa itu membawa kura-kura yang dipancingnya pulang ke kampung. Dua buah gunung dewa yang kehilangan kura-kura pendukungnya, yaitu "Dai Yu" dan "Yuan Qiao" telah hanyut dibawa air dan angin kencang ke kutub utara, lalu tenggelam dalam laut. Dewa dewi yang tinggal di kedua gunung itu terpaksa meninggalkan istana mereka.

Bila mengetahui hal itu, kaisar di kayangan naik berang dan mengecilkan tubuh raksasa di Negeri Long Bo itu. Hingga sekarang, menurut ceritanya, ketiga buah gunung dewa yang lain yang terus digendong oleh kura-kura tersebut, masih tersergam megah di area perairan di sebelah timur Tiongkok. [Chen Mei Ing]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA